Perspektif Haidir #54: Meski Keluhan Sakit Tenggorokan, Akan Tes Covid-19 Juga

0
117
Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Sejak kami diberi tahu bahwa harus dirujuk ke Hospital Wollongong, saya sudah sedikit agak lemas. Saya tahu di sana pasti akan dites Covid-19. Nyonyaku memberikan semangat dan tidak ada jalan lain, jika mau sehat.

Saya membayangkan jika saya nanti positif Covid-19, akan berdampak banyak kepada banyak pihak. Anak-anak dan keluargaku. Teman-teman sesama warga Indonesia. Juga jamaah Masjid Omar Wollongong dan Masjid MAWU University of Wollongong. Bisa rusak nanti citra Islam dan masjid, dalam benak saya.

Benar saja. Ketika masuk ke kompleks rumah sakit Wollongong, protokol penanganan Covid-19 semakin terasa. Semua pengunjung diperiksa suhu dan diberi masker. Tapi nyonya tetap percaya diri. Dia yakin bahwa Australia adalah negara yang cukup mampu menjaga penularan penyakit ini. Apalagi di rumah sakit, lebih ketat lagi. Setiap sudut ada papan petunjuk. Tersedia sabun cuci tangan dan masker.

Ketika kami pertama kali diperiksa oleh perawat, saya diwawancarai berbagai hal tentang kondisi kesehatan dan riwayat penyakit. Juga ke mana saja dan apa yang dilakukan belakangan ini. Semuanya aman. Tiba giliran dokter memegang badanku, memeriksa tenggorokan. Lalu dia memberi petunjuk kepada perawat bahwa saya harus tes Covid-19.

Jadi sebelum operasi, sampel darah saya sudah diambil dan dibawa ke laboratorium. Menungguh hingga setengah jam, dokter memanggil kembali. Operasi akan segera dilakukan. Sampai selesai operasi, masuk kamar, sepanjang tiga hari berlalu, tak ada pembicaraan tentang Covid-19.

Pada malam pertama saya menginap, saya sempat tanya kepada nyonyaku. Bagaimana hasil tes Covid-19-nya? Belum ada katanya. Jadi gimana saya? Dia bilang, tak mungkin abang Covid. Itulah makanya operasi dilakukan, ditangani dengan baik, digabung satu kamar dengan pasien lain. Jika abang Covid-19, tentu penanganan akan berbeda, akan dipisahkan dengan pasien lain, katanya. Saya jadi sedikit agak lega.

Hingga siang itu, sesaat sebelum pulang ke rumah. Nyonyaku bertanya kepada perawat. Bagaimana hasil tes Covid-19-nya? Perawat memberitahukan bahwa saya tak jadi dites Covid karena sesaat sebelum operasi, dokter berkesimpulan bahwa saya aman, tak ada gejala yang terkait dengan Covid-19.

Alhamdulillah, mendengar penjelasan perawat tersebut, kami pulang dengan senang hati. Tidak ada keraguan lagi maupun kekhawatiran. Apalagi terhadap anak-anak dan teman-teman. Walau bagaimanapun, saya masih harus minum obat hingga sepuluh hari ke depan dan hari kesepuluh harus kembali ke rumah sakit bertemu dokter.

Wassalam
Gwynneville
Ahad, 14/6/2020 jelang Magrib

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here