Perspektif Haidir #26: Muslim di Australia, Antara Diskriminasi dan Kebebasan Beribadah

0
262
Dokumentasi penulis

 

Oleh: Haidir Fitra Siagian *)

KLIKMU.CO

Setiap negara yang ada di dunia ini memiliki beragam dinamika kehidupan beragama. Dinamika terjadi, baik di negara yang berdasarkan agama, negara yang mengakui keberadaan agama-agama, maupun negara yang sama sekali tidak mencampuri urusan beragama atau biasa disebut sebagai negara sekuler. Dinamika yang terjadi antara lain adalah terkait dengan perlakuan ketidakadilan atau membeda-bedakan antara satu dengan yang lain atas faktor tertentu, misalnya karena perbedaan agama. Ini biasa disebut sebagai diskiriminasi atau perlakuan yang diskriminatif.

Perlakuan diskiriminatif dapat terjadi di mana saja dan atas berbagai faktor. Selain karena sering dikatakan sebagai perbedaan agama, diskriminasi juga terjadi karena adanya perbedaan suku, golongan, marga, letak geografis, latar belakang budaya, warna kulit, dan sebagainya. Di kampung saya, Sipirok, Tapanuli Selatan, kadang kala diskriminasi terjadi karena perbedaan marga, padahal satu desa, satu agama, satu bahasa, dan lain-lain.  Hanya karena marganya yang berbeda. Tentu hal ini bukanlah sesuatu yang dapat diterima dengan rasional, bahkan tidak ditemukan adanya agama dan budaya masyarakat kita yang menganjurkan perlakuan yang demikian. Justru dalam kehidupan sosial, bermasyarakat dan menata kehidupan global, yang harus dikembangkan adalah adanya keadilan dan persamaan hak.

Bagaimana dengan Australia? Meskipun Australia adalah negara sekuler (Nurdin, 2009), negara yang tidak mendasarkan kepada agama dan tidak mencampuri urusan beragama, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari terdapat pula dinamika terkait dengan hal ini. Beberapa waktu lalu, terjadi tindakan negatif yang menimpa seorang muslimah ketika berada di salah satu warung. Muslimah tersebut dipukul oleh seorang lelaki warga lokal. Peristiwa ini sempat menyita perhatian internasional, khususnya umat Islam, mengingat yang menjadi korban adalah seorang wanita yang mengenakan busana hijab. Karena terkait dengan tindakan kriminal, pelaku sudah ditangkap dan dihukum. Tidak ada keringanan baginya. Bahkan pengadilan menolak uang jaminan untuk membebaskannya. Pelaku justru harus ditahan.

Atas berbagai informasi yang berkembang melalui media massa dan media sosial lainnya, ada pertanyaan kepada saya. Bagaimana perlakuan Australia terhadap umat Islam di negara ini, apakah benar ada intimidasi ataupun diskriminasi? Pertanyaan ini disampaikan beberapa waktu yang lalu (14/01/2020) oleh seorang sahabat saya. Beliau adalah dosen Program Pascasarjana dan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. Pertanyaan itu disampaikan melalui pesan media sosial, langsung ditujukan kepada saya.

Mengingat selama hampir delapan bulan saya berada di Australia, secara langsung belum pernah merasa diperlakukan secara diskriminatif ataupun mendapat intimidasi dari warga lokal di sini. Justru selama ini saya mendapatkan perlakuan yang sangat baik dan sopan. Setiap saat kita bertemu dengan warga lokal, saling menegur “hai” atau “hello”, atau mengucapkan “thanks” atas bantuan yang diberikan.

Satu peristiwa ketika kami berada di sebuah pusat perbelanjaan di lantai tiga. Saya dan keluarga agak bingung mencari jalan keluar ke tempat parkir mobil. Maklum baru kali pertama ke situ. Tiba-tiba seorang ibu yang sudah setengah tua bertanya, mengapa kalian kelihatan bingung? Nyonyaku menjawab, kami tak paham jalan keluar menuju tempat parkir. Lalu si ibu ini menunjukkan jalan ke arah parkir dan mengantar kami sampai ke pintu lift. Pernah juga putriku kesulitan memasang jaketnya, seorang warga lokal justru datang membantu membetulkan jaketnya. Demikian pula dalam menjalankan ibadah. Tidak ada halangan, bahkan di lapangan terbuka kita bisa melaksanakan salat berjamaah, sepanjang tidak mengganggu orang lain.

Disebabkan kami belum pernah mengalami perlakuan diskriminatif ataupun intimidasi selama di negeri ini, untuk menjawab pertanyaan teman tadi, saya meminta jawaban kepada teman-teman lain yang ada di Wollongong. Mereka adalah diaspora Indonesia di Australia terdiri atas mahasiswa yang kuliah mengambil program doktor atau yang sudah alumni, dan seorang lagi warga Indonesia yang sudah mendapat status permanen residen di sini.

