Perspektif Haidir #48: Tenaga Medis dan Pasien Multikultural, Pelayanan Manusiawi

0
100
Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

Catatan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul: http://klikmu.co/perspektif-haidir-47-nilai-nilai-islam-dalam-pelayanan-rumah-sakit-australia/

Oleh: Haidir Fitra Siagian *)

KLIKMU.CO

Sejak masuk ke rumah sakit Wollongong, NSW, Australia, hari Jumat, 12 Juni 2020 lalu, saya menjumpai banyak petugas medis dan pasien dari berbagai latar belakang budaya. Ini menjadi keunikan tersendiri karena Kota Wollongong ini, bukanlah kota besar di Australia. Jaraknya sekitar sembilan puluh kilometer dari pusat Kota Sydney.

Ketika pertama kali kami masuk ke ruang IGD Wollongong Hospital, New South Wales, Australia, seorang perawat menerima kami dengan senyum. Dia seorang perempuan perawat berkulit putih, tampak dia adalah warga lokal. Sebelum menanyakan berbagai hal, terlebih dahulu minta izin untuk mengukur suhu badan saya, dan nyonyaku yang ikut mengantar.

Pada saat yang hampir bersamaan terjadi pergantian jadwal petugas di loket itu. Lalu yang bertugas adalah seorang lelaki perawat yang bertampang Asia Timur. Apakah dari China atau negara sekitarnya. Kemudian dia persilahkan kami menunggu di depan ruang administrasi. Di ruang administrasi, kami dilayani oleh petugas yang berasal dari warga lokal. Namun dalam ruang itu, terdapat beberapa petugas lain yang berkulit hitam. Bisa jadi dari Afrika atau negara lainnya.

Begitu giliran saya akan diperiksa oleh dokter, ternyata yang dokter ini adalah seorang kewarganegaraan Malaysia keturunan China. Ibu dan bapaknya masih di Malaysia, sedangkan dia sudah permanen residen di Australia. Dia langsung mengenali saya sebagai orang Indonesia karena ada nama “Siagian’. Bahkan beberapa kali dia memanggil saya dengan” Siagian”, bukan “Haidir”. Berarti dia memiliki pengetahuan tentang budaya kami orang Batak.

Memanggil seseorang dengan sebutan marga itu, cenderung lebih hangat dan terhormat. Bukan berarti menyebut nama asli tidak demikian, hanya saja bagi mereka yang paham budaya Batak, sebutan marga menunjukkan keakraban dan penghargaan yang derajatnya sedikit lebih di atas. Saya terkesan dengan panggilan ini. Apalagi saat ini sedang berada di negara orang, oleh orang lain pula, yang belum saya kenal baik, yang berbeda secara budaya.

Kemudian perawat yang menangani saya sesaat setelah proses operasi adalah seorang perempuan berkulit hitam. Dari suaranya, saya duga dia berasal dari India. Orangnya agak pendek dan suka ngomong. Banyak hal yang diomongin kepada kami, meski tak terkait dengan kondisi saya. Saya duga itu bagian dari upayanya mengakrabkan hubungan kami dengan dia. Saya sebagai pasien, dia sebagai perawat.

Setelah masuk ke ruang nginap di lantai empat, terdapat lagi petugas dan pasien yang berbeda budaya. Kami berada di bangsal ukuran sekitar delapan kali enam meter, berisi empat empat ranjang. Satu orang warga lokal, satu orang warga Timur Tengah, dan ada satu lagi keturunan Amerika Latin. Saya sendiri dari Indonesia. Jadi satu kamar itu, ada empat asal kebudayaan yang berbeda. Saya hanya menduga dari bahasa yang diucapkan saat mereka bicara lewat telepon dengan keluarganya.

Yang dari Timur Tengah ini, seorang Muslim. Dia sudah tua, dan baru selesai dibedah. Beberapa kata yang diucapkan adalah Insya Allah dan Alhamdulillah, bahasanya pun bahasa Arab. Dia sempat menawarkan kacang kepada nyonyaku.

Selama satu malam itu, saya ditangani beberapa perawat. Saya perhatikan sekitar sepuluh kali mereka datang mengganti atau memeriksa infus di tanganku. Bergantian. Ada juga yang kulit hitam.

Pagi harinya, Sabtu, seorang perawat berperawakan Cina justru adalah Diaspora Indonesia. Karena ibunya berasal dari Jakarta, ayahnya dari Tegal, yang sudah permanen residen di sini.

Meskipun pasien dan tenaga medis dengan latar belakang budaya yang berbeda, ternyata pelayanan mereka tak membeda-bedakan satu sama lain. Saya tak merasakan ada satupun diskriminasi, dalam bentuk apapun. Mereka juga memperlakukan saya sebagaimana mestinya pasien diperlakukan, secara manusiawi, tentu berdasarkan standar operasional yang berlaku.

Wassalam
Hospital Wollongong
Ahad, 14 Juni 2020 bakda Duha

*) Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, kini bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here