Perspektif Haidir #60: Hadiah Cantik Empat Rakaat

0
139
Dream.co (ilustrasi)

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Tidak semua hadiah atau rezeki itu berupa harta atau benda. Kemudahan atau pemberian dispensasi dalam bentuk tertentu pun dapat dipandang sebagai sesuatu hadiah. Hadiah yang diberikan kepada kita sepatutnya diterima dan disyukuri dengan penuh nikmat. Sebisa mungkin jangan menolak hadiah jika itu diberikan dengan dasar yang kuat dan karena memang kita berhak mendapatkannya. Apakah kita memerlukan hadiah itu atau tidak, terimalah dengan senang hati.

Selama ini di Masjid Omar Wollonggong, kami memang kerap mendapat hadiah. Sering makan bersama dengan sesama jamaah saat berbuka puasa, baik puasa wajib maupun puasa sunah, maupun dalam pengajian rutin. Biasa juga ada dermawan yang membawa makanan, sembako, atau barang-barang bekas layak pakai ke masjid, lalu dia letakkan di atas meja. Jika keadaannya demikian, siapapun boleh mengambilnya, baik sedikit atau banyak. Tidak ada pembatasan. Dengan mengambil barang-barang tersebut, si pemilik akan merasa senang. Senang dan gembira karena dia bisa membantu orang lain. Atau hartanya bermanfaat bagi sesama.

Dari masjid ini, terakhir hadiah yang saya peroleh adalah minggu lalu, setelah salat Idul Adha 1441 H. Berupa kue-kue Arab dan daging kurban. Kue-kue Arab diberikan langsung oleh Pak Imam Masjid. Setelah salat Isya, dia memanggil saya ke rumahnya, yang berada di depan masjid. Lalu dia menyerahkan semangkuk kue Arab: “Bawa ini pulang, berikan untuk anak-istrimu,” kata Pak Imam saat itu.

Kemudian sore hari sebelumnya, kami juga mendapat hadiah berupa daging kurban. Dari dua orang warga keturunan Arab. Masing-masing memberikan daging kurban kurang lebih 7 kilogram, ada yang sudah dipotong-potong kecil, ada juga dalam bentuk daging utuh dengan ukuran besar. Termasuk lima bungkus permen cokelat asli produk lokal di sini. Daging kurban itu memang terasa banyak sehingga kami sempat bagi-bagikan kepada tetangga sesama pelajar warga Indonesia, baik yang beragama Islam maupun non-muslim.

Setelah kami bagikan, esoknya masihdatang daging kurban. Kali ini dari warga keturunan Turki dan dari warga keturunan Pakistan. Semakin dibagi semakin ada tambahannya. Akhirnya kami masak rendang dan bagi-bagikan kepada teman-teman di sini, terutama yang tinggal sendirian tanpa keluarga. Masih ada sisa daging kurban. Rencana hari ini mau bakar-bakar sate dengan teman-teman, tetapi hujan deras, kemungkinan tidak jadi.

Siang ini, saya ke Masjid Omar Wollongong melaksanakan salat Duhur secara berjamaah. Memang hujan deras sudah berlangsung sejak beberapa hari lalu. Di beberapa tempat sudah ada yang banjir dan beberapa ruas jalan tergenang. Meskipun demikian, karena tadi hujan sempat reda dan tidak terlalu kencang, saya tetap ke masjid. Pak Imam memimpin salat Duhur empat rakaat.

Setelah selesai empat rakatat, beliau memerintahkan muazin berdiri, iqamah. Pak Imam bilang kita salat Ashar jamak ta’dim empat rakaat karena hujan. Semua jamaah ikut dan saya pun ikut. Selesai salat Ashar, Pak Imam menjelaskan bahwa salat jamak ini adalah hadiah yang diberikan Allah Swt kepada kita. Karena saat ini sedang hujan. Jadi tak perlu lagi datang ke masjid untuk salat Ashar. Sudah cukup ini. Terimalah ini sebagai hadiah. Dan tidak perlu salat sunah karena tidak ada salat sunah setelah Ashar, katanya.

Demikianlah. Ini adalah kedua kalinya saya mengikuti salat jamak ta’dim empat rakaat di sini karena hujan. Sebelumnya pernah juga salat seperti ini di Mushalla MAWU University of Wollongong tahun lalu. Juga karena saat itu sedang hujan lebat. Pada tahun 1998, ketika saya berada di Yogyakarta, pernah juga salat jamak ta’dim karena hujan. Salat Magrib digabung dengan Isya. Ini hanya bisa dilakukan di masjid pada saat salat berjamaah, tidak bisa dilakukan di rumah.

Melakukan salat jamak karena hujan di Indonesia sebenarnya agak jarang diterapkan. Beberapa ustadz yang saya tanya tentang hal ini memang membenarkan dan membolehkan adanya salat jamak karena hujan. Tapi ada yang mengatakan bahwa terdapat syaratnya, misalnya, hujan yang berpotensi menyebabkan banjir besar. Jika hujan ringan, katanya tak perlu salat jamak. Atau kalau misalnya jika dianggap nanti hujannya akan reda, sebaiknya tetap salat berjamaah seperti biasa di masjid. Demikian pula salat jamak karena dalam perjalanan. Ada yang mau melaksanakannya, dan ada juga yang tidak. Terkait dengan jarak atau lamanya bepergian, dan lain-lain. Wallahu’alam.

Wollongong, 9/8/2020

Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here