Perspektif Haidir #36: Pelukan Hangat Bang Sudar Siandes

0
127
Foto: Muhammadiyah.or.id

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Akhirnya saya tak dapat menahan jari ini. Sejak kemarin terasa gelisah karena tak mampu menulis. Subuh ini jariku memaksa saya untuk menulis sesuatu tentang almarhum Drs H Sudar Siandes MM. Kemarin Sang Pemilik telah memanggilnya kembali ke haribaan-Nya. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

Sebenarnya saya tak sering bersua langsung dengan almarhum. Saya tahu beliau adalah seorang kader Muhammadiyah yang sangat tekun dalam melaksanakan amanah. Siang malam tak kenal lelah memberikan yang terbaik untuk Persyarikatan.

Dalam Muktamar Pemuda Muhammadiyah tahun 1998, beliau terpilih menjadi sekretaris umum mendampingi Bang Dr H Imam Addaraqudni. Kedudukan ini dipegang hingga tahun 2002, saat Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Samarinda.

Ketika masih menjabat sebagai sekretaris umum Pemuda Muhammadiyah, beliau diamanahi sebagai kepala Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta. Beliau mendampingi Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif yang terpilih sebagai ketua dalam Muktamar Muhammadiyah tahun 2000 di Jakarta.

Dalam kedudukan sebagai kepala Kantor PP Muhammadiyah Jakarta inilah saya sering berkomunikasi dengan Bang Sudar, sepanjang awal tahun 2000-an. Saat itu saya sebagai staf Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan mendampingi Ustadz KH Nasruddin Razak sebagai ketua dan Ustadz Drs H Ashabul Kahfi MAg sebagai sekretaris.

Komunikasi saya dengan almarhum adalah terkait dengan urusan Muhammadiyah. Paling sering kami berkomunikasi melalui pesan singkat atau SMS. Jika bukan menanyakan tentang surat yang kami kirim, atau menanyakan siapa yang akan datang ke Makassar mewakili PP Muhammadiyah dalam satu acara. Juga pernah berkomunikasi tentang rencana kehadiran Prof Din Syamsuddin yang akan mengisi milad Muhammadiyah di Kabupaten Enrekang tahun 2001.

Pertemuan pertama saya dengan beliau adalah saat Sidang Tanwir Muhammadiyah di Makassar tahun 2003. Dalam hal ini, komunikasi kami semakin lancar saat mempersiapkan segala sesuatu terkait dengan pelaksanaan muktamar. Saat pembukaan tanwir di Lapangan Karebosi, Juni 2003, saya melihat beliau langsung turun tangan menjemput dan mengatur tempat duduk tamu-tamu di panggung kehormatan.

Dua bulan setelah selesai sidang tanwir, saya melangsungkan akad nikah di Kabupaten Majene, Agustus 2003. Saya mengirim SMS kepada beliau memberi tahu dan minta doa restunya. Beliau membalas dan mengucapkan selamat juga mendoakan kami.

Dalam Muktamar Muhammadiyah tahun 2005 di Malang, Jawa Timur, kami bertemu kembali. Saya sengaja mencarinya untuk urusan yang sangat penting. Karena kesibukan masing-masing, barulah hari ketiga kami bisa bersua. Kami janjian di depan Bank BNI lantai bawah Masjid AR Fahruddin Kampus UMM Malang, setelah beliau bincang-bincang dengan Pak Rusdi Kirana, bos Lion Air kala itu.

Ketika kami bertemu, dia menyambut saya dengan hangat. Saling berpelukan dengan penuh keakraban dan persaudaraan. Bagaikan saudara kandung yang baru bertemu sekian tahun. Setelah menyelesaikan urusan, kami pun berpisah. Saya ingat sebenarnya masih ada tunggakanku kepada beliau, tetapi dia bilang, sudahlah, ini sudah cukup.

Setelah selesai Muktamar Muhammadiyah ini, saya tak lagi sering berkomunikasi dengan beliau. Pada periode 2005-2010, beliau tak lagi menjabat sebagai kepala Kantor PP Muhammadiyah, digantikan oleh Mas Zainuddin. Saya justru naik pangkat menjadi kepala Kantor PWM Sulsel. Sehingga untuk urusan Muhammadiyah, komunikasi beralih kepada Mas Zainuddin di Jakarta atau Mas Sofri Mu’tazim di Yogyakarta.

Ternyata pelukan Bang Sudar di Malang lima belas tahun lalu adalah pelukan terakhir kami. Sejak saat itu, saya tak ingat persis, apakah kami pernah bertemu atau tidak. Mungkin pernah sekali, apakah saat muktamar di Yogyakarta tahun 2010 atau muktamar di Makassar tahun 2015. Saya tak ingat persis.

Walau bagaimanapun, saya masih dapat merasakan pelukan hangatnya lima belas tahun lalu. Pelukan yang ikhlas dan sungguh bermakna. Menunjukkan sikap persahabatan dan kelembutan hati.

Tenanglah, Bang. Jasamu dalam mengabdikan diri mengurus umat melalui Persyarikatan Muhammadiyah akan menjadi bekal di akhirat kelak. Insya Allah, husnul khatimah. (*)

Wassalam
Gwynneville, 27.3.2020 bakda subuh

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here