Perspektif Haidir #28: Mengukur Tingkat Kepatuhan Warga kepada Imbauan Pemerintah

0
103

 

Oleh: Haidir Fitra Siagian *)

KLIKMU.CO

Patuhlah kepada Allah dan Rasul-Nya, pun kepada pemimpin-pemimpin kalian. Bahwa bagi umat Islam, kepatuhan kepada pemimpin atau pemerintah adalah hal yang sangat penting. Tidak boleh ada umat Islam yang melalaikan imbauan pemerintah selama dalam koridor yang benar.

Bagi teman-teman yang terbiasa menyeberang dari Singapura ke Malaysia atau sebaliknya, tentu akan merasakan perjalanan yang cukup melelahkan. Panjang jembatan yang menghubungkan kedua negara tersebut tidak sampai 1 kilometer. Hampir setiap saat siang malam selalu dipenuhi kendaraan yang melintas dengan antre, tertib, dan teratur.

Durasi antre bisa mencapai berjam-jam. Keluarga saya yang warga Singapura, jika ingin ke Malaysia atau sebaliknya, selalu berusaha berangkat dini hari sekitar pukul dua atau pukul tiga sebelum subuh. Ini disebabkan untuk menghindari kemacetan panjang di kawasan penyeberangan kedua negara ini. Kemacetan akan semakin panjang jika musim libur atau akhir pekan.

Pada Sabtu lalu, seorang kakak ipar saya mengambil gambar jembatan yang menghubungkan Malaysia-Singapura. Dia potret sekitar tengah hari dari lantai 29 apartemen mereka di Johor Baru. Tampak suasana sangat lengang, bahkan cenderung kelihatan tanpa ada aktivitas yang berarti. Dalam statusnya, beliau mengatakan ini adalah suasana yang sangat langka.

Beliau sebut langka karena sulit menemukan ada waktu selengang ini pada jembatan tersebut. Biasanya penuh sesak, padat merayap. Apalagi pada siang hari, pada akhir pekan lagi. Saya sering merasakan kemacetan yang demikian. Baik menggunakan kendaraan umum atau mobil pribadi. Lebih mudah dan cepat jika naik kereta api.

Melihat jembatan yang sangat sepi tersebut, saya bertanya kepada kakak ipar. Mengapa bisa sesepi itu? Karena sebagian besar warga negara Singapura saat ini diimbau untuk banyak beristirahat di rumah. Jika tidak terlalu penting, sebaiknya jangan dulu beraktivitas di luar rumah.

Ini terkait dengan imbauan pemerintah Singapura yang memandang penyebaran coronavirus yang sudah pada tahap mengkhawatirkan. Pemerintah Singapura telah berusaha mengatasi hal tersebut. Salah satunya adalah meminta warganya agar lebih banyak berada dalam rumah.

Imbauan tersebut ternyata mendapat respons positif dari masyarakat. Warga negara Singapura patuh kepada imbauan pemerintahnya. Mereka yakin bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintahnya adalah untuk kebaikan bersama, kemaslahatan warga negara Singapura. Itulah antara lain yang menyebabkan jembatan penyeberangan di atas menjadi lengang.

Kepatuhan warga negara terhadap imbauan pemerintahnya pun pernah saya alami di sini, khususnya di Kota Wollongong New South Wales Australia. Akhir tahun lalu, pemerintah kota meminta warganya untuk tidak menyalakan petasan dan membakar kembang api saat pergantian tahun baru. Saya rasakan sendiri di kota ini, tak ada satu pun bunyi petasan yang terdengar. Tak terlihat satu pun kembang api yang terbang ke langit.

Warga patuh kepada imbauan pemerintahnya. Mereka yakin bahwa imbauan itu adalah untuk kebaikan bersama, dibuat untuk kemaslahatan seluruh warga.

Terhadap kedua kasus di atas, ada satu kesimpulan sementara bahwa di negara-negara maju, tingkat kepatuhan kepada himbauan yang dikeluarkan oleh pemerintah begitu kuat. Mereka mendengar dan melaksanakan dengan loyalitas yang tinggi atas perhatian pemerintahnya. Mengapa?

Di kampung kita, bagaimana tingkat kepatuhan warga negara terhadap imbauan yang disampaikan oleh pemerintah? Jelang pergantian tahun lalu, ada juga imbauan pemerintah daerah atau bupati kepada warganya untuk tidak menyalakan petasan atau kembang api. Apakah dipatuhi oleh warga? Ada juga imbauan untuk memperbanyak zikir di rumah-rumah ibadah, berapa banyak warga yang mematuhinya. Padahal jika dirunut dengan tertib, semua imbauan yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah demi kebaikan pun kemaslahatan warganya.

Namun mengapa tingkat kepatuhan warga negara di kampung kita dengan tingkat kepatuhan masyarakat di negara-negara maju begitu berbeda? Setiap awal bulan Ramadhan, sering kita dengar bunyi kutipan ayat suci agar senantiasa patuhlah kepada Tuhan, kepada Rasul, dan kepada para pemerintah yang memimpinmu. Namun tingkat kepatuhan tersebut masih sangat belum menggembirakan. Mengapa? Saya kira ini menjadi PR kita bersama mencari jawabannya.

Wassalam
Gwynneville, 08.02.2020

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here