Perspektif Haidir #32: Surat Izin Salat Jumat

0
222

KLIKMU.CO

Oleh: Haidir Fitra Siagian

Sejak putraku pindah ke sekolah dengan status yang lebih tinggi, salah satu kekhawatiran saya sudah tertangani. Dulu dia pada awal masuk sekolah di sini, lokasinya cukup jauh. Sekitar 10 km dari rumah, dan mesti dua kali naik bus.

Setelah dinyatakan lulus dari sekolah persiapan Bahasa Inggris, sekarang dia sudah pindah ke sekolah, tak jauh dari rumah kami. Sekitar satu kilo meter. Bisa jalan kali atau naik bus gratis. Sekarang dia bergaul dengan siswa-siswa warga lokal, sudah setingkat kelas satu SMA, satu sekolah adiknya yang perempuan. Kadang mereka berangkat bersama, kadang berangkat masing-masing.

Kekhawatiran saya dulu adalah dia tak bisa salat Jumat kalau hari sekolah. Selain jauh dari rumah, ada juga kendala teknis lainnya. Padahal usianya sudah wajib salat Jumat. Untunglah kekhawatiran itu cepat berlalu. Jika tidak, tentu saya tak pernah akan tenang.

Di sekolahnya sekarang adalah milik pemerintah. Sebenarnya sekolah mewah dan besar SPP-nya, sekitar Rp 3,5 Juta per minggu. Satu bulan Rp 14 Juta. Anak saya tiga orang yang sekolah di sini. Tiga orang kali empat belas juta per bulan menjadi banyak.

Alhamdulillah, ternyata khusus di Kota Wollongong, ada kebijakan Walikota. Semua anak dari mahasiswa internasional yang kuliah magister dan doktor di University of Wollongong, digratiskan SPP-nya sampai selesai. Jadi kami tak perlu lagi membayar SPP sebesar itu. Yang kami tanggung adalah biaya lain-lain yang sebenarnya cukup besar untuk ukuran kami.

Namun saya tetap bersyukur karena putraku ini bisa ikut salat Jumat. Untuk hal ini, memang pihak sekolah memiliki aturan resmi. Masuk jam sembilan pagi dan pulang jam tiga sore. Sedangkan waktu salat jumat adalah antara jam dua belas hingga jam dua siang.

Bagi siswa yang akan salat Jumat mesti membuat surat pernyataan kepada pihak sekolah. Pernyataan ini ditandatangani oleh orang tuanya. Dengan cara ini, ada kesepahaman antara orang tua dengan sekolah. Saling menghormati dan saling toleransi. Sepulang salat Jumat, dia tak lagi masuk sekolah. Kembali ke rumah istirahat, sedangkan dua adiknya masih di sekolah.

Meskipun negara ini penganut paham sekuler, tak ada urusan dengan agama apapun, tetapi tetap memberikan kebebasan beragama. Tak ada halangan tak ada diskriminasi. Yang penting patuhi aturan dan saling menghormati antar sesama.

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here