Pidato Milad Ketua Umum Soroti Pandemi dan Persoalan Negeri

0
118

Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir MSi dalam resepsi Milad Ke-108 Muhammadiyah yang digelar secara virtual menyampaikan empat poin penting dalam pidatonya. Pertama, soal menghadapi pandemi.

Menghadapi Pandemi

Menurut Haedar, ketika memperingati milad ke-108, Muhammadiyah berada dalam suasana bangsa dan dunia yang masih menghadapi pandemi Covid-19. Karena itu, sebagai kaum beriman, pandemi ini merupakan musibah yang harus dihadapi dengan ikhtiar dan doa yang sungguh-sungguh agar Allah SWT mengangkatnya.

“Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), Aisyiyah, dan seluruh komponen gerakannya sejak awal terus berbuat yang maksimal dalam menghadapi sekaligus mencari solusi atas pandemi ini. Muhammadiyah mengambil langkah memberi solusi dalam usaha kesehatan, sosial-ekonomi, edukasi masyarakat, dan panduan keagamaan hasil ijtihad tarjih,” paparnya.

Haedar Nashir juga menyinggung bahwa Muhammadiyah mendapatkan penghargaan dari Kementerian Kesehatan atas kinerjanya dalam melawan Covid-19. Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional Ke-56 tanggal 12 November 2020.

“Semuanya merupakan bukti, jika Muhammadiyah berbuat baik wujud dari amal saleh dengan ikhlas, kiprahnya akan memeperoleh dukungan positif dari masyarakat luas,” ujarnya.

Persoalan Negeri

Haedar juga menyoroti masalah negeri. Menurutnya, terkait masalah negeri, Muhammadiyah sejak awal kelahiran sampai kini tiada henti memberikan solusi untuk negeri. Muhammadiyah bersama komponen bangsa lainnya berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan masalah bangsa.

“Di era sebelum Indonesia merdeka hingga setelah kemerdekaan, Muhammadiyah terus berbuat bagi kemajuan negeri. Sejarah membuktikan, di saat-saat kritis Muhammadiyah hadir memberi solusi. Seperti dalam mencari titik kompromi perumusan dasar negara Pancasila setelah satu hari proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945,” terangnya.

Guru besar UMY itu menjelaskan, bangsa Indonesia saat ini masih menghadapi masalah berat seperti korupsi, utang luar negeri, eksploitasi sumber daya alam, kesenjangan sosial-ekonomi, konflik antarkomponen bangsa, produk legislasi yang kontroversi, oligarki politik, serta masalah-masalah kebangsaan lainnya.

“Karena itu, Muhammadiyah terus berikhtiar untuk proaktif memecahkan masalah bangsa,” katanya.

Namun, lanjut Haedar, Muhammadiyah tidak dapat menghadapi masalah bangsa sendirian. Diperlukan kerjasama dan pembagian tugas dalam menyelesaikan masalah bangsa sesuai dengan posisi dan peran masing-masing dalam jalinan kebersamaan, sinergi, dan persatuan nasional.

Warga Muhammadiyah, kata Haedar, harus tetap bersemangat dalam menggerakkan usaha-usaha memajukan kehidupan. Di tengah pandemi dan banyak masalah negeri segenap warga, kader, dan pimpinan Muhammadiyah diharapkan terus bersemangat menggerakkan organisasi serta menjalankan peran keumatan dan kebangsaan sesuai kondisi.

“Gerak Muhammadiyah dan amal usahanya sampai ke akar rumput harus tetap bertumbuh, dengan langkah dan cara yang kreatif dan inovatif. Manfaatkan teknologi informasi sebagai bagian dari adaptasi Muhammadiyah hidup di era revolusi 4.0. sekaligus memberi solusi hadapi pandemi dan masalah negeri,” tegasnya.

Karakter Muhammadiyah

Prof Haedar melanjutkan, Muhammadiyah dalam rentang usia 108 tahun penting meneguhkan jati diri sebagai gerakan keagamaan. Sejak kelahirannya tahun 1912 Muhammadiyah menegaskan diri sebagai perhimpunan Islam yang “menyebarloeaskan” dan “memajoekan” hal Agama Islam. Radius gerakannya semula di Karesidensi Jogjakarta, selanjutnya di Hindia Timur atau Indonesia. Kenapa Muhammadiyah kala itu lahir?

“Kondisi umat Islam di awal abad ke-20 itu tidak berpegang teguh kepada ajaran Islam yang murni; terpecah belah tanpa persatuan; pendidikan tidak sejalan dengan tuntutan zaman; mereka hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta berpikir secara dogmatis, konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme; serta pengaruh misi zending yang semakin kuat,” ujar Haedar mengutip Junus Salam (1968).

Kiai Dahlan memberi jawaban dengan melakukan pembaruan (tajdid) pemahaman Islam, memperkenalkan pendidikan Islam modern, gerakan baru membangun kesehatan dan pelayanan sosial berbasis Al Maun dan PKO, serta pengorganisasian zakat dan haji.

Haedar lantas mengutip pendapat Prof Mukti Ali (1958) yang meringkas misi pembaruan Muhammadiyah tersebut sebagai berikut: (1) Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan yang bukan Islam; (2) Reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern; (3) Reformulasi ajaran dan pendidikan Islam; dan (4) Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar.

“Para ahli menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern atau reformis,”jelasnya.

Memberi Solusi

Prof Haedar lantas menerangkan  bahwa pandemi dan kondisi terkini dalam negeri menjadi perhatian lain Muhammadiyah dalam milad Rabu kemarin (18/11). “Kami mengajak pemerintah, kekuatan politik, warga bangsa, umat Islam, dan keluarga besar Muhammadiyah untuk menebar dan mewujudkan nilai-nilai kebaikan dan ikhtiar kolektif dalam memberi solusi hadapi pandemi dan masalah negeri,” tandasnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here