Perspektif Haidir #27: Mendengarkan Cerita Anak tentang Sekolahnya

0
104
Haidir Fitra Siagian (Klikmu)

 

Oleh: Haidir Fitra Siagian *)

KLIKMU.CO

Sebagaimana biasanya, malam hari di rumah kami sempatkan diskusi dengan anak-anak tentang situasi sekolahnya hari ini. Apakah ada hal yang perlu kami ketahui atau kami tindak lanjuti atau tidak, dan hal-hal lain.

Sudah dua minggu ini putriku masuk high school, sekolah setingkat SMA di sini, kelas sembilan. Sebelumnya dia selama delapan bulan mengikuti sekolah pemantapan bahasa Inggris dan budaya lokal Australia.

Kemarin pagi putriku sangat terlambat masuk sekolah. Hampir dua jam telatnya. Semalamnya dia begadang kerja PR. Pagi-pagi dia masih kerja. Jelang berangkat sekolah, mulai tidak enak perasaannya.

Ibunya berinisiatif menghubungi pihak sekolah. Lewat e-mail, menyampaikan bahwa putri kami kemungkinan tak masuk sekolah hari ini karena tiba-tiba kurang sehat. Jadi diputuskan bahwa putriku tak usah pergi sekolah.

Akan tetapi dua jam kemudian, perasaannya sudah baik. Dia mau pergi ke sekolah. Waktu di sekolah masih ada empat jam lagi. Meski terlambat, dia pergi sendiri ke sekolah naik bus. Di sini, bus ke sekolahnya tak perlu bayar alias gratis. Siapa saja, bukan hanya anak sekolah. Hanya memang untuk rute tertentu.

Tiba di sekolah, dia melapor kepada guru piket jaga hari itu. Bahwa dia terlambat masuk karena sempat tidak enak badan tadi lagi. Dan menyampaikan bahwa ibunya sudah memberi tahu hal ini lewat e-mail.

Ditanya siapa namamu, jawabnya Hn. Siagian. Sang petugas piket bilang, tidak ada e-mail dari orang tua atas nama Hn. Siagian. Setelah dicek kembali, sang guru bertanya, ada memang e-mail masuk dari orang tua atas Fz. Siagian. Putriku bilang, bahwa, sayalah orangnya. Ternyata di sekolah, dia dipanggil Hn. Siagian, sedangkan kami panggil dia dengan Fz. Siagian.

Guru bertanya, kenapa kamu sakit? Saya tidur larut malam. Kenapa tidur kerja PR di rumah. Urusan sekolah selesaikan di sekolah. Kamu kerja PR atau tidak, tak apa-apa. Ternyata putriku sedikit kurang memahami perintah gurunya kemarin.

Apa lagi ceritamu, Nak? Ada temanku dari China belum masuk sekolah. Kenapa? Dia ikut dikarantina. Selama dua bulan dia liburan ke kampung halamannya. Di mana dia dikarantina? Di rumahnya saja. Sebelum kasus coronavirus beredar, dia sudah pulang ke Australia. Tapi orang tuanya bilang, jangan sekolah dulu. Dia harus tetap di rumah hingga betul-betul tidak ada penyakitnya akibat virus tersebut.

Apa lagi, Nak? Senin depan ayah dan ibu diundang ke sekolah. Untuk apa? Semua orang tua siswa baru diundang. Pihak sekolah akan menjelaskan tentang berbagai hal tentang sekolah, sistem belajar, dan hal-hal lain terkait dengan urusan sekolah. Apakah kami wajib hadir? Tidak. Kalau ayah merasa itu penting, datanglah. Jika tidak, tak apa-apa.

Wassalam
Gwynneville, 7/2/2020 larut malam

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here