Pemerintah Australia Bekerja, Warga pun Percaya

0
474

Oleh: Nurhira Abdul Kadir

KLIKMU.CO

Di akomodasi yang dikelola universitas, kami tinggal di lantai 3, gedung kedua dari persimpangan jalan Northfields Avenue dan Irvine street.

Bagian belakang rumah kami, membentang area kosong berisi 7 tonggak jemuran besi, bisa distel tinggi rendahnya sesuai keperluan, dan jika ditiup angin, tonggak ini dapat berputar pada porosnya. Suara decit tonggak jemuran yang berputar ini kadang menjadi penanda untuk kami berapa riuh angin yang meniup di luar.

Di luar area jemuran ini, membentang parkiran berbayar. Jika tak salah, pelajar membayar sekitar hampir 6 juta per tahun untuk bisa memarkir kendaraan di area ini. Jika penuh, parkiran menumpang 12 mobil.

Kami sendiri memilih memanfaatkan beasiswa sebaik-baiknya dengan memarkir kendaraan di luar. Mobil kami, Ford merah tahun 2003, masih cukup baik untuk dipakai di seputaran Illawarra. Suaranya sudah yang paling merdu dan paling pede. Di jalan, kerap diparkir berderetan dengan mobil yang lambangnya adalah empat cincin atau singa melompat.

Mobil keren ini diwariskan dengan harga seikhlasnya oleh sahabat kami, suami dari ibu dosen di Universitas Padjajaran. Beliau pulang tahun lalu setelah menyelesaikan doktornya dalam bidang ekonomi di UoW. Anak pertama beasiswa LPDP di Wollongong.

Di pinggir jalan sekitar kampus, ada sedikit saja area yang membolehkan parkir 24 jam. Selebihnya ada area yang hanya boleh disinggahi selama maksimum 15 menit hingga 2 jam. Parkir melebih dari waktu didenda hingga 2 jutaan rupiah.

Ada mobil Rangers yang berpatroli secara reguler memantau pelanggaran parkir dan siap menilang. Pemantauan keteraturan parkir di jalan berjalan ketat. Rupanya, denda kepada keteledoran parkir menjadi salah satu sumber pemasukan yang cukup besar kepada negara.

Pembayaran denda masuk langsung ke negara dan tidak ada sistem transaksi di pinggir jalan kepada petugas Rangers. Tagihan masuk bersama tagihan pajak. Meski ada warga bersungut-sungut karena harus bayar denda, tapi warga tahu, uang denda akan dipakai kembali kepada mereka dalam bentuk lainnya. Misalnya saat ini, ketika diperlukan banyak uang untuk menghadapai korona, pemerintah dapat menggelontorkan dana yang cukup besar untuk menolong mengatasi korona.

Penelitian-penelitian untuk mencari vaksin Covid-19 dibiayai, perlindungan kepada petugas dipenuhi dengan menyuplai alat pelindung diri (APD) secukup-cukupnya, kampus dan fasilitas publik dikasih uang untuk menyimpan hand sanitizer di lokasi lalu-lalang, dan iklan TV serta acara-acara mengedukasi di media dibiayai.

Sejauh ini, per pukul 6.30 pagi, 22 Maret 2020, ada 1.098 kasus Covid-19 di Australia. Dalam sehari, sejak kemarin ada 224 kasus baru, dan wilayah kami New South Wales (NSW) menampung yang terbanyak, yaitu 469 kasus. Dari pusat kota Sydney, ibu kota NSW, ke rumah kami, sekitar 90 km. Sejauh ini masih aman, akan tetapi dalam keadaan waspada tingkat tinggi.

Apakah warga takut? Jelas, warga takut. Terlihat bagaimana supermarket diserbu untuk cari bahan makanan beredar di berbagai media. Tapi itu dulu, sekarang berangsur supermarket sudah pandai, belanja dibatasi, dan jika ada yang mau melawan, polisi bisa dipanggil.

Nah, jika dicek lebih dalam, jauh di dasar hati terdalam apakah warga betul-betul khawatir bahwa situasi akan tidak terkontrol? Sepertinya tidak. Mengapa? Melihat Morrison, sang nakhoda bersama menteri-menterinya hampir sepanjang hari muncul di TV mengupdate apa saja yang mereka kerjakan, warga percaya, pemerintah bekerja.

Kembali ke dalam rumah ini, selain menjalankan amanah rakyat untuk belajar sebaik-baiknya, tugas utama kami adalah untuk membantu Morrison dan program kerja beliau. Caranya adalah tinggal di rumah, belajar, bekerja, dan berdoa.

Wassalam
Keiraville, 22 Maret 2020

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar & mahasiswa Program Pascasarjana University of Wollongong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here