Perspektif Haidir #63: Ketika Ayah Meninggal Dunia, Anaknya Sedang Berjuang di Medan Perang

0
80
Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

Oleh: Haidir Fitra Siagian

KLIKMU.CO

Hampir dapat dipastikan bahwa kita semua sebagai orang yang beriman, terlebih khusus lagi sebagai orang Indonesia, akan berusaha untuk senantiasa membahagiakan kedua orang tuanya. Secara sadar dan dengan hati yang benar-benar tulus dan murni, seorang anak tidak akan rela menyakiti hati orang tuanya. Bahkan ketika orang tua akan meninggal dunia, kita ingin berasa di dekatnya, memberikan yang terbaik kepadanya. Pada saat beliau sakit, kita semua anak-anaknya berusaha untuk datang bersama, menemui dan menemaninya.

Tentunya orang tua kita akan merasa senang mengalami keadaan yang demikian. Semua anak-anaknya dapat berkumpul bersamanya. Menjalani hari-hari sulit, mempersiapkan diri memenuhi panggilan Yang Maha Kuasa. Bagi sebagian kita, meyakini bahwa kebersamaan dalam keluarga dapat menjadi cermin kesuksesan orang tua dalam menjaga amanah, merawat dan membesarkan anak-anaknya. Orang tua telah memberikan yang terbaik kepada kita, agar dapat mengarungi kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Namun demikian, tidak semua keinginan dan harapan yang demikian dapat tercapai dengan baik dan mudah. Banyak kendala dan rintangan yang sama sekali tidak bisa dihindari. Persoalan ekonomi, jarak, tugas yang diemban, dan dinamika kehidupan pribadi membuat tidak semua orang dapat menemani orang tuanya ketika akan meninggal dunia. Lebih dari itu, tidak sedikit di antara kita yang tidak dapat melihat atau menghadiri pemakaman orang tua kita. Walaupun sekejap saja.

Hal ini terjadi karena berbagai problematika kehidupan yang kita hadapi tadi. Sekuat apa pun keinginan kita untuk bertemu dengan orang tua yang baru saja meninggal dunia, namun di sisi lain ada halangan yang amat sulit dihindari. Saya adalah satu contoh yang pernah mengalaminya. Subuh hari pada 8 Maret 2011, sepuluh tahun yang lalu. Sekembali saya dari masjid, saya menerima telepon dari nyonyaku. Memberitakan bahwa “amang borunya” (dalam hal ini, ayahku), Muhammad Dollar Siagian (72 tahun) telah meninggal dunia di Sipirok Tapanuli Selatan Sumatera Utara, beberapa saat sebelumnya. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

Saat itu saya sedang melanjutkan pendidikan di Universitas Kebangsaaan Malaysia, Bangi, Kuala Lumpur, program doktoral dalam bidang komunikasi. Ayahku meninggal dunia dalam keadaan tenang. Sebelumnya, beliau tidak sakit. Hanya pada malam harinya beliau batuk-batuk, sehingga tak bisa lagi ke masjid untuk salat berjamaah. Sebelum masuk
waktu subuh, beliau meninggal di samping ibuku. Tentu sebagai anak, berkeinginan untuk dapat kembali, melihat jenazah ayahku untuk terakhir kalinya.

Namun, saya sadar bahwa memaksakan diri melihat wajah ayah ketika sudah meninggal dunia, secara hukum Islam bukanlah perkara yang sangat penting. Yang paling pokok terhadap seorang mayat adalah memandikan, mengafani, menyalati, melunasi segala kewajibannya, dan menguburkannya. Itu semua sebaiknya dilakukan dalam kesempatan pertama. Tak perlu menunggu siapapun, termasuk anak-anaknya. Bagi saya, jangan menambah penderitaan mayat dengan hal-hal yang tidak sesuai syariat Islam. Sekali lagi, jika segala urusan tersebut di atas sudah terpenuhi, maka harus segera dikuburkan. Urusan lain yang perlu dilakukan setelah dikuburkan antara lain adalah mendoakan, memelihara amanahnya, serta menyantuni kerabat-kerabatnya.

Demikianlah, setelah saya berkoordinasi dengan saudara-saudaraku, saya memastikan tidak pulang dengan segera. Meskipun saya berusaha untuk pulang segera, dari Bangi ke Sipirok, itu memerlukan waktu sehari semalam baru tidak, itupun sudah menggunakan pesawat mutar-mutar dari Kuala Lumpur – Jakarta – Medan – Sipirok. Jika itu saya paksakan, artinya ayahku tidak bisa dikebumikan pada hari itu. Sementara kami sekelurga, sudah sepakat, bahwa jenazah ayah harus dimakamkan sesegera mungkin, sesuai dengan syariat Islam.

Namun demikian, dua hari kemudian saya dapat pulang ke Sipirok, bertemu dengan ibuku dan saudara-saudaraku lainnya. Saya juga sempat bersyukur karena sekitar tiga minggu sebelumnya, saya sempat pulang ke Sipirok, memanfaatkan liburan hari raya Imlek. Naik kapal motor dari Port Klang – Dumai – Duri – Sipirok. Berangkat bakda Subuh dari Henting Kajang Selangor Darul Ehsan dan tiba subuh harinya di Sipirok. Entah kenapa waktu itu, saya memilih liburan ke kampung halaman, daripada balik ke Makassar bertemu dengan anak-istri, sebagaimana teman-temanku yang lain.

***

Kemarin, kami sesama warga Indonesia yang ada Wollongong, New South Wales, Australia, menerima berita duka. Seorang ayah dari sahabat kami meninggal dunia di Malang, Jawa Timur. Dia adalah seorang pelajar program doktor dalam bidang nuklir di University of Wollongong. Saat ini sudah pada tahap akhir penyelesaian studi. Diperkirakan bulan Desember yang akan datang sudah selesai. Saya dapat merasakan apa yang dirasakan oleh teman ini. Menerima musibah ketika kita sedang berada di medan perang.

Medan perang dalam bidang pendidikan, menjalankan tugas negara. Menambah ilmu pengetahuan untuk kepentingan bangsa dan negara, kemaslahatan umat, pun tidak ketinggalan dalam rangka mempersiapkan masa depan keluarga yang lebih baik. Saya yakin beliau pun ingin segera pulang ke Indonesia, bertemu dengan orang tuanya. Namun itu tidaklah mudah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Terlebih dalam suasana Covid-19 ini, lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.

Akan tetapi, tebersit dalam hati saya. Ada mutiara yang muncul dalam peristiwa ini. Berdasarkan informasi yang kami peroleh, kemarin ayahnya meninggal dunia hampir bersamaan dengan ketika kami sedang melaksanakan tadarrus Al Qur’an secara rutin. Acara yang dilakukan oleh Jamaah Pengajian Illawarrwa (JPI) Wollongong ini dimulai pada pukul 06.30 – 08.00 AEST, atau ba’da subuh. Beliau sendiri yang memandu kami sepanjang tadarrus berlangsung, pun membacakan tuntunan adab bermajelis, hingga mengakhiri acara. Saya berkeyakinan, pada saat itulah ayahnya dipanggil oleh Sang Pencipta selamanya. Ayahnya meninggal dunia pada saat anaknya sedang mengaji. Waktu yang sangat sempurna. Semoga husnul khatimah, insya Allah.

Keiraville, 31 Agustus 2020 bakda subuh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here