Perspektif Haidir #29: Kepatuhan kepada Pemimpin, Negara-Negara Maju dan di Kampung Kita

0
84

KLIKMU.CO

Oleh: Haidir Fitra Siagian *)

Bagi teman-teman yang terbiasa menyeberang dari Singapura ke Malaysia atau sebaliknya, tentu akan merasakan perjalanan yang cukup melelahkan. Panjang jembatan yang menghubungkan kedua negara tersebut, tidak sampai satu kilometer. Hampir setiap saat siang malam selalu dipenuhi kendaraan yang melintas dengan antri, tertib dan teratur.

Durasi antri bisa mencapai berjam-jam, terutama pada masa-masa sibuk. Keluarga saya yang warga Singapura jika ingin ke Malaysia atau sebaliknya, selalu berusaha berangkat dini hari sekitar jam dua atau jam tiga sebelum subuh. Ini disebabkan untuk menghindari kemacetan panjang di kawasan penyeberangan kedua negara ini. Kemacetan akan semakin panjang jika musim libur atau akhir pekan.

Pada hari Sabtu, kemarin, seorang kakak Ipar saya mengambil gambar jembatan yang menghubungkan Malaysia – Singapura. Dia potret sekitar tengah hari dari lantai 29 apartemen mereka di Johor Baru. Tampak suasana sangat lengang, bahkan cenderung kelihatan tanpa ada aktivitas yang berarti. Dalam statusnya, beliau mengatakan ini adalah suasana yang sangat langka.

Beliau sebut langka karena sulit menemukan ada waktu dimana jalanan selengang ini di jembatan tersebut. Biasanya penuh sesak, padat merayap. Apalagi pada siang hari, pada akhir pekan lagi. Selang tahun 2011-2018, saya sering merasakan kemacetan yang demikian di jembatan perbatasan kedua negara ini. Baik menggunakan kenderaan umum atau mobil pribadi. Manakala bisa memilih, akan lebih mudah dan cepat jika naik kereta api.

Melihat jembatan yang sangat sepi tersebut, saya bertanya kepada kakak Ipar. Mengapa bisa sesepi itu? Karena sebagian besar warga negara Singapura saat ini dihimbau untuk banyak beristirahat di rumah. Jika tidak terlalu penting, sebaiknya jangan dulu beraktivitas di luar rumah.

Ini terkait dengan himbauan pemerintah Singapura yang memandang penyebaran coronavirus yang sudah pada tahap mengkhawatirkan atau pada level kuning. Pemerintah Singapura telah berusaha mengatasi penyebaran virus tersebut. Salah satunya adalah meminta warganya agar lebih banyak berada dalam rumah.

Himbauan tersebut ternyata mendapat respon positif dari masyarakat. Warga negara Singapura patuh kepada himbauan pemerintahnya. Mereka yakin bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintahnya adalah untuk kebaikan bersama, kemaslahatan warga negara Singapura. Itulah antara lain yang menyebabkan jembatan penyebrangan di atas menjadi lengang.

Bahwa atas himbauan tersebut ada dampak lain, adalah tentu. Baik dari aspek sosial, ekonomi dan politik. Misalnya akan membatasi jumlah atau sirkulasi perputaran uang dan sebagainya. Tetapi karena ini menyangkut kesehatan, nyawa kemanusiaan, maka faktor lain sementara dapat dikesampingkan dulu.

 

Kepatuhan warga negara terhadap himbauan pemerintahnya pun pernah saya alami di sini, khususnya di Kota Wollongong New South Wales Australia. Akhir tahun lalu, pemerintah kota meminta warganya untuk tidak menyalakan petasan dan membakar kembang api saat pergantian tahun baru. Saya rasakan sendiri di kota ini, tak ada satupun bunyi petasan yang terdengar. Tak terlihat satupun kembang api yang terbang ke langit.

Warga patuh kepada himbauan pemerintahnya. Mereka yakin bahwa himbauan itu adalah untuk kebaikan bersama, dibuat untuk kemaslahatan seluruh warga.

Terhadap kedua kasus di atas, ada satu kesimpulan sementara bahwa di negara-negara maju, bahwa tingkat kepatuhan kepada himbauan yang dikeluarkan oleh pemerintah begitu kuat. Mereka mendengar dan melaksanakan dengan loyalitas yang tinggi atas perhatian pemerintah, meskipun dari aspek lain bisa jadi membawa kerugian yang nyata. Mengapa?

Di kampung kita, bagaimanakah tingkat kepatuhan warga negara terhadap himbauan yang disampaikan oleh pemerintah? Jelang pergantian tahun lalu, ada juga himbauan pemerintah daerah atau bupati kepada warganya untuk tidak menyalakan petasan atau kembang api. Apakah dipatuhi oleh warga? Ada juga himbauan untuk memperbanyak zikir di rumah-rumah ibadah, berapa banyak warga yang mematuhinya. Di beberapa daerah ada himbauan dari kepala daerah untuk menggalakkan salat subuh berjamaah. Berapa orang yang hadir? Di setiap pembungkus rokok, selalu tertulis peringatan pemerintah tentang bahaya rokok. Berapa yang antusias terkait peringatan tersebut?

Padahal jika dirunut dengan tertib, semua himbauan yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah demi kebaikan pun kemaslahatan warganya. Tidak ada ditemukan himbauan pemerintah yang berbahaya. Atau merugikan masyarakat.

Namun mengapa tingkat kepatuhan warga negara di kampung kita dengan tingkat kepatuhan masyarakat di negara-negara maju begitu berbeda? Setiap awal bulan Ramadhan, sering kita dengar bunyi kutipan ayat suci agar senantiasa patuhlah kepada Tuhan, kepada Rasul, dan kepada para pemerintah yang memimpinmu. Artinya kepatuhan kepada pemerintah bagi umat Islam adalah hal yang sangat penting.

Namun tingkat kepatuhan tersebut masih sangat belum menggembirakan. Mengapa? Saya kira ini menjadi PR kita bersama mencari jawabannya.

*) Aktivis Muhammadiyah Sulawesi Selatan, kini tinggal di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here