Perspektif Haidir #49: Ketika Solidaritas Sesama Warga Indonesia Terasa Indah

0
195
Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

Oleh: Haidir Fitra Siagian *)

KLIKMU.CO

Kami tak pernah menduga sebelumnya bahwa saya harus dioperasi untuk mengobati pembengkakan dalam tenggorokanku. Begitu dokter di klinik UoW, merujuk ke rumah sakit. Nyonya bertanya, hari ini, Dok? Bukan hari ini, tapi sekarang, tegas dokter itu. Seketika kami kaget.

Saya memang sudah merasakan kesakitan sejak Kamis lalu, dan pada hari Jumat, sakitnya semakin terasa. Setelah mengambil barang ke rumah, kami langsung naik bus ke rumah sakit Wollongong.

Tak ada pikiran untuk memberitahukan kepada teman-teman. Setelah tiba di rumah sakit, melakukan proses registrasi dan pemeriksaan awal, kami menunggu hingga lebih dua jam baru ketemu dokter penanggung jawab. Setelah diskusi dengan rekan sejawatnya sesama dokter, mengatakan bahwa tenggorokan saya harus dioperasi.

Sesaat setelah itu, nyonya baru memberitahu seorang temannya, sesama mahasiswa program doktor dalam bidang public health di University of Wollongong. Bahwa saya akan dioperasi. Dia menitip putriku yang satu sekolah dengan putrinya.

Ternyata dari situlah beredar informasi kepada teman-teman bahwa saya masuk rumah sakit. Nyonya memang bilang, kita sedang berada di negara orang, harus ada yang tahu keadaan kita di sini. Tak boleh sembunyi. Kita di sini sama-sama satu keluarga besar, katanya.

Setelah selesai operasi pada sore hari, pada malam harinya saya dibawa ke kamar istirahat di lantai empat. Setelah agak longgar waktu, saya aktifkan telepon genggam, ternyata di grup kami sesama warga Indonesia di Wollongong, beredar ucapan harapan doa kesembuhan saya. Saya tak bisa balas satu per satu pesan mereka karena tangan saya sedang diinfus. Saya juga cepat tidur pulas malam itu.

Di antara pesan mereka, bahkan ada yang mau menjenguk segala. Padahal di sini tak boleh ada yang menjenguk, kecuali keluarga dekat, itupun terbatas hanya jam 11 sampai 12 siang. Selain itu tak boleh. Ada juga teman yang menawarkan bantuan apa yang diperlukan. Misalnya menjemput untuk pulang. Tentunya harapan dan doa tersebut membuat saya semakin semangat, merasakan kebersamaan dan kekeluargaan.

Bahkan malamnya, tanpa sengaja teman dari Sydney menelepon saya. Mengajak untuk halal bi halal sesama warga KKSS Sulawesi di Sydney. Dia kaget saat saya bilang sedang diopname di rumah sakit. Ternyata kabar ini diberitahu kepada teman-teman lainnya. Tadi pagi, dia mengirimkan rekaman, bahwa setelah acara halal bi halal, dalam baca doa, sengaja dibacakan doa untuk kesembuhan saya.

Tadi setelah mengabarkan bahwa saya akan pulang hari ini, beberapa teman juga menawarkan menjemput. Alhamdulillah salah seorang dari teman datang menjempit dengan penuh keceriaan. Kami tiba di rumah sekitar pukul setengah dua siang ini. Setelah sebelumnya singgah di apotek membeli obat.

Demikianlah solidaritas kita sesama warga Indonesia. Saling membantu dan mendoakan utamanya dalam kondisi kurang sehat.

Wassalam
Gwynneville, 14/6/2020 bakda Ashar

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here