Perspektif Haidir #46: Dokter dari Malaysia, Perawat Diaspora Indonesia

0
226
Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

Catatan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul Perspektif Haidir #45: Berobatlah dengan Penuh Kesabaran, meski Menunggu Dokter hingga Tiga Jam

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Setelah melakukan registrasi dan menunggu hampir tiga di ruang tunggu, kami dipanggil masuk ke ruang periksa oleh seorang dokter. Catatan, yang datang memanggil dan menyebut namaku adalah seorang dokter. Bukan perawat atau petugas lainnya melalui pengeras suara.

Di sini sudah standarnya demikian. Di klinik UoW kemarin pun demikian. Ketika pasien sudah terdaftar dan siap diperiksa, dokterlah yang datang ke luar dari kamarnya, memanggil pasien.

Namanya dr Ten. Sebelum memeriksa saya, dia memperkenalkan diri. Dia melihat namaku, ada Siagian, dari Indonesia katanya. Saya dari Malaysia yang sudah permanen residen di sini, lanjutnya. Dia bertindak sebagai dokter penanggung jawab khusus untuk pemeriksaan saya.

Dia didampingi seorang perawat, perempuan, warga lokal. Setelah memeriksa dan mengambil darah, dia mengantar kami kembali ke ruang tunggu. Sesaat sebelumnya dia mengatakan kepada nyonyaku bahwa akan mendiskusikan dulu dengan tim dokter lainnya. Apakah saya harus dioperasi atau dengan cara lain.

Beberapa saat kemudian, kami dipanggil masuk lagi. Dia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil diskusi tim dokter atas analisis awal kondisi tenggorokan saya, maka disimpulkan harus dioperasi. Kemudian dia menyerahkan urusan ini kepada dokter bedah lain yang kelihatan lebih muda.

Setelah dioperasi, saya dibawa ke kamar istirahat di lantai empat. Seorang perawat mendorong saya dengan kursi roda. Kemudian saya diiinfus dan istirahat.

Subuh hari saya bangun dan salat di tempat tidur. Tak lama setelah itu, seorang perawat datang mengecek kondisi saya. Dia adalah perempuan perawat yang masih muda, keturunan Cina. Setelah memperhatikan beberapa hal, dia menanyakan, dari Indonesia? Tanyanya. Iya, kata saya.

Satu dua patah kata, dia tahu bahasa Indonesia. Saya ngobrol sedikit dengannya. Ternyata kedua orang tuanya keturunan Cina dari Jakarta dan Tegal. Tapi, sang perawat ini kelahiran di sini dan menjadi warga negara Australia (bersambung).

Wassalam
Hospital Wollongong
13/6/2020, bakda Ashar

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, kini bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here