Perspektif Haidir #8: Ayam Mentah dari Perempuan Afrika

0
79

Oleh: Haidir Fitra Siagian
Aktivis Muhammadiyah Sulawesi Selatan, saat ini tinggal di Australia

KLIKMU.CO

Memenuhi undangan dari sesama manusia jika tujuannya merupakan kebaikan adalah sikap yang sangat baik. Pemenuhan tersebut bisa dipandang sebagai upaya melanggengkan hubungan antar-sesama manusia. Hal ini juga wujud dari perintah agama untuk memperbaiki maupun meningkatkan jalinan silaturahmi antar-sesama.

Dalam konteks kemanusiaan, kita mesti berbuat baik kepada siapa pun tanpa membedakan latar belakangnya. Saling membantu dan saling menghormati, pun menghindari sikap yang tidak bersahabat. Dalam sejarahnya, Rasulullah Saw. telah memberi contoh bagaimana berhubungan baik dengan antar-umat manusia, bahkan yang berbeda agama sekalipun.

Beberapa hari lalu, kami mendapat undangan dari seorang perempuan nonmuslim taat, warga negara Nigeria, mahasiswa program PhD University of Wollongong. Dia mengajak menghadiri ulang tahun di rumahnya. Nyonyaku dan putriku pergi ke sana. Saya sendiri tidak ikut karena bersamaan waktunya dengan salat Duhur. Saya harus ke masjid.

Ternyata pukul 12 siang mereka ke sana, hidangan untuk acara ulang tahun belum siap. Mereka lebih banyak cerita ini dan itu, sambil menunggu tamu-tamu lain. Nyonyaku dan putriku minta izin salat Duhur di rumahnya. Justru sang perempuan nonmuslim itu yang menunjukkan arah kiblat.

Satu jam kemudian saya hubungi nyonyaku lewat telepon. Sebab, kami masih ada urusan lain. Lalu, nyonyaku minta izin duluan pulang dan tak sempat makan apa pun di sana. Padahal, beberapa hari sebelumnya, si perempuan ini sudah memesan ayam halal mentah untuk nyonyaku. Sayangnya belum sempat dia masak.

Esok harinya, si perempuan ini menghubungi nyonyaku. Kalau ada waktu, datang lagi ke rumahnya khusus untuk makan ayam halal yang kemarin, karena dia tidak sempat ikut makan. Karena nyonyaku ada urusan di kampus, diutuslah putraku ke rumah perempuan tersebut untuk mengambil makanan yang dimaksud.

Kami membekalinya dengan tempat makanan supaya tak perlu memakai kantong plastik. Sesampai di sana, putraku diberi makanan ringan, permen, dan kue-kue khas ulang tahun. Selain itu, juga dikasihkan ayam halal yang masih mentah. Mengapa masih mentah? Kenapa tidak makanan jadi seperti ayam goreng atau rendang, misalnya? Ternyata si perempuan ini berubah pikiran.

Dia sengaja memberikan makanan ayam halal yang masih mentah tersebut karena khawatir cara memasaknya. Jangan sampai ketika dia memasak ayam tersebut menjadikan makanan itu tidak halal bagi kami. Sehingga dia berpikir, lebih baik diserahkan dalam keadaan mentah saja. Biarlah kami yang memasaknya. Ini adalah sikap dan pengetahuan yang sangat penting. Juga bentuk toleransi yang tinggi. Tak banyak orang yang paham akan hal itu, terutama yang nonmuslim.

Ayam yang disembelih dengan cara Islam boleh jadi menjadi tidak halal karena cara memasaknya. Misalnya, wadahnya sudah bercampur dengan daging yang tidak halal. Atau, bisa jadi ada bumbu masak yang dimasukkan ke dalam daging ayam tersebut yang terbuat dari makanan yang tidak halal. Kami berbaik sangka kepada perempuan Afrika tersebut. Dia mungkin mencari informasi tentang apa dan bagaimana makanan halal bagi umat muslim.

Saya tahu ini adalah bentuk toleransi yang dia lakukan kepada kami. Dia dan nyonyaku adalah teman yang baik dan saling membantu. Mereka sudah berteman sejak satu tahun terakhir ini. Insya Allah, pertemanan yang tulus atas nilai-nilai kemanusiaan. Saling menghargai dan saling menghormati.

Di negara kita kadang ada makanan yang tidak halal diperjualbelikan secara bebas. Bahkan dipampang secara terbuka. Padahal, mayoritas pembeli atau masyarakat di sekitarnya adalah muslim. Saya pikir ini adalah salah satu bentuk intoleransi. Jangan atas dasar bisnis melupakan sikap toleransi. Beda halnya jika dilakukan di tempat yang mayoritas nonmuslim. Tidak ada masalah.

Jika memang mau menjual makanan yang tidak halal, sebaiknya dikatakan dengan jujur. Jangan sembunyi-sembunyi. Tuliskan di luar restoran dengan besar “makanan ini tidak halal untuk muslim” atau “makanan khusus”. Di beberapa restoran di Malaysia, pernah saya dapati tulisan seperti ini. Satu sikap yang baik dan terpuji.

Wassalam
Gwynneville (8/8/2019)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here