Perspektif Haidir #38: Menjaga Jarak, Menjaga Ketersinggungan

0
206

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia hingga saat ini masih terus merebak. Belum ada tanda-tanda akan berakhir. Pun belum ditemukan adanya vaksin yang dapat mencegah dan mengobati penyakit yang diakibatkan virus yang mematikan ini.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh setiap negara untuk mengatasinya. Pembatasan dilakukan agar mengurangi atau mempersempit ruang gerak persebarannya. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan upaya menjaga jarak antar-individu yang satu dengan yang lain atau physical distancing.

Hampir seluruh negara meminta atau mengimbau agar warganya menjaga jarak tersebut. Hal ini diyakini karena virus yang dimaksud sangat mudah tertular akibat kontak fisik langsung antarmanusia. Jarak yang aman antara satu dengan yang lain dianjurkan minimal satu setengah meter. Ini perlu dilakukan terutama bagi orang-orang yang tinggal tidak serumah.

Di Australia, konsep physical distancing ini tidak sekadar imbauan. Bahkan jika ketahuan, bisa didenda. Minggu lalu dua orang anggota polisi didenda karena bepergian dengan jarak dekat, pada saat tidak bertugas. Meskipun mereka berkenalan dan teman sesama polisi, tetap saja didenda karena mereka bukanlah orang yang tinggal tidak satu alamat.

Di sini, bepergian ke mana-mana masih dibolehkan dengan catatan bahwa bepergian tersebut adalah dipandang penting dan mematuhi protokol keselamatan yang ditetapkan pemerintah. Misalnya, berolahraga di taman masih boleh. Tapi tak bisa lebih dari dua orang. Jalan-jalan di kebun bunga pun demikian. Asalkan jangan bergerombol atau foto bersama dengan banyak orang secara bersamaan.

Tampak bahwa protokol keselamatan demikian telah dipahami dan dilakukan warga di sini. Bahwa ada yang melanggar, tetap saja ada. Meski dalam jumlah yang tidak signifikan sekali.

Saat itu saya berada di taman bunga atau Botanic Garden Wollongong. Hanya sekitar lima ratus meter dari rumah kami. Jumlah pengunjung jauh berkurang dibandingkan sebelum beredarnya pandemi ini. Pagi ini saya ke sini seorang diri.

Beberapa pengunjung datang bersama keluarganya. Ada yang dengan anak-anaknya, juga pasangannya. Sebagian lainnya adalah pasangan orang tua yang sudah cukup lanjut. Mereka berjalan ke sana kemari dalam kompleks kebun bunga ini.

Menyusuri jalan setapak menikmati keindahan bunga yang berwarna-warni. Juga kicauan burung dan gemercik air yang diempaskan bebek putih yang berenang di atasnya. Seorang anak tiba-tiba menangis, jatuh dari skuternya. Tampaknya darah merah menetes dari lututnya. Ibunya langsung datang membantu putranya.

Ada hal yang cukup unik saya lihat di sini. Beberapa kali saya perhatikan. Hampir semua orang yang datang ke sini mematuhi protokol keselamatan dan menjaga jarak. Karena jalan setapak tak terlalu lebar, jika berpapasan akan terlalu berdekatan.

Untuk menghindari berpapasan terlalu dekat, mereka ada yang mengalah. Sebagian berbelok arah, kembali ke belakang, atau meminggir sejenak. Sebagian lagi mengambil jalan pintas ke rerumputan. Berjalan di atas rumput agar terhindar dari berdekatan dengan orang lain yang kurang dari satu setengah meter.

Demikianlah, saling memahami dan saling mengerti. Tidak justru tersinggung karena seolah-olah menjaga jarak. Tidak lantas marah, karena menganggap kurang ajar atau kurang sopan. Semua dilakukan demi kepentingan bersama. Kemaslahatan bersama. Kesehatan bersama.

Wassalam
Botanic Garden Wollongong, 17/4/2020 hampir waktu duhur atau Jumat

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here