Pertautan Islam dan Jawa

0
120
Foto diambil dari internet

Oleh: Aria Bagus Iyana *)

KLIKMU.CO

Telah diungkapkan bahwa agama yang ada di negara ini adalah Islam. Berdasakan referensi awal, kepercayaan ini dalam catatan sejarah Jawa muncul pada abad ke-20 tahun Jawa (1250 M), ketika sebuah usaha untuk memengaruhi beberapa pangeran Sunda gagal. Kemudian pada akhir abad ke-14, beberapa misionaris menetapkan dirinya di provinsi bagian barat.

Dalam catatan sejarah Jawa dan pada tradisi umum di daerah, hal itu terjadi pada awal abad ke-15 tahun Jawa, atau sekitar tahun 1475 M di mana kerajaan Hindu majapahit berdiri dan berkuasa di pulau itu, namun kemudian tergeser, dan agama Islam mengokohkan dirinya di negara ini.

Masyarakat asli masih setia memercayai institusi nenek moyang mereka, dan meskipun mereka telah lama berhenti beribadah di candi-candi dan dan mengidolakan pembawa ajaran ketuhanan, mereka masih menunjukan perhatian yang tinggi pada hukum, adat istiadat, dan kebiasaan setempat yang telah ada sebelum kedatangan agama Islam. Meskipun beberapa orang di antara mereka masih mempunyai keyakinan besar dan semakin dekat dengan Islam daripada orang lain, hal ini merupakan suatu keadaan yang sesuai di Jawa pada umumnya.

Ketika mereka percaya akan keberadaan Tuhan, dan percaya bahwa Muhammad sebagai utusan-Nya, kemudian melaksanakan beberapa bentuk aturan dari pembawa ajaran Islam dan kebiasaan-kebiasaan lain, sedikit demi sedikit mereka terbiasa dengan doktrin-doktrin A
agama tersebut dan percaya untuk menjadi pengikutnya. Beberapa pemimpin melarang penggunaan anggur, dan orang-orang tidak lagi minum-minuman keras. Hal ini tidak berasal dari motif agama-agama manapun.

Institusi ajaran Muhammad masih dalam bentuk dasar, dan dengan perdagangan bebas, seorang guru dari Arab dapat diharapkan untuk datang. Kelengkapan lain biasanya didasarkan pada hukum ajaran Muhammad, tetapi dalam kasus-kasus tertentu, aturan dalam ajaran Muhammad juga diadopsi dari hukum yang berlaku dalam masyarakat Jawa, yang jarang dicampur dengan institusi kuno daerah-daerah lain.

Sistem pendidikan Jawa-Islam
sedikit mengerucut berkenaan tentang status sosial masyarakat jawa. Clifford Greetz dalam bukunya Agama Jawa Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudaayaan Jawa menyebutkan agama abangan yang sangat ritualistik dan demikian terikat kepada adat tidak memerlukan latihan formal untuk mendukungnya. Ia bisa dipelajari sebagaimana semua yang lain dalam kehidupan seorang petani –secara sambil berlalu atau sengaja– dengan mengikuti contoh-contoh yang diberikan oleh orang lain. Hal itu berlangsung terus lewat pengulangan kembali berbagai drama singkatnya yang terjalin sebagaimana adanya ke dalam seluruh irama kehidupan sosial dan budaya.

Di pusat sistem sekolah tradisional terdapat pondok, seringkali juga disebut pesantren. Sebuah pondok terdiri atas seorang guru-pemimpin, pada umumnya seorang haji yang disebut Kiyai dan sekelompok murid laki-laki yang berjumlah 300 atau 400 sampai 1000 orang yang disebut santri. Para kiai-tabib, penasihat, guru, dan cendekiawan –adalah orang-orang yang paling tinggi prestasinya dikalangan umat. Kebanyakan mereka adalah anak petani kaya yang mampu mengirim mereka naik haji atau lebih umum lagi; membawa mereka naik haji.

Telah saya sebutkan bahwa tiap daerah mempunyai ulama sendiri, dan di tiap daerah terdapat sebuah masjid atau bangunan yang dipersiapkan sebagai tempat pelaksanaan ibadah. Pelayanan bagi penganut Islam diutamakan; dan penghulu atau ulama selalu dimintai pendapat guna memutuskan setiap masalah yang berkaitan dengan pernikahan, perceraian dan wasiat. Ia juga berhak mengingatkan penduduk untuk mempersiapkan musim mengolah tanah. Ia digaji dengan hasil pertanian, termasuk dari biaya untuk melakukan khitanan, pernikahan, perceraian dan pemakaman dalam setiap musim dan kesempatan tertentu.

Sebagian besar ulama adalah orang Jawa. Dalam menjalankan tugasnya, mereka memakai busana yang berbeda dengan orang Jawa pada umumnya; memakai surban dan baju panjang, seperti tata cara orang arab, dan sebagai penunjang sedapat mungkin menumbuhkan beberapa rambut di janggut yang disebut jenggot. Agama Islam yang berkembang di Jawa terlihat hanya menekankan penampakan dan pelaksanaan, tetapi hanya sedikit yang berakar dalam hati orang-orang Jawa. Beberapa orang di antara mereka sangat antusias dan semua mendukung serta merespons doktrin tersebut.

Terdapat korelasi yang cukup erat antara bagaimana agama Islam masuk di tanah Jawa ini, dengan sangat damai dan santun, dengan tahap dan proses yang cukup panjang dilakukan oleh para ulama dan kiai kita. Hal ini menjadi contoh dan hikmah bahwa Islam masuk dalam tanah Jawa dengan membawa misi dakwah yang damai, santun, dan membahagiakan. (*)

*) Kader PC IMM Kabupaten Ngawi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here