Perspektif Haidir #31: Upaya Masjid Menjaga Pandangan Lelaki terhadap Aurat Perempuan

0
196
Foto pribadi

 

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Ketika saya masih di kampung tinggal bersama dengan kakek, di Desa Panggulangan Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan Sumatera Utara sampai akhir tahun 1980-an, terdapat dua bangunan tempat salat di desa yang berada di lembah bukit ini. Satu bangunan yang lebih besar disebut “masjid”, diperuntukkan bagi  jamaah lelaki. Sedangkan satu bangunan yang lebih kecil berada di samping kanan, disebut “suro” atau surau, khusus untuk jamaah perempuan. Di samping pintu masjid, sengaja dibuat kolam air kecil, tempat mencuci kaki sebelum masuk ke dalam masjid.

Para umat Islam di desa itu, masing-masing salat di kedua bangunan tersebut. Tidak tercampur ruangan salat wanita dengan lelaki. Setiap waktu salat. Nanti ada acara-acara besar, barulah kaum Hawa ikut masuk bergabung ke dalam masjid. Misalnya acara Maulid Nabi atau peringatan Isra’ Mi’raj. Itupun jarak antara jamaah lelaki dan perempuan dipisahkan dengan apa yang disebut “kain tabir”. Biasanya berwarna hijau, setinggi satu setengah meter, membagi dua ruangan masjid.

Seingat saya waktu itu, hampir semua masjid di berbagai desa di Sipirok atau mungkin Tapanuli Selatan, memiliki pola yang sama. Berupa dua bangunan ruangan salat lelaki dan perempuan secara terpisah. Dewasa ini sudah terjadi sedikit perubahan, tetapi masih memiliki persamaan tujuan. Di berbagai desa, ruangan salat untuk lelaki dan perempuan sudah berada dalam satu bangunan masjid. Hal ini antara lain karena adanya pembangunan atau renovasi masjid yang baru yang lebih besar. Jadi bangunan masjid diperbesar, jamaah lelaki di bagian depan, jamaah perempuan berada di belakang.

Walau bagaimanapun ruangan tersebut pada umumnya masih dibagi dua dengan alat pemisah yang terbuat dari kain tabir. Cukup tinggi, tak bisa menoleh, biasanya pula setinggi satu setengah meter. Jika ada ceramah keagamaan, kain tersebut disingkap ke atas, agar kaum ibu yang di belakang, dapat melihat wajah sang penceramah. Setelah selesai ceramah, barulah kain tabir diturunkan kembali seperti semula. Di beberapa desa, hingga saat ini tetap masih ada yang terpisah bangunannya.

Mengapa dulu ruangan tersebut harus terpisah? Dan mengapa sekarang walau sudah satu bangunan, tetapi masih perlu memakai tirai atau tabir pemisah yang cukup tinggi? Demikianlah paham keagamaan orang tua kami di Sipirok. Berusaha untuk mengurangi interaksi lelaki dan perempuan pada saat beribadah. Paling tidak, ada upaya untuk tidak saling melihat, usaha untuk, dalam istilah Ustadz H. Dasad Latif,  membantu para lelaki agar menundukkan pandangannya terhadap perempuan. Jika tidak dipisah, atau tidak dipakaikan tabir, kemungkinan lelaki melihat aurat perempuan, cukup mudah. Misalnya jika ketika seorang jamaah perempuan sedang memperbaiki mukenanya, atau sedang memasang kain atau rok, dan seterusnya.

Ketika saya berada di Wollongong New South Wales Australia, saat ini. Ada kemiripan pola pemikiran orang tua kami di Sipirok dengan pengurus masjid di berbagai masjid di sini. Umat Islam di sini didominasi keturunan Timur Tengah, baik yang sudah menjadi warga negara Australia, permanen residen, pekerja atau pelajar. Mulai dari dari Pakistan, Lebanon, Turky, Arab Saudi, Bangladesh, dan negara-negara pecahan Rusia. Sebagian lainnya berasal dari Asia Timur, Asia Tenggara, Afrika Utara, dan Eropa Timur, seperti Slovenia dan Bosnia. Mereka tidak terafiliasi dengan paham keagamaan seperti kita, baik Muhammadiyah, Islam Jamaah, Salafi, HTI, atau pun orang yang sering sebut ditakuti sebagai Wahabi.

Paling tidak ada lima masjid yang saya perhatikan di sini yang memisahkan ruangan salat kaum Hawa dengan kaum Adam.

Pertama, Masjid Uthman di Shellharbour, sekitar 28 Km dari Wollongong. Sekretaris pengurus masjid ini adalah seorang warga Singapura keturunan Melayu. Ruangan salat lelaki dan perempuan berada pada satu bangunan. Tetapi terpisah dengan jarak sekitar enam meter. Ada pintu tersendiri yang dikhususkan untuk perempuan. Tempat wudhunya pun terpisah. Jadi kemungkinan lelaki dan perempuan saling melihat sengaja atau tersengaja, cukup sulit.

