Perspektif Haidir#9: Urusan Pernikahan Harus Dimudahkan, Jangan Dibuat Sulit

0
74
Penulis bersama sang istri.

Oleh: Haidir Fitra Siagian

Aktivis Muhammadiyah Sulawesi Selatan, saat ini tinggal di Australia

KLIKMU.CO

Sabtu kemarin, 10 Agustus 2019 atau 09 Dzulhijjah 1440 H, adalah hari yang berbahagia bagi kami sekeluarga terutama kami berdua, saya dan istri. Ini bertepatan dengan tanggal pernikahan kami, yakni hari Ahad, 10 Agustus 2003 pukul 10.00 Wita. Pernikahan dilaksanakan di Masjid Ridha Allah Somba, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Selatan (saat itu masih masuk dalam Provinsi Sulawesi Selatan). Masjid ini persis di jalan poros negara, kilometer 32 dari Kota Majene atau 332 dari Kota Makassar ke arah Kota Mamuju.

Haji Abdul Kadir Yanggi S.Ag. adalah mantan kepala SMP Negeri Sendana, sebagai orang tua kandung calon istriku saat itu, menikahkan kami di hadapan para saksi yang hadir, persis di depan mighrab masjid. Hadir dalam acara tersebut keluarga saya dari Sumatra Utara. Ada ayah, ibu, Wak Sonnip Siagian dari Sidimpuan, juga Bou Anne Faidah Siagian dari Singapura, kakak sepupu Masyitoh Hutasuhut dari Jakarta, dan keluarga Abang Rifai dari Makassar (saat itu, sebelum pindah ke Duri).

Juga dari keluarga besar Dalihan Na Tolu Makassar dan sekitarnya. Ada Bang Harahap, Pak Rangkuti, dan lain-lain. Warga masyarakat pun ramai yang hadir, terutama tetangga dan mereka yang bermukin tak jauh dari masjid, diundang atau tidak diundang. Mereka datang berbondong-bondong ke masjid, bahkan ada yang melihat dari jendela dan berdesak-desakan di pintu.

Tampil membawakan hikmah pernikahan adalah KH. Djamaluddin Amien (alm), mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan membaca doa adalah KH. Muhammad Husain Unding (alm), Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sendana Kabupaten Majene. Sedangkan yang menjadi saksi yang sempat saya ingat antara lain adalah Bapak Drs. K.H. Nasruddin Razak, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Drs. H. M. Ali Hakka, Ir. H. Muhammad Syaiful Saleh, M.Si., Drs. H. M. Yusuf Tuali (Wakil Ketua DPRD Kabupaten Polman/Ketua PDM Polman), Drs. H. Ashabul Kahfi, M.Ag. (Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan), ustadz Saleh Molla, Muhammad Najib, Mansyur, S.Ag. (alm), serta H. Pawennari Sikki dari Polewali. Dan teman-teman Angkatan Muda Muhammadiyah Sulawesi Selatan dibawah komando Ustadz Amiruddin Bakri, S.Ag.

Jika saya ingat-ingat kembali, hampir semua proses pernikahan kami dilakukan dengan proses yang sederhana dan bermakna. Mulai dari proses melamar pada dini hari sebelum subuh, membicarakan hal-hal teknis pernikahan, biaya mahar yang cukup diransfer lewat Bank BNI, sampai kepada acara pernikahan itu sendiri. Semua amat sangat sederhana. Tanpa pelaminan dan tak persandingan. Tak ada undangan resmi yang dicetak atau tertulis. Undangan hanya dari mulut ke mulut saja. Tak ada pesta musik, tak ada pesta mewah.

Satu lagi, ini yang sangat unik dan langka. Biaya mahar yang saya tawarkan, justru dianggap terlalu banyak. Jadi dikurangi hampir tiga puluh persen. Ada tawar menawar ke bawah. Bukan minta dinaikkan sebagaimana biasanya di kalangan masyarakat umum. Oleh bapak mertuaku, semua dirancang sesederhana mungkin dan seringan-ringannya berdasarkan syariat Islam. Saya ingat, sebelum menikah, bapak sudah mengatakan demikian. Dia bilang bahwa caranya menikahkan ini diluar kelaziman, tidak sesuai dengan kebiasaan dan budaya Mandar. Bahkan katanya, orang akan mencelanya. “Tapi saya tidak peduli”, katanya.

Cukup lama saya heran atas sikap bapak yang demikian. Tidak banyak orang tua yang demikian. Ternyata beliau adalah penggemar Buya Hamka, mantan Ketua MUI Pusat. Beliau juga banyak membaca buku-buku agama, majalah Panjimas, majalah Suara Hidayatullah, Suara Muhammadiyah, dan lain sebagainya. Termasuk buku ensiklopedia Islam sampai kepada bukunya Yusuf Qardawi, Amin Rais, dan Karen Amstrong. Saya baru tahu juga belakangan bahwa beliau adalah pernah menjadi Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kabupaten Majene beberapa periode. Saya bangga punya bapak mertua yang demikian, insya Allah dilapangkan keadaannya di kuburan dan hari akhirat nanti.

Alhamdulillah, setelah enam belas tahun, oleh Allah Swt., kami diamanahi tiga orang keturunan yakni Luqman, Fauziah dan Athirah. Saat ini ketiganya sekolah di Wollongong Australia. Kami tinggal di sini, karena mengikuti istri yang sedang menempuh pendidikan program doktoral dalam bidang kesehatan masyarakat di University of Wollongong, Australia, hingga beberapa tahun ke depan. Insya Allah.

Semoga Allah Swt. memberi berkah kepada keluarga kami dan kepada teman-teman yang sempat membaca ini. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalam

Kampus UoW, 10 Agustus 2019 pukul 12.00 jelang duhur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here