Perspektif Haidir #53: Ketika Postingan Kita Bermanfaat bagi Orang Lain

0
253
Tangkapan layar whatsaap penulis dengan salah seorang pejabat. (Haidir/KLIKMU.CO)

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Bagi seorang jurnalis maupun kalangan penulis, di antara hal yang paling membahagiakannya adalah ketika karya jurnalistiknya dibaca oleh khalayak. Sebaliknya, dia pantas sedih manakala kerja kerasnya menyebarkan informasi tidak dibaca oleh orang lain.

Kebahagian berikutnya bagi seorang jurnalis dan penulis adalah manakala tulisannya, setelah dibaca, juga memberi manfaat bagi khalayak. Dengan tulisannya, wawasan khalayak menjadi bertambah. Khazanah ilmu pengetahuannya pun berkembang.

Berikutnya adalah ketika orang lain tertarik terhadap tulisan kita, bermanfaat bagi dirinya, lalu dia turut membagikan tulisan tersebut kepada masyarakat luas. Bahkan menjadikan tulisan yang dimaksud sebagai rujukan baginya dalam berbuat sesuatu maupun untuk menghasilkan tulisan berikutnya.

Tulisan atau artikel dalam konteks komunikasi Islam adalah sarana dakwah. Seorang penulis atau jurnalis tidak kalah penting daripada seorang mubaligh yang ceramah di mimbar. Kedua-duanya sama-sama memiliki potensi untuk menjalankan risalah dakwah.

Satu melalui tulisan, satunya melalui lisan atau ucapan yang disampaikan kepada khalayak. Masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Juga kelebihan dan kekurangan, ada pada kedua jenis dakwah ini. Namun, yang pasti adalah keduanya dapat saling mendukung.

Tulisan yang mengandung nilai-nilai luhur berusaha memberi informasi yang benar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah daripada berbuat kemungkaran, adalah substansi dakwah yang sesungguhnya. Siapa pun yang menulis, dengan maksud yang demikian, bahkan dengan berbagai jenis tulisan, adalah bagian dari tugas seorang jurnalis atau penulis muslim.

Dalam konteks saat ini, yakni dalam media sosial, banyak sekali tulisan atau konten media yang tidak baik, maka jurnalis atau penulis muslim harus tampil menjadi penyeimbang tulisan yang benar. Mereka harus menyampaikan informasi maupun berita yang dapat mencerdaskan dan meluruskan.

Dengan demikian, khalayak memiliki alternatif terhadap konten media yang baik. Peran jurnalis atau penulis yang demikian ini, sesungguhnya dia telah berperan sebagai mujahid dakwah. Dia tidak boleh tinggal diam membiarkan tulisan yang tidak baik merajalela sebagai “makanan” harian khalayak.

Bahwa apa yang ditulis atau diberitakan, tentu khalayak akan memiliki berbagai perspektif di dalamnya. Ada yang menerima, ada juga yang menolak. Ada yang menganggap baik, ada pula yang memandangnya sebagai sesuatu yang tidak berguna. Hal yang sama pun terjadi pada saat berdakwah secara lisan.

Perbedaan penerimaan khalayak terhadap tulisan tersebut harus dapat dipahami. Karena khalayak memiliki berbagai perbedaan pula. Baik dari latar belakang status sosial, pendidikan, ekonomi, politik, ideologi, maupun budaya. Jadi, tidak mungkin menyamakan satu perspektif dalam sekejap. Perlu waktu, situasi, dan kondisi yang saling mendukung.

Terhadap beberapa artikel maupun karya jurnalistik, tentu ada yang menerima, ada pula yang sebaliknya. Terdapat yang senang membacanya, ada pula yang merasa terganggu. Bahkan dalam beberapa kasus, saya dikeluarkan dari grup media sosial karena ada yang merasa terganggu dengan tulisan saya. Tidak mengapa.

Alhamdulillah, terdapat khalayak yang merasa senang. Kemarin dalam Silaturahmi Nasional Diaspora Sulawesi Barat secara virtual, entah bagaimana ceritanya, seorang pejabat tinggi pada satu kabupaten di Sulawesi Barat secara terbuka menyebut nama saya. Padahal, saya sama sekali tidak mengenal beliau. Saya pun belum pernah ke daerah di mana beliau menjadi pejabat.

Dalam silaturahmi tersebut, beliau mengatakan bahwa dengan tulisan yang saya bagikan pada grup WA “Sahabat Ombusman”, memberi tambahan pengetahuan baginya. Menambah khazanah ilmu tentang berbagai hal, yang sebelumnya belum dia ketahui. Alhamdulillah.

Wassalam
Gwynneville, 21/6/2020 qabla Isya

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here