Berikut ini adalah jawaban langsung dari dengan edit seperlunya. Untuk namanya saya harus sebut inisialnya saja, sebagai bentuk etika dan menjaga privasi mereka.

1. Pak A, meraih magister di Australia, baru saja kembali ke Indonesia

“Wa’alaikum salam warohmatullah wabarokatuh. Kalau berdasarkan pengalaman saya pribadi, saya tidak pernah mengalami intimidasi…baik karena perbedaan agama ataupun alasan lainnya. Karena selama berinteraksi dengan warga Australia (umumnya mahasiswa dan dosen), latar belakang pribadi tidak pernah menjadi pembahasan…mungkin karena budaya mereka yg betul2 menjaga privasi. Bahkan istri saya pun yg berjilbab (identitas muslimah) tidak pernah mengalami intimidasi…justru sering mendapatkan sapaan hangat dari warga sekitar juka berpapasan dijalan meski tidak saling mengenal. Bahkan tidak jarang, warga lokal mengucapkan salam secara islam lebih dahulu kepada istri saya”.

 

2. Pak B, kandidat doktor nuklir

“ ‘Alaikumussalam wr.wb. Jawabannya bisa panjang nih pak. Secara umum di Australia tidak ada masalah, mgkn ada satu dua isu tapi hanya oleh oknum tertentu, tidak besar. Biasanya disebabkan ketidakpahaman mereka dan berita negatif ttg islam di media”.

 

3. Pak C, kandidat doktor bidang perikanan dan kelautan

“Alhamdulillah kalau saya sendiri belum pernah mengalami hal tersebut selama di sini, dan semoga saja tdk akan pernah. Hanya saja memang terkadang kita mendengar atau melihat pemberitaan bahwa masih terjadi hal2 yg tdk diinginkan kepada beberapa muslim-muslimah atau Masjid2 yg terdapat di Australia, yg disinyalir akibat kebencian oknum pelakunya terhadap Islam (Islamophobia). Dan dari saya dengar atau baca, sebenarnya para oknum pelaku tindakan kebencian itu tdk hanya membenci muslim, tapi bisa juga membenci para imigran di Australia secara umum. Dari hal2 tsb, kita melihat bahwa potensi atau bahkan fakta terkait hal yg ditanyakan sahabat kita dari UIN itu memang ada, akan tetapi secara umum kita selaku muslim dan muslimah di Australia masih bisa beraktivitas & beribadah sebagaimana biasa mengingat sejatinya Australia adalah Negara yg menerima dan menghormati keberagaman. Kalaupun ada oknum2 yg melakukan tindakan2 yg tdk diharapkan tadi, bisa jadi itu hanya sebagian, bahkan sedikit saja bagian dari masyarakat Australia yg sejatinya sudah terbiasa dan membuka diri utk keberagaman. Oya, mungkin bisa digali juga ke sahabatnya tsb, informasi seperti apa yg beliau dengar, terkait dgn hal yg beliau tanyakan, sehingga mungkin tanggapan kita pun bisa lebih mengena”.

 

4. Pak D, warga Indonesia yang sudah bekerja di Australia, asal Bandung

“Tidak benar, dari media selalu sensitive. Memang ada terjadi tapi tdk secara umum hanya jumlah kecil karena terkait dgn ISIS, Golongan yg benci dgn Islam salah paham besar karena mereka tdk bisa membedakan antara ISIS dgn Islam yg sebenarnya, sedangkan Pemerintah Australia sendiri menghomati & melindungi kepercayaan baik Islam ataupun Agama lainnya. Jangan diambil secara garis besarnya. Hanya Golongan kecil yg belum mengerti ttg Islam. Membangun masjid di sini susah perizinannya karena banyak peraturan yang harus dipenuhi, keculia membeli gereja lalu diubah menjadi masjid itu lebih mudah. Pemerintah Australia memperlakukan semua agama, sama saja, tidak ada yang diistimewakan. Saya belum pernah dengar Perdana Menteri Australia menyatakan kebencian kepada Islam. Yang melakukan diskriminasi dan intimidasi kepada orang Islam itu sebagian kecil, biasanya kalangan yang tidak beragama, dan tidak mengerti Islam dengan benar”.

 

5. Pak E, kandidat doktor dalam bidang hukum laut internasional

“Aslm bang. Selama ini berdasarkan pengalaman pribadi saya tidak pernah mengalami intimidasi antar agama. Negara australia termasuk negara yang multikultural.”

 

Demikian sekilas gambaran kehidupan beragama dan pengalaman warga Indonesia yang berada di Kota Wollongong, New South Wales, Australia. Dari lima jawaban tersebut dan apa yang kami alami sendiri, belum pernah mengalami secara langsung terkait dengan diskriminasi atau intimidasi yang disebabkan kami adalah muslim.

*) Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here