Perspektif Haidir #64: Haruskah Pak Imam Marah Lagi?

0
67
Foto hanya ilustrasi

Oleh : Haidir Fitra Siagian

Untuk yang kesekian kalinya saya melihat dan mendengar sendiri Pak Imam Masjid Omar Wollongong, New South Wales, Australia, marah lagi. Jika kata “marah” cukup keras, maka bisa diganti dengan kata “kesal” atau “jengkel”. Sebab kurang bagus rasanya, jika mengatakan seorang Imam Masjid marah di hadapan jamaahnya.

Kejadian ini baru saja terjadi, dua kali, sebelum dan sesudah salat Ashar, sore ini. Saya datang mendahului imam, pas saat adzan dikumandangkan muazzin. Saya masih sempat melaksanakan salat sunnah Tahyatul Masjid dua rakaat. Tiba-tiba Pak Imam datang dari pintu belakang sambil ngomel dan memperlihatkan rasa kesalnya. Hal yang sama diperlihatkannya sesaat setelah berzikir usai salat. Betul-betul Pak Imam, kesal!

Ketika masih bertugas sebagai Anggota Tim Seleksi Anggota KPU Provinsi Sulawesi Barat, dua tahun yang lalu, saya pernah melihat dan mendengar sendiri seorang Pak Imam Masjid, marah. Namun rasa marah itu diperlihatkan dengan cara yang halus dan menyindir. Kejadiannya di sebuah masjid tak jauh dari hotel tempat kami menginap di Kota Polewali, Kabupaten Polewali Mandar. Saat ke sana untuk melaksanakan salat subuh.

Seusai salat subuh, saya masih duduk-duduk di bagian tengah masjid. Saya melihat para jamaah sudah pada keluar. Pak Imam juga keluar. Tak jauh dari tempat saya sedang duduk, ada sekitar empat hingga lima orang jamaah masih berada di dalam masjid. Berbaju putih dan penutup kepala model kopiah Cina. Mereka membuat kelompok, mengaji atau membaca hikmah-hikmah dalam Islam.

Tiba-tiba Pak Imam masuk kembali ke dalam masjid dan mendekat ke arah mereka dan mengatakan sesuatu. Walaupun tidak persis, kira-kira begini yang Pak Imam katakan : “Tolong nanti semua lampunya dimatikan ya. Jangan lupa, pintunya pun ditutup”. Dalam hatiku, ini Pak Imam lagi marah kepada jamaah pengajian tersebut. Mungkin sudah sering mereka mengadakan pengajian dan ta’lim, tetapi setelah itu mereka pergi, tanpa menutup pintu dan tidak mematikan lampu. Sehingga Pak Imam sendiri yang rumahnya tak jauh dari masjid, datang untuk mengantisipasi kedua kelalaian tersebut.

Demikianlah, hal yang sama sering kita alami. Di masjid tempat saya berada di kawasan Gowa Sulawesi Selatan, pernah juga mendapati perkara yang hampir sama. Teman-teman kelompok tertentu, tinggal sejenak di masjid setelah salat Isya, mengadakan pengajian. Setelah itu, mereka pulang begitu saja. Tidak mematikan lampu dan menutup pintu. Saat salat subuh, kami semua jamaah yang akan salat subuh, menjadi kaget. Beberapa ekor kambing berada dalam masjid, tidur di sajadah karpet hijau, pun buang kotoran. Bagaimana baunya kotoran dan air pipis kambing? Bahkan karpet setelah dicuci dengan mesin semprot, berbulan-bulan masih terasa bau pipis kambing.

Kembali ke Masjid Omar Wollongong. Pak Imam marah dan jengkel, karena mendapati masjid dalam keadaan agak kotor. Beberapa mushab al-Qur’an tidak dikembalikan ke rak yang seharusnya. Sisa makanan dibiarkan terletak di dapur; nasi, burger, pisang, minuman dingin, roti Arab, juga coca cola serta gelas-gelas plastik. Bahkan, maaf, ada pula kaos kaki dan pakaian dalam pria yang tertinggal di bagian belakang ruang salat utama.

Memanglah sudah beberapa hari saudara-saudara kita sesama umat Islam dari kawasan Sydney, datang melaksanakan kegiatan dan bermalam di Masjid Omar. Ini sudah sering dilaksanakan. Bahkan sebelum masa covid-19, secara bergantian kelompok ini datang dan bermalam di masjid ini. Kita dapat memahami ghirah keagamaan mereka. Dalam konteks tertentu, saya sendiri senang dengan kegiatan dakwah mereka. Namun satu hal yang agak sulit diterima adalah setelah mereka selesai mengadakan kegiatan, masih ada sisa-sisa kegiatan yang seharusnya dibersihkan dengan rapi. Mungkin saja sudah mereka bersihkan, tetapi masih ada sisanya atau bagian lain yang masih kotor. Hal inilah yang membuat Pak Imam sering marah, dan hal semacam ini berulang-ulang terjadi.

Tentu semua itu, tidak seharusnya dibiarkan begitu saja. Kita sesama umat Islam sudah mengetahui dan memahami bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari iman. Kita juga sadar bahwa menjaga serta memelihara kebersihan masjid adalah tugas semua jamaah, baik jamaah setempat, maupun jamaah pendatang dari kawasan lain. Bukan hanya tugas pengurus atau Pak Imam. Jangan membiarkan masjid tidak rapi. Sebab kerapian akan menimbulkan keindangan dan kenyamanan.

Jangan sampai para jamaah merasa terganggu dengan kenyamanan dan kebersihannya. Itu bisa menjadi fitnah kepada pengurus, tidak menjaga kebersihan. Hal itu boleh jadi dapat memengaruhi keinginan datang ke masjid untuk salat berjamaah. Masjid yang indah dan rapi, justru seharusnya dapat menjadi daya tarik tersendiri yang memikat kehadiran kaum muslimin dan muslimat. Satu hal lagi adalah, jangan biarkan lagi Pak Imam harus marah, hanya karena faktor kelalaian dalam melaksanakan tanggung jawab justru setelah mengadakan kegiatan keagamaan.

Wassalam
Wollongong, 01 November 2020 qabla Magrib

Haidir Fitra Siagian adalah dosen UIN Alauddin Makassar, aktivis Muhammadiyah, saat ini sedang bermukim di Australia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here