Kedua, Masjid Bilal, berada di kawasan Cringila, sekitar delapan kilo meter dari rumah kami. Masjid ini dikelola oleh keturunan Turky. Ruang salat jamaah lelaki dan perempuan pun dipisah. Ruang berwudhu lelaki berada di luar bangunan masjid, sedangkan ruang berwudhu perempuan berada di dalam bangunan, bersebelahan dengan ruang salat perempuan. Masing masing ruangan ada pintunya. Sangat sulit kemungkinannya untuk saling melihat jamaah lelaki dan perempuan.

Ketiga, Masjid As Salaam, Berkeley, arah Selatan sekitar sepuluh kilo meter dari Wollongong. Masjid ini dikelola oleh mayoritas keturunan Lebanon. Jamaah perempuan berada di belakang, jamaah lelaki di depan. Selain terdapat pintu yang memisahkan kedua ruangan ini, pun ada tirai atau tabir yang cukup tinggi, sekitar dua meter berwarna kuning emas. Pintu masuk ke dalam masjid, untuk lelaki dan untuk perempuan, cukup berdekatan, tetapi dipisahkan dengan terali besi yang sangat kuat.

Keempat, Masjid MAWU atau ruang salat MAWU. Untuk interen umat Islam boleh disebut masjid, tetapi untuk kalangan luar, jangan sebut masjid, cukup sebut ruang beribadah. Itu aturan resmi. Ini berada dalam kampus University of Wollongong, berada di bekas lapangan tennis persis di samping kolam renang yang ramai saat mahasiswa berenang. Bangunan masjid ini masih baru, sekitar satu tahun usianya, cantik, bersih dan full AC. Sebagian besar pengurus masjid ini adalah pelajar dari Arab Saudi. Ruangan salat wanita dan pria pun dipisahkan dengan pintu yang terkunci. Pintu masuk bagi lelaki berada di samping kiri, sedangkan untuk perempuan mesti masuk dari pintu belakang. Biasa dibuka kalau hari Jumat supaya dapat dipakai salat oleh jamaah lelaki yang selalu membludak.

Kelima, adalah masjid Omar Wollongong, tak jauh dari apartemen kami, sekitar satu kilometer. Awal saya datang ke sini, terdapat dua bangunan, satu untuk lelaki, satu untuk perempuan. Sekarang karena akan direnovasi, bangunan untuk perempuan sudah dibongkar. Jamaah kaum Hawa dipindahkan masuk ke bagian belakang ruangan salat utama. Tetapi dibatasi dengan tirai kain tebal yang cukup tinggi, lebih dua meter. Meskipun berada di jalur masuk ke dalam masjid, agak sulit kemungkinan terlihat jamaah perempuan yang ada dalam tirai, kecuali dengan sengaja disingkap. Imam masjid Wollongong adalah seorang syekh dari Mesir,yang sengaja didatangkan ke sini, tinggal di depan masjid, berseberangan jalan raya.

Mengapa pengurus masjid di sini harus memisahkan ruangan salat bagi lelaki dengan jamaah perempuan? Bagi mereka tentu itu adalah bagian dari upaya melaksanakan penjabaran syariat Islam. Bagi saya, yang terpenting adalah ini dapat dipandang sebagai usaha menjaga marwah perempuan Muslim. Tentu hal ini harus dihargai dan dihormati. Jangan sampai ada yang mengatakan itu adalah pandangan yang tekstual, kuno dan membatasi kebebasan perempuan.

Mungkin bagi sebagian di antara kita, bahwa pemisahan ruangan salat bagi kaum perempuan dan bagi lelaki adalah sesuatu yang tidak penting lagi. Menganggap bahwa tabir pembatas antara lelaki dan perempuan bukanlah ada pada “kain tabir”, tetapi ada hati. Jadi tidak perlu  ada lagi kain penyekat di dalam masjid yang membatasi wilayah lelaki dan perempuan. Biarkan jamaah menjaga pandangannya sendiri-sendiri, menggunakan hatinya agar tidak melihat aurat perempuan yang tersingkap tanpa sengaja. Tak mengapa seorang lelaki yang melihat betis perempuan di belakang yang sedang memakai kaos kaki, misalnya. Pintu masuk pun tak dibedakan lagi. Jadilah berebutan alas kaki di depan masjid, antara kaum ibu dan kaum bapak.

Meskipun tidak semua, akan tetapi pandangan atau pemikiran seperti ini dewasa ini sudah semakin marak di kalangan kita, bahkan di kalangan agamawan dan pakar Islam yang bergelut di perguruan tinggi pun sebagian pengurus organisasi kemasyarakatan Islam. Hal ini seiring dengan penyamaan peran-peran yang tidak lagi mempertimbangkan status jenis kelamin. Dipandang sama saja semuanya, bebas, demokratis. Baik dalam urusan rumah tangga, ibadah, pergaulan kehidupan sehari-hari, termasuk dalam wilayah partisipasi politik. Bahkan perempuan muslim dosen dengan pakaian berjilbab penuh, bergoyang di depan publik pun sudah dianggap tak masalah, dengan berbagai argumentasi, boleh menjadi penghibur bagi mereka yang sedang capek diskusi atau mendengarkan pidato. Wallahu’alam.

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here