Pilgub Jatim 2018: Ini Paslon yang Akan Dipilih (Warga) Muhammadiyah

0
1703

WAWANCARA EKSKLUSIF
dengan
Prof. Dr. H. Zainuddin Maliki, M.Si.
Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur dan
Pengamat Politik

Dalam hitungan bulan, rakyat Jawa Timur akan menyambut pesta demokrasi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) 2018. Muhammadiyah Jawa Timur sebagai bagian tak terpisahkan dari rakyat, mau dan tidak mau juga akan terlibat langsung dalam kontestasi politik tersebut.

Bagaimana sikap Muhammadiyah dan ke mana warga Persyarikatan ini akan melabuhkan pilihan politiknya di antara 2 calon yang akan bertanding? Berikut petikan wawancara M. Syaikhul Islam Pemimpin Redaksi KLIKMU.CO dengan Prof. Dr. H. Zainuddin Maliki, M.Si. Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur yang membidangi Hikmah sekaligus juga pengamat politik, Kamis (1/2).

Pemilukada Jawa Timur sudah di depan mata. Muhammadiyah dengan segala potensinya, apakah cukup menarik bagi para paslon?

Calon yang cerdas pasti akan berusaha mengejar suara warga Muhammadiyah. Pilihan warga Persyarikatan yang rata-rata adalah lapisan menengah, yang dalam menentukan pilihannya didasarkan pada pertimbangan rasional, bukan karena “NPWP” dan atau “serangan fajar.” Pilihan warga persyarikatan juga bukan berangkat dari money politics. Tetapi, didasarkan pada keinginan mendapatkan pemimpin yang punya integritas dan kapasitas. Oleh karena itu, pilihan seperti ini akan menjadi penguat bagi warga lain yang memiliki aspirasi dan visi yang sama, yaitu aspirasi warga yang menghendaki Jawa Timur dipimpin oleh pemimpin yang bersih, cerdas, berintegritas, dan punya kapasitas.

Faktanya, meski relatif memiliki basis massa yang kuat dan besar, kader-kader Muhammadiyah belum ada yang berkontestasi dalam Pemilukada Jawa Timur. Apa faktor?

Selama ini, Muhammadiyah memilih bergerak di jalur kultural dan dakwah. Muhammadiyah tidak pernah mencatatkan diri sebagai partai politik dan apalagi peserta pemilu. Pilihan ini meneguhkan Muhammadiyah menjadi kekuatan yang begitu kokoh di bidang kultural dan dakwah. Elite yang lahir pun adalah elite di bidang intelektual, kultural, dan dakwah. Sementara, diakui atau tidak menjadi “miskin” tokoh politik, terutama politik praktis. Bahkan, elite Muhammadiyah didominasi oleh mereka yang ingin menjauhkan organisasi dari politik dengan membuat surat edaran tentang larangan berpolitik bagi pemegang jabatan pimpinan Persyarikatan, amal usaha, dan organisasi otonomnya.

Di internal Muhammadiyah, ada yang berpandangan bahwa cukuplah Persyarikatan menjadi tenda besar bagi seluruh elemen bangsa. Bagaimana konkritnya?

Negeri ini membutuhkan sumberdaya manusia terutama pemimpin yang memiliki kesadaran spiritualitas yang tinggi, semangat melakukan liberasi atau pembebasan masyarakat dari berbagai macam bentuk ketidakadilan, penghisapan, dan kesewenang-wenangan. Di samping juga membutuhkan pemimpin yang bisa mencerahkan menuju kehidupan yang luhur dan bermartabat. Kontribusi penting dari Muhammadiyah terhadap kehidupan dan masa depan bangsa ini, melalui gerakan kultural dan dakwahnya adalah penyediaan sumberdaya manusia yang punya kecerdasan intelektual maupun spiritual seperti itu. SDM yang berintegritas seperti itulah yang punya kapasitas untuk hadir menjadi payung dan tenda besar bagi semua elemen bangsa.

 

Dengan posisi di luar ‘ring pertandingan,’ lantas apa target dan sikap yang akan diambil Muhammadiyah Jawa Timur?

Muhammadiyah ingin mengawal Pilgub di Jawa Timur agar menjadi momentum bagi masyarakat untuk memilih pemimpin dari calon yang ada, yang dinilai lebih memiliki kemampuan menciptakan Jawa Timur kondusif bagi semua pihak untuk tumbuh berkembang. Bisa memacu seluruh elemen masyarakat mengejar ketertinggalan, menghapus kebodohan, kemiskinan, dan mempersempit kesenjangan. Pemimpin yang punya gagasan cerdas dalam memperkuat lembaga dan institusi yang bisa membuat masyarakat semakin cerdas serta berpola hidup sehat. Pemimpin yang bisa mendorong lahirnya kelas menengah dengan jiwa filantropi yang kuat, sehingga punya kepedulian kreatif dalam mengangkat lapisan masyarakat yang belum beruntung.

Pemilukada sebelumnya dan Pemilukada tahun ini, tentu menjadi pelajaran penting bagi Muhammadiyah Jawa Timur. Apa rekomendasi Prof. untuk ke depannya agar Muhammadiyah dapat berbuat lebih?

Pelajaran dari tahun politik 2018 ini bagi Muhammadiyah adalah bahwa sudah fair kalau kecenderungan Muhammadiyah membatasi elitenya untuk bersentuhan dengan politik melalui surat edaran larangan rangkap jabatan, lalