Perspektif Haidir #50: Di Rumah Sakit, Soal Agama Pertama Kali Ditanyakan di Australia

0
98
Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

Oleh: Haidir Fitra Siagian *)

KLIKMU.CO

Keberadaan saya saat ini di Australia adalah yang kedua kalinya. Kini kami tinggal di Wollongong, New South Wales. Nyonyaku sudah dua tahun, sedangkan saya dan anak-anak baru satu tahun lebih.

Sebelumnya, pada tahun 2013, kami sekeluarga pernah tinggal di Adelaide, Australia Selatan selama hampir setahun. Kala itu, nyonya sedang mengambil program magister dalam bidang public health di University of Adelaide.

Selama dua kali masa yang berbeda itu, kami berada di Australia, dalam berbagai urusan, tidak pernah ditanya tentang agama. Kita sering mengisi formulir di kantor pemerintah atau lembaga lainnya. Tak ada kolom agama diminta diisi. Orang lain pun, tak pernah menanyakan apa agama kita.

Ini dapat dipahami, karena Australia adalah negara sekuler. Tidak ada urusan dengan agama. Pemerintah tak mempersoalkan agama apa pun yang dianut warganya. Tidak ada jiga agama resmi, tidak ada satupun agama yang diistimewakan. Tapi negara tidak boleh melarang orang untuk beragama. Agama apa saja, bebas bagi rakyat memilihnya.

Dengan demikian, memang tak ada gunanya bagi orang atau lembaga menanyakan soal agama. Yang paling pokok di sini adalah masalah toleransi, keadilan, kejujuran, tanggung jawab, dan saling menghargai. Jangan membuat keributan dan mengganggu orang lain. Itu sudah modal yang baik untuk hidup rukun di sini.

Namun demikian, ketika kami mendaftar untuk berobat di rumah sakit hari Kamis lalu, petugas menanyakan apa agama saya? Ini adalah pertama kalinya kami ditanyakan soal agama. Kami jawab Islam. Lalu petugas tersebut, mengisi kolom agama Islam atau Muslim dalam format pendaftaran kami di komputernya. Setelah itu, kami menunggu jadwal bertemu dokter dan selanjutnya.

Malam harinya, sambil istirahat di bangsal lantai empat Hospital Wollongong, saya sempat mencari informasi kepada beberapa pihak. Mengapa di rumah sakit ini, soal agama dipertanyakan oleh petugas. Akhirnya saya dan nyonya mendapat jawabannya.

Semua pasien yang masuk, harus ditanyakan apa agamanya. Itu sudah menjadi standar operasional mereka. Kalau punya agama, sebutlah nama agamanya. Jika tidak punya agama, sebut juga bahwa tidak punya agama.

Ternyata pertanyaan agama ini terkait dengan, siapa tahu sang pasien, dalam penanganan pihak rumah sakit meninggal dunia. Maka untuk memudahkan proses pengebumian, akan dilaksanakan menurut agama apa. Jadi pihak rumah sakit akan menghubungi petugas pengebumian sesuai dengan agama yang tersebut dalam formulir tadi.

Bukankah, dia punya keluarga? Betul, tapi belum tentu seagama. Atau belum tentu keluarganya itu beragama. Sebab di sini, satu keluarga bisa berbeda-beda agamanya. Bahkan satu sama lain ada yang tidak tahu, termasuk suami tidak tahu apa agama istrinya.

Karena agama, bagi mereka, adalah urusan personal. Tak perlu diketahui orang lain. Malahan bagi mereka, ada perasaan malu, jika ada orang tahu apa agamanya. Demikian pula dalam beribadah. Sikahkan sendiri-sendiri, tak usah libatkan orang lain.

Kembali untuk urusan pengebumian, umumnya ada tiga cara di sini. Pertama dikuburkan di pekuburan umum. Kedua dikuburkan di hutan atau kebun, atau lokasi yang dia wasiatkan. Ketiga, dikremasi atau dibakar, lalu abunya dibuang ke laut atau ke hutan.

Proses pengebumian yang paling mahal adalah yang pertama. Yang paling murah adalah cara ketiga. Banyak orang di sini yang memilih cara ketiga, selain murah, dia juga biasa berwasiat agar abunya dibuang ke hutan. Dia ingin kematiannya bermanfaat bagi lingkungan. Menjadi pupuk bagi tanaman atau pepohonan. Wallahu’alam.

Wassalam
Gwynneville
Ahad, 14 Juni 2020 bakda Isya

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here