Perspektif Haidir #56: Jamaah yang Renggang; Antara Rekomendasi dan Hukum

0
145
Masjid Omar Wollongong yang menerapkan social distancing. (Haidir/KLIKMU.CO)

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Dalam hukum salat berjamaah, jarak antara jamaah yang satu dengan lainnya adalah harus rapat. Jika memungkinkan kaki dengan kaki bertemu atau bahu dengan bahu. Tapi jangan sampai saling menindih atau membuat sesama jamaah menjadi tidak nyaman.

Keutamaan salat berjamaah akan terganggu jika hubungan antarjamaah memiliki jarak yang jauh. Seyogianya memang harus dirapatkan sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Kadang kala kita sesama umat Islam memiliki konsep berbeda tentang hubungan yang rapat ini. Apakah harus saling bersentuhan atau cukup dengan jarak yang dianggap sudah dekat meskipun tidak bersentuhan langsung.

Masing-masing punya pandangan dan alasan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah pentingnya saling memahami satu sama lain. Jangan sampai saling menyalahkan atau bahkan menjurus kepada pemaksaan secara sepihak.

Bagaimanakah dengan hukum berjamaah dengan jarak satu setengah meter dalam kondisi persebaran Covid-19 saat ini? Di Kota Wollongong, terdapat dua masjid yang cukup besar. Kedua masjid ini boleh dikatakan sebagai pusat kegiatan umat Islam di kota ini, yakni Masjid Omar Wollongong dan Masjid As-Salaam Berkeley.

Di Masjid Omar Wollongong, sudah hampir satu bulan dibuka salat berjamaah. Sebelumnya ditutup sama sekali atas larangan pemerintah. Saat ini salat lima waktu dan salat Jumat dengan cara jamaah dipisahkan hingga satu setengah meter. Sudah diatur sedemikian rupa melalui pengaturan sajadah sesuai tempat yang ditentukan. Bahkan saat salat Jumat, ada panitia khusus yang mengarahkan tempat setiap jamaah agar tidak saling berdekatan.

Demikian pula di Masjid As-Salaam Berkeley. Hanya, di masjid ini, kedudukan semua jamaah saat salat adalah berdekatan sebagaimana biasanya. Tidak ada pengaturan jarak sesuai ketentuan pemerintah, yakni setiap orang sejauh satu setengah meter dari orang lain. Mengapa di Masjid As-Salaam demikian?

Ternyata hal ini terkait dengan penafsiran dari pengurus masjid masing-masing terhadap ketentuan sosial distancing. Menurut pengurus Masjid As-Salaam, ketentuan pengaturan jarak satu setengah meter itu adalah semacam rekomendasi dari pemerintah. Yang namanya rekomendasi, tentu, tidak mengikat. Bisa diikuti, bisa tidak.

Sedangkan bagi pengurus Masjid Omar Wollongong, ketentuan itu adalah bukan sekadar rekomendasi, melainkan hukum yang dibuat oleh pemerintah. Sebagai “hukum”, hal itu harus diikuti. Bukan karena takut denda, tapi sebagai bentuk ketaatan kepada pemerintah yang sah. Di mana Islam mengatur ketaatan kepada pemerintah demi kemaslahatan bersama.

Demikianlah cara pandang masing-masing terhadap satu ketentuan. Mana yang lebih baik, tentu setiap orang bisa menilai. Wallahua’lam.

Wassalam
Gwynneville, 28.6.2020 bakda Isya

Dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here