Perspektif Haidir #47: Nilai-Nilai Islam dalam Pelayanan Rumah Sakit Australia

0
201
Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

Catatan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul: Perspektif Haidir #46: Dokter dari Malaysia, Perawat Diaspora Indonesia

Oleh: Haidir Fitra Siagian *)

KLIKMU.CO

Setelah dokter menyampaikan hasil diskusi mereka dengan sesama tim dokter Wollongong Hospital, New South Wales, Australia, bahwa tenggorokan saya harus dioperasi, beliau memanggil tiga orang dokter lain untuk menangangani saya. Satu dokter bedah dan dua lagi (mungkin) calon dokter bedah yang masih sekolah, yang masih memerlukan tambahan jam terbang membedah.

Sebagaimana rujukan dari dokter klinik UoW, terdapat pembengkakan dalam tenggorokan yang tak terlihat dari luar. Jalan keluarnya adalah mengeluarkan cairan yang ada di dalam dengan cara membedahnya.

Sebelum dilakukan operasi pembedahan, beberapa perempuan perawat telah menangani saya. Bertanya beberapa hal terkait dengan kondisi kesehatan saya sebelumnya. Memeriksa darah, suhu badan, dan juga tes Covid-19. Setelah itu, barulah operasi dilaksanakan.

Ruangan pembedahan tak begitu istimewa. Berada di dekat ruang periksa pasien lainnya. Hanya ditutupi tirai tebal berwarna biru. Tetapi, seluruh fasilitas bedah cukup canggih dan berkualitas. Terjaga kebersihan dan kelengkapan lainnya.

Pimpinan dokter yang akan membedah adalah seorang keturunan Cina yang lahir di Australia. Dia membawa dua orang dokter muda lainnya. Sempat dia meminta izin kepada nyonyaku untuk menyemprotkan morfin ke dalam mulut saya. Mengapa dokter harus minta izin? Karena dia tahu bahwa morfin adalah barang haram dalam Islam. Artinya, dia memiliki pengetahuan tentang Islam atau sesaat sebelumnya telah ada yang memberi tahunya.

Nyonyaku sempat bertanya, apakah tidak ada obat lain? Tidak ada, katanya. Hanya ini yang selalu mereka pakai. Saya tak bisa apa-apa. Sepersekian detik, nyonyaku menyatakan kesediaannya. Sebab, sudah tak mungkin ada jalan lain.

Dia yakin bahwa barang haram dalam kondisi tertentu, apalagi untuk keselamatan jiwa, tetap dibolehkan dalam Islam, jika tidak ada alternatif lain dalam masa segera. Yang penting bukan untuk senang-senang pribadi, memabukkan, dan meninabobokkan alam pikiran. Saya percaya kepada nyonyaku, karena dia salah seorang penggemar setia pemikiran Buya Hamka.

Operasi pun dimulai. Selama operasi, nyonyaku terus mendampingi, detik demi detik, mengingatkan agar saya terus berzikir dan menyerahkan segala urusan ini kepada Sang Pencipta. Saya merasakan suntikan dan sayatan cutter, guntingan, secara bergantian berjalan dalam rongga mulut memasuki tenggorokanku.

Beberapa kali dokter memberikan instruksi kepada dokter muda lainnya. Mereka bergantian melakukan operasi. Setengah jam lebih operasi berlangsung, berjalan dengan baik. Beberapa kali dokter memperlihatkan botol suntikan berisi cairan yang dikeluarkan dari dalam. Cairan putih hitam kemerah-merahan. Saya pun lega, tenggorokan terasa lebih nyaman dan leluasa bernapas.

Dokter mengatakan bahwa saya harus menginap satu malam sambil melihat perkembangan kesehatan. Tim perawat masih mengurus saya di kamar bedah. Tak lupa dokter minta izin beralih ke tempat lain. Sambil menunggu persiapan kamar.

Saya pun didorong oleh seorang perempuan perawat ke lantai empat dengan kursi roda. Saya bilang, saya masih bisa jalan kaki. Ternyata demikian standar operasional bagi pasien yang sudah dibedah. Jangan sampai ada apa-apa di tengah jalan.

Di lantai empat saya dimasukkan dalam bangsal berisi empat ranjang. Dua sudah terisi orang tua. Ini khusus untuk pasien bedah. Tak boleh dicampur pasien sakit lain, apalagi pasien Covid-19, pasti. Nyonyaku masih mendampingi beberapa saat. Dia bertanya kepada perawat, apakah boleh bermalam mendampingi saya?

Tak boleh. Semua hal terkait dengan pasien sudah menjadi urusan perawat. Dalam hal apa pun, meskipun yang sepele atau pribadi, kata perawat meyakinkan nyonyaku. Tak lama kemudian, dia pun pamit.

Selama seharian itu, semua penanganan kepada saya berjalan baik. Tak ada hal mengganggu. Dokter baik, ramah, bertanggung jawab, dan murah senyum Demikian pula para perawat. Tak ada satu pun kata-kata mereka yang membuat saya tak senang.

Pola komunikasi yang mereka terapkan hampir sama dengan pola komunikasi Islam. Menyenangkan dan menggembirakan. Benar bahwasanya dalam menangani pasien, 70 persen kesembuhan itu disebabkan pola komunikasi yang efektif, jujur, terbuka, dan manusiawi.

Wassalam

Hospital Wollongong

13/6/2020 bakda Isya

*) Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, kini bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here