Perspektif Haidir #39: Kenalilah Tetanggamu

0
99
Dokumen pribadi penulis

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Beberapa hari lalu, saya membaca buku tentang sejarah keberadaan umat Islam di Australia. Termasuk di antaranya adalah hubungan antara warga lokal dengan umat Islam. Memang terjadi pasang surut. Ada saatnya terjadi penolakan terhadap kedatangan imigran yang beragama Islam. Dan ada masanya ketika sikap warga Australia yang menganut agama Nasrasi menerima keadatangan kaum Muslim untuk hidup bersama di benua Kanguru ini.

Pada paruh pertama abad ke-20, sikap gereja-gereja di Australia terhadap umat Islam sudah mulai melunak. Jika pada awalnya yang sering terjadi adalah sikap kebencian dan permusuhan, tergantikan dengan sikap kehangatan dan persahabatan (Nurdin, 2009). Bahkan di antara mereka ada yang berusaha untuk mempelajari nilai-nilai ajaran Islam, akhlak, disiplin dan hubungan sosial.

Pada masa itu, disebutkan bahwa salah satu tema yang sering dipelajari tentang Islam adalah terkait dengan tetangga. Maka di beberapa gereja tertempel pengumuman bahwa akan ada ceramah dengan tema “get to know your neighbours”. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah mengenal umat Islam di sekitarnya, baik sebagai tetangga agama baru, maupun sebagai sesama umat beragama. Dalam pengertian lain juga merujuk untuk mengenal tetangga dalam arti yang sesungguhnya, hidup damai, toleran, dan tinggal bersama dalam satu kawasan.

Mengenal tetangga adalah konsep yang telah diajarkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam empat belas abad yang lalu. Tetangga adalah orang yang dekat dengan kita. Ada juga pandangan yang mengatakan bahwa tetangga adalah ‘orang-orang yang salat subuh bersamamu’. Sebagian pendapat lainnya mengatakan bahwa tetangga adalah orang yang berada empat puluh meter dari setiap sisi rumahmu, kiri-kanan, muka-belakang. Namun dalam konteks yang lebih luas, tetangga adalah mereka yang menurut kebiasaan setempat dapat dianggap sebagai tetangga. Misalnya ketika dulu kami di Sipirok, Tapanuli Selatan Sumatra Utara, kerabat yang berada di desa yang berbeda, masih dapat dianggap sebagai tetangga, walaupun berada pada jarak yang tidak dekat.

Beberapa sikap yang telah Beliau ajarkan kepada umatnya tentang tetangga adalah agar kita selalu menjaga perasaannya, tidak membuat tindakan yang menyakiti hatinya, juga memberikan berita gembira kepada mereka. Firman Allah Swt. dalam surah An Nisa ayat 36 yang artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36). Ayat ini turut menunjukkan perintah agar kita senantiasa berbuat baik kepada tetangga.

Contoh perbuatan baik kepada tetangga yang kerap kita lakukan di Indonesia adalah saling memberi makanan atau hadiah, oleh-oleh ketika datang dari perjalanan, mengirim sesuatu kepadanya ketika kita berada di tempat lain, atau mengajak makan bersama. Ini adalah ajaran yang telah ditanamkan oleh orang tua kita dahulu. Ternyata hal ini juga sejalan dengan konsep yang diajarkan Rasulullah Saw. : “Jika engkau memasak gulai/sayur, perbanyaklah air/kuahnya. Lalu lihatlah tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik”. (HR. Muslim 4766).

Sikap berbuat baik kepada tetangga tidak hanya terbatas kepada yang sekeyakinan dengan kita. Meskipun berbeda agama, tidak menghalangi seorang Muslim untuk berinteraksi dengan mereka. Rasulullah Saw. pun pernah mengajarkan yang demikian, ketika memberikan hadiah kepada seorang Yahudi. Sebab berbuat baik kepada tetangga yang demikian adalah dalam konteks kemanusiaan, sebagai sesama makhluk sosial, ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa yang hidup bersama di permukaan bumi ini.

Kurang setengah jam tadi sebelum buka puasa, saya sedang bersama dengan nyonya sedang berada di dapur. Tentu mempersiapkan hidangan buka puasa. Saya menoleh dari jendela ke bawah. Tampak ada dua orang polisi Australia dengan seragamnya turun dari mobil dinasnya. Mereka mendatangi rumah tetangga kami di sudut jalan. Tak lama setelah itu, kedua polisi ini naik ke mobilnya dan kembali menyurusuri jalan raya.

Tiba-tiba pintu rumah kami digedor-gedor seseorang. Saya sebut “digedor-gedor” karena suara pintu seolah-olah diketuk dengan sangat keras. Apakah sempat ditendang atau tidak. Saya sempat kaget. Tidak biasanya ada orang menggedor atau mengetuk dengan suara demikian keras. Saya katakana kepada istri agar tenang dan segera memakai jilbab. Saya mendekat ke pintu. Tampak gedoran lagi. Saya intip dari lobang kecil. Tampak ada seseorang dengan wajah yang tak jelas karena gelap.

Saya buka dan mendapati seorang tetangga kami. Hati ini yang tadinya agak cemas, langsung menjadi riang gembira dan senang. “Ini untuk kalian, berbuka puasa”, katanya dalam bahasa Inggris. Saya ucapkan terimakasih dan jazaakumullahu khaeran katsiran. Saya beritahu istri, ini ada makanan berbuka puasa dari tetangga kita, persis di depan rumah. Seorang pelajar internasional yang sedang mengambil program doktor Universitiy of Wollongong, berkebangsaan Pakistan. Kami memang berpapasan di lorong dan tangga, dan saling memberi salam.

Saya harus memahami caranya dalam menggedor pintu. Entah mengapa caranya demikian. Memang yang jelas, pintu rumah kami agak tebal. Jika diketuk kecil, tak akan terdengar. Sedangkan bell pintu masuk sudah beberapa waktu tidak berfungsi. Alhamdulillah, inilah nikmat bertetangga. Mendapat reski yang tidak disangka-sangka. Dapat hidangan berbuka puasa berupa makanan khas Pakistan, cukup untuk kami sekeluarga. (*)

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here