Perspektif Haidir #55: Di Australia Pasien Tidak Boleh Dijaga, Bisa Menjadi Isu Politik

0
57
Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Berbeda negara berbeda pula kebiasaan. Lain pula kebudayaan dan juga dalam penanganan terhadap orang yang sakit. Jika kita di Indonesia, bila ada yang sakit, tentu harus ditemani saat opname di rumah sakit.

Selain itu, orang sakit juga harus dikunjungi. Mengunjungi orang sakit pun bisa menjadi ibadah. Bisa menjadi nasihat bagi orang yang sehat. Bahwa suatu saat, dia juga akan bisa sakit. Melihat orang sakit, akan menyadarkan kita perlunya kesehatan. Nikmat yang sangat berharga.

Umumnya, di kalangan kita jika sedang sakit, semakin banyak yang berkunjung, semakin tinggi status sosial orang yang sakit. Termasuk jabatan yang mengunjungi. Jika yang berkunjung adalah pejabat, hati pasien atau keluarganya akan bertambah senang. Dulu, tahun 2004, ketika putra kami pernah dirawat di RSUD Polewali Mandar, Pak Wakil Bupati datang menjenguk.

Seketika pihak rumah sakit kaget dan sedikit kalang kabut. Tak menyangka tiba-tiba Wakil Bupati datang menjenguk seorang anak. Mereka mencari tahu, apa hubungannya Pak Wabup dengan kami. Dalam hal ini, bukanlah status sosial kami yang tinggi. Itu lebih kepada ketinggian solidaritas sosial Pak Wabup. Tentu kedatangan tersebut kami sambut dengan gembira. Memberi semangat kepada kami yang sedang bersedih karena putra kami sedang sakit.

Dalam konteks lainnya, status sosial pasien pun dapat menentukan orang yang akan berkunjung. Jika si pasien itu adalah pejabat atau orang terhormat, pengunjungnya pun adalah mereka yang memiliki status sosial yang hampir sama. Bahkan untuk mengunjungi orang yang sakit, tak tanggung-tanggung bersedia berangkat ke Singapura dengan biaya sendiri. Mengapa? Karena si pasien adalah orang yang penting dan berpengaruh. Itu adalah budaya kita yang telah berlangsung sekian lama.

Di Australia, pihak keluarga atau orang lain sangat dibatasi dalam mengunjungi pasien. Bahkan dianjurkan jangan dikunjungi dan sama sekali dilarang ditemani, kecuali anak-anak. Mengapa? Karena pasien memang hanya perlu istirahat, memulihkan kesehatan.

Kunjungan orang lain akan berpotensi mengganggu penanganan maupun proses penyembuhannya. Pun akan dapat mengganggu konsentrasi dokter dan perawat dalam menangani pasien tersebut. Membuat ribut, sumpek, kotor, dan menambah panjang antre, misalnya. Sehingga demi kebaikan si pasien dan tenaga medis sebaiknya dia tidak diganggu dalam bentuk apa pun. Biarkan mereka menangani pasien hingga sembuh.

Ketika saya dirawat di Hospital Wollongong, 11-14 Juni 2020, saya sendiri tinggal di rumah sakit. Tak boleh ditemani oleh keluarga, termasuk tidak boleh dijaga oleh istri. Padahal saya sudah minta nyonya agar ikut temani saya. Soalnya ini adalah pertama kali saya diopname di rumah sakit Australia.

Nyonyaku sebenarnya ingin memenuhi keinginan saya. Dia coba bertanya kepada seorang perawat, apakah boleh tinggal di kamar menemani saya. Sang perawat yang ditanya tidak mampu memberi penjelasan. Sehingga dia memanggil kepala ruangan, perawat yang lebih senior.

Kepada nyonyaku, kepala ruangan ini menjelaskan bahwa sesuai aturan, tidak boleh pasien dijaga oleh keluarga. Ini sudah aturan kesehatan yang dibuat oleh pemerintah. Jika ada penjaga pasien dibiarkan tinggal di sini, ini bisa menjadi isu nasional. Karena bisa jadi pasien lain keberatan dan melaporkan hal ini ke media atau pihak terkait.

Pihak keluarga hanya boleh menjenguk pasien sekali dalam sehari. Itu pun hanya satu jam, yakni pukul 11 hingga 12 siang. Selain itu dilarang sama sekali untuk alasan apa pun. Bahkan selain keluarga dekat, tidak dibenarkan datang menjenguk, termasuk teman atau tetangga.

Bagaimana jika pasien memerlukan sesuatu? Atau misalnya menemani pasien ke kamar mandi? Semua itu sudah menjadi tanggung jawab para perawat yang bertugas. Mereka sudah dilatih menangani pasien dalam kondisi apa pun, dan dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. Dan saya sudah mengalaminya dengan baik.

Wassalam
Gwynneville
15/6/2020 bakda Isya

Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here