Perspektif Haidir #4: Antara Keimanan dan Kebersihan (Catatan dari Australia)

0
140
Suasana pasar pagi dan pedagang kaki lima di Crown Street Mall di pusat Kota Wollongong, New South Wales, Australia, Jumat (19/7/2019)

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Dalam Islam, kita diajari bahwa kebersihan adalah bagian dari iman. Apakah hadits atau hikmah, bukan perkara pokok dalam hal ini. Tapi tentang ini, dapat dimaknai bahwa orang-orang yang beriman pastilah mereka yang mencintai kebersihan. Mencintai tidak hanya dalam konteks diucapkan, diceramahkan, diseminarkan, dipajang dalam kelas, atau diyakini semata, tetapi harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ketika ada orang yang mengaku beriman kepada Allah Swt, dengan sendirinya ia memiliki lingkungan, rumah, halaman, kantor, dan tempat bekerja yang bersih dari sampah. Jika tidak, tingkat keimanannya masih perlu ditingkatkan setinggi-tingginya.

Mantan Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Qadir Gassing pernah mengatakan bahwa orang-orang yang bekerja sebagai tenaga kebersihan adalah bagian dari upaya melaksanakan keimanan kepada Allah Swt. Bekerja membersihkan masjid, rumah, kantor, dan seterusnya tidak boleh dipandang remeh. Mereka memiliki kelebihan tersendiri. Mereka memiliki dua kelebihan sekaligus. Pertama, bekerja membersihkan mendapatkan rezeki untuk menghidupi keluarganya. Kedua, bekerja membersihkan adalah membantu orang lain agar nyaman dalam bekerja. Pun merupakan manifestasi dari ungkapan tersebut di atas.

Satu di antara berbagai hal yang menjadi tolok ukur negara maju adalah dari aspek kebersihan. Dari beberapa negara maju yang pernah saya tinggali, hampir semua memiliki tingkat kebersihan yang tinggi. Negara mampu membuat regulasi yang “memaksa” warganya untuk hidup bersih. Warga memiliki keinginan untuk hidup bersih, karena yakin bahwa regulasi yang dibuat pemerintah tentang kebersihan itu adalah bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman. Jadi, inilah yang menjadi syarat utama sehingga satu negara itu berhasil dalam menangani masalah kebersihan.

Potret Kebersihan di Sudut Negeri Kanguru

Hari ini, pagi hari sampai sebelum Jumat, saya dengan keluarga jalan-jalan ke pusat Kota Wollongong, New South Wales, Australia. Tepatnya di Crown Street Mall. Boleh dikatakan ini adalah kilometer nolnya kota ini. Persis di depannya, ada jalanan lebar yang tertutup untuk kendaraan umum. Hanya pejalan kaki yang boleh lewat. Pemerintah kota sengaja menutup jalanan ini sebagai tempat umum (public space). Lebarnya sekitar 12 meter dan panjang kurang lebih 300 meter. Sisi kiri dan kanan adalah perkantoran dan pusat bisnis. Ada bank, ada mal besar, toko pakaian, penjual kacamata, kafe, restoran, kantor realestat, dan seterusnya. Bahkan ada satu gereja tua yang berdiri kukuh tersendiri di atas lahan yang tidak terlalu luas.

Sebenarnya sepanjang hari kerja, jalanan ini selalu dipadati warga yang akan melakukan aktivitas, baik di kantor maupun di mal. Di beberapa tempat terdapat kursi panjang dengan meja. Boleh diduduki siapa saja. Bahkan ada satu peti besi persis di tengah jalan. Peti besi itu berwarna hitam, tertutup tapi tidak terkunci. Isinya adalah buku-buku bacaan, terutama buku sejarah, perjalanan, majalah, novel, dan cerita anak-anak. Ini adalah semacam perpustakaan mini. Tak ada penjaganya. Siapa saja boleh baca. Setelah dibaca, tentu kembalikan ke dalam lemari besi itu. Besar kemungkinan perpustakaan ini diperuntukkan mereka yang sementara istirahat atau menunggu seseorang, dan lain-lain.

Beberapa hari lalu, seorang teman saya yang baik hati, namanya Agus Edi Permadi, mengatakan kepada saya bahwa di jalan ini ada pasar pagi, semacam pedagang kaki lima. Buka mulai pukul delapan pagi sampai pukul dua siang. Buka hanya setiap hari Jumat. Itulah makanya kami datang ke sini tadi pagi. Kebetulan anak-anak masih libur sekolah. Nyonyaku yang sudah satu tahun lebih tinggal di sini tidak tahu akan hal ini. Beberapa teman yang sudah lama di sini pun tak tahu akan adanya pasar pagi ini. Padahal jarak dari rumah kami hanya sekitar 3 kilometer, naik bus selama lima belas menit dan gratis pula. Memang khusus dari depan kampus University of Wollongong, ada bus gratis ke kota setiap sepuluh menit. Tak membayar dan berlaku untuk siapa saja, bukan hanya mahasiswa.

Kami menyaksikan sendiri keadaan pasar kaki limanya. Saya perhatikan jumlah pedagang yang menjajakan jualannya pada meja di sepanjang jalan. Ada sekitar lima puluh hingga tujuh puluh pedagang. Pedagangnya adalah warga lokal atau pendatang. Bermacam dagangan dijual. Mulai sayur-sayuran, buah-buahan, pakaian bekas, batu akik yang cantik, bibit sayuran, roti, minuman dingin, dan lain-lain. Yang tidak kalah menariknya adalah penjual roti canai dan martabak Turki. Kedai ini dijaga oleh dua orang perempuan berjilbab setengah tua. Mereka menjual makanan khas Turki yang berbahan daging. Tentu dagingnya halal. Insya Allah.

Selain itu, terdapat satu panggung di pinggir jalan. Panggung itu dilengkapi dengan terpal tertutup bagian atas dan belakang. Satu orang lelaki setengah tua dengan rambut pirang menyandang gitarnya. Mengalunkan lagu-lagu Barat populer terkini dan tembang kenangan masa lalu. Di depan panggung, dia menaruh beberapa set kursi untuk pengunjung yang mau menonton. Tak jauh dari tempatnya berdiri, pada bagian depan ada satu koper terbuka. Saya perhatikan beberapa pengunjung memasukkan uang dolar ke dalam koper. Ternyata demikian inilah cara seniman lokal mengamen dalam kota. Tidak memaksa dan tidak mengganggu orang yang makan di restoran.

Satu hal paling penting adalah tentang kebersihan. Benar ini pasar kaki lima cukup ramai. Baik penjual maupun pembeli. Tapi tak terlihat sampah bertebaran yang signifikan. Di beberapa sudut ada kotak sampah. Putriku yang baru saja membeli martabak dan kebab Turki makan di kursi batu besar. Setelah makan, sampahnya dibuang ke kotak sampah yang tersedia. Mereka sudah terbiasa demikian. Jika sudah makan, sampahnya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus dibawa ke tempatnya. Demikian pula orang lain. Mereka makan ramai-ramai sambil mendengar musik sang pengamen tadi. Setelah makan, bekas makanan dibuang di tempat sampah.

Ini boleh jadi adalah salah satu wujud bahwa kebersihan itu bagian dari iman. Bagi mereka yang bukan Muslim, tentu tidak menganggapnya sebagai demikian. Bahkan mereka tak tahu apa itu iman. Tetapi soal kebersihan, mereka lebih patuh dan mencintainya. (*/Achmadsan)

Wassalam

Haidir Fitra Siagian

Crown Street Mall, Wollongong, 19/7/2019 qabla Jumat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here