Perspektif Haidir #57: Biar Berbeda dan Jauh, demi Ketenangan Hati

0
114
Foto pribadi oleh penulis

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Subuh ini memanglah sangat dingin. Suhu berkisar 6-8 derajat Celsius. Tadi malam tidur dengan selimut beberapa lapis ditambah dengan kaus kaki tebal. Kali ini putraku minta dipasangkan kaus kaki tebal, biasanya tidak.

Saya pun ke Masjid Omar dengan mengendarai mobil tua warna merah maron, keluaran tahun 2000. Untuk mengatasi rasa dingin, saya memakai baju dan celana masing-masing tiga lapis. Putraku sengaja tak kuajak subuh ini. Dia agak tidak enak badan sejak tadi malam.

Setelah memarkir kendaraan, di pintu gerbang bertemu dengan imam besar Syekh Abdul Rahman. Dia menanyakan keadaanku, juga keadaan kami sekeluarga. Alhamdulillah, kami semua baik-baik, jawaku dengan senang hati.

Sampai kapan istrimu sekolah di sini? Lanjut Pak Imam. Mungkin dalam dua tahun ke depan, jawabku. Insya Allah, kata beliau, sambil beranjak duluan menaiki tangga masjid lewat pintu samping belakang.

Di dalam masjid sudah ada beberapa jamaah. Saya orang keenam yang masuk masjid subuh ini. Sudah kuduga, jika di depan masjid mendapati tempat parkir yang dekat, berarti jamaah masih sedikit. Dan sebaliknya.

Setelah Pak Imam selesai melaksanakan salat sunah, muazin pun iqamah. Biasa Syekh Abdul Rahman yang memimpin salat. Tapi dia kembali serahkan kepada seorang yang lebih muda. Pelajar dari Afrika. Kelihatan tubuhnya tinggi besar dan berkulit hitam. Namanya Azis.

Dia memiliki suara merdu dan meyakinkan. Saya perhatikan, jika beliau sudah berada di masjid, beberapa kali Pak Imam meminta dia memimpin salat. Demikianlah Islam. Tidak memandang warna kulit jadi pemimpin. Pokoknya jika banyak hafalan Qur’an, fasih, serta memenuhi syarat dan ketentuan lain yang berlaku, boleh jadi imam. Dalam kehidupan yang lebih luas, boleh jadi pemimpin.

Sepulang dari masjid, saya coba jalan-jalan di sekitar halaman depan kampus University of Wollongong. Suasana masih sangat dingin. Tetap saja kunikmati udara segar dengan tangan masuk ke dalam kantong. Satu-dua orang ada warga yang lari-lari santai. Seorang perempuan jalan-jalan subuh bersama seekor anjing peliharaannya.

Persis di sudut kompleks flat, saya bertemu dengan seorang warga asing dari Bangladesh. Kisahnya dulu sudah pernah saya ceritakan. Awalnya saya tak kenal. Maklum hari masih gelap, tubuhnya pun sedikit gelap, tertutup jaket dan tapu-tapu di kepalanya.

Dia duluan memberi salam kepadanya. Sejenak kami bercakap-cakap ala kadarnya. Dia pun baru pulang salat Subuh. Tapi, saya bilang, tadi saya tak lihat di Masjid Omar Wollongong. Sudah beberapa kali memang, dia tak kelihatan di masjid. Saya sering perhatikan beliau, jarang ketemu, baik di jalanan, Masjid Omar, atau Masjid MAWU. Padahal saya tahu dia adalah salah seorang ahli berjamaah di masjid. Rajin dan tepat waktu.

“Selama ini saya salat berjamaah di Masjid As-Salaam Berkeley,” jawabnya. Sekitar sepuluh kilometer dari flat kami. Naik mobil dia ke sana. Kadang bersama keluarga atau sendiri. Sebelum Covid-19, kami sekeluarga pun sekali-kali ke masjid ini, mengikuti pengajian atau salat Jumat bersama teman-teman warga Indonesia.

Kenapa begitu jauh, Brother? Tanyaku sedikit heran. Saya merasa tak enak hati salat di Masjid Omar, katanya. Hatiku terasa bergejolak, katanya. Saya merasa tidak sah salatnya, lanjutnya. Ada apa?

“Di Masjid Omar, jamaah dipisahkan sejauh satu setengah meter. Saya tak menyalahkan,” katanya. Tapi di Masjid As-Salaam, jamaah dirapatkan seperti biasa, katanya. Sehingga hatiku selalu mengarahkan saya untuk pergi ke sana. Walaupun terasa lebih jauh.

Subhanallah. Demikianlah. Salat memang harus tenang, hati harus ikhlas. Ketenangan hati dalam menjalankan salat akan membantu membawa ke dalam kekhusyukan.

Wassalam
Gwynneville, 24.6.2020 bakda subuh

Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here