Perspektif Haidir #30: Kisah Seorang Warga Bangladesh; Bukan soal Polisi, Nurani yang Pasti Bergejolak

0
210

 

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Tetangga kami ini adalah suami seorang mahasiswi University of Wollongong dari Bangladesh. Dia tinggal tak jauh dari apartemen kami, sekitar 50 meter saja jaraknya. Istrinya seorang kandidat doktor dalam bidang teknik elektro yang rupanya sudah diterima jadi permanen residen di Australia.

Di sini mereka tinggal dengan anak-anaknya. Seorang putra dan seorang putri. Tahun lalu putrinya juara satu lomba baca Al-Qur’an di Masjid Assalaam, Berkeley, NSW. Putriku saat itu, alhamdulillah, dapat juara tiga.

Setiap saat saya biasa bertemu dengan beliau di Masjid Omar Wollongong atau di Masjid MAWU, Kampus UoW. Jika ke Omar mesti naik mobil dan kalau ke Masjid MAWU cukup jalan kaki sekitar 500 meter dari apartemen.

Yang paling sering adalah saya bertemu dengan beliau saat salat Magrib-Isya dan Subuh di Masjid Omar dan saat Duhur atau Ashar di Masjid MAWU. Di Masjid MAWU, Magrib, Isya, dan Subuh jarang orang salat karena wilayah kampus cukup sepi di malam hari.

Sebagai seorang muslim, dia tak ada afiliasi paham keagamaan seperti kita. Dia bukan Muhammadiyah, bukan salafi, bukan jamaah tabligh, atau HTI. Namun, saya menangkap beberapa pelajaran berharga dari saudara kita ini.

Pertama, sering kali dia ke masjid dengan membawa putranya yang masih kecil, sekitar usia 8 tahun. Saat salat, dia cari tempat paling pinggir. Selalu dia ingatkan putranya agar jangan ribut mengganggu orang lain. Ini tentu dengan tujuan agar anaknya kelak selalu ingat masjid, beribadah, dan ingat akan Tuhan-nya.

Kedua, saat akan ke Masjid Omar salat Subuh, tanpa ragu, dia sering numpang di mobil kami. Itu kalau kami bersamaan tiba di tempat parkir. Ini tentu hal yang baik, mengurangi pemakaian kendaraan, tentu juga dapat menghemat bahan bakar, memberi dampak positif terhadap lingkungan. Saya pun demikian sebaliknya, sering numpang di mobilnya.

Ketiga, saat pergi atau pulang ke Masjid MAWU, kami melintasi jalan raya, yang kadang sepi, kadang ramai. Saya selalu perhatikan, beliau selalu menyeberang di tempat penyeberangan yang telah ditentukan. Walaupun untuk menyeberang ini, dia harus berjalan sedikit lebih jauh. Tak pernah saya lihat dia memotong jalan di tempat lain, meskipun sama sekali tidak ada kendaraan yang melintas.

Keempat, ini yang sangat saluti. Akhir tahun lalu kami sama-sama ke Masjid Omar. Saat berangkat dia naik mobilnya. Saya pun bawa mobil. Saat pulang tiba-tiba dia dengan putranya minta numpang di mobil kami. Heran, dia tinggalkan mobil di pinggir jalan depan masjid. Saya tanya kenapa mobilnya, rusak? Dia bilang tidak. Saya hanya lupa bawa dompet berisi SIM. Lha, kenapa tak bawa saja mobilnya pulang, kan dekat saja ke rumah, hanya sekitar 1 kilometer. Selama ini pun tak pernah ada pemeriksaan oleh polisi, kataku.

Sungguh menyentuh jawabannya. Dia bilang bahwa, karena tidak membawa SIM, dia merasa tak berhak membawa kendaraan. Baginya, ini bukan soal pemeriksaan polisi. Tetapi, ini adalah soal hak dan kewajiban, tanggung jawab moral serta kepatuhan kepada aturan. Boleh polisi tak tahu bahwa saya tak membawa SIM, tapi saya tak bisa menyembunyikan dari hatiku bahwa saya telah melanggar aturan, walaupun sekejap saja.

Baginya tak merasa nyaman membawa kendaraan dalam keadaan melanggar aturan. Polisi tak tahu, tapi nurani akan bergejolak. Sesuatu yang jarang kita sadari. Bahkan cenderung pura-pura dengan seribu dalih.

Wassalam
Gwynneville (21/2/2020)

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here