Perspektif Haidir #45: Berobatlah dengan Penuh Kesabaran, meski Menunggu Dokter hingga Tiga Jam

0
188
Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Seharusnya malam itu saya diminta mengisi diskusi virtual bersama dengan adik-adik mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. Ini sudah dijadwalkan beberapa hari yang lalu. Namun, paginya, suara saya nyaris tak keluar. Akhirnya, nyonya bilang harus ketemu dokter dulu.

Dalam hatiku tak bisa lagi mengisi diskusi dengan adik-adik IMM, saya hubungi saudaraku Dr Siswanto Rawali, dosen Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk mengisi acara tersebut. Alhamdulillah, beliau bersedia.

Setelah membuat perjanjian dengan petugas Klinik University of Wollongong, kami dijadwalkan bertemu dokter pukul 10.30 pagi. Di sini, jika mau ketemu dokter, harus dengan perjanjian, tidak boleh datang tiba-tiba, kecuali gawat darurat. Jika datang tanpa perjanjian, tidak akan dilayani. Masyarakat di sini sudah paham akan hal itu. Tak ada yang memaksa.

Klinik UoW tidak begitu jauh dari rumah. Hanya sekitar lima menit jalan kaki. Setelah registrasi ulang, kami menunggu di luar ruangan, karena kursi duduk sudah terisi pasien lain. Tak lama kemudian, seorang perempuan dokter, memanggil kami, masuk ke ruang periksa.

Singkat cerita, dokter yang memeriksa ini bilang saat ini juga harus dirujuk ke rumah sakit, Wollongong Hospital. Jangan tunda-tunda lagi, katanya. Kapan, tanya nyonyaku? Sekarang katanya, sambil menulis surat rujukan. Sebab, ada pembengkakan di tenggorokan. Akhirnya kami pun bersiap ke rumah sakit, dengan jarak yang tidak jauh, sekitar dua kilometer saja.

Yakin nyonyaku bahwa saya akan dioperasi dan diopname, dia pulang sebentar ke rumah. Saya menunggu depan kampus. Dia mengambil beberapa pakaian, selimut, dan air hangat. Juga menyimpan kunci rumah, karena anak-anak masih di sekolah.

Di klinik sempat bertemu dengan orang Indonesia asal Palembang, Sumatera Selatan. Dia juga sedang berobat. Istrinya adalah warga lokal di sini. Kami tak banyak ngobrol, karena suaraku hampir tak keluar. Tetapi, kami sudah mencatat nomor HP-nya. Dia belum tahu bahwa di sini cukup banyak warga Indonesia, baik pelajar maupun pekerja. Suatu saat datanglah ke rumah, kataku.

Kami tiba di rumah sakit Wollongong, sekitar pukul 11 siang. Seorang perawat dengan senyum menyongsong kedatangan kami. Dia memeriksa suhu tubuh kami dan menyerahkan masker. Setelah registrasi dan mengurus urusan administrasi lainnya, kami di suruh menunggu di ruang tunggu.

Saya tak sempat lagi salat Jumat di Masjid Omar. Saya salat saja di kursi, sambil duduk, tanpa wudhu, hanya tayamum. Sebenarnya di sini ada ruang ibadah, tapi bukan mushala atau masjid. Semua orang yang beragama boleh sembahyang di situ. Karena dalam kondisi sakit, saya pilih salat di kursi ruang tunggu saja.

Walaupun ruang tunggu tidak begitu banyak orang, cukup lama juga kami menunggu. Karena harus antre dengan pasien yang sudah duluan tiba. Beberapa pasien adalah orang tua, mungkin sekitar enam puluh tahunan. Diantar oleh suami atau istri masing-masing.

Saya melihat mereka begitu saling menyayangi di usia yang sudah menjelang magrib. Ada pula seorang ayah bersama anaknya dan seorang ibu dengan putrinya. Tampak ada perban di kepala putrinya. Mungkin luka karena jatuh atau sebab lain (bersambung).

Hospital Wollongong,
12/6/2020 qabla isya

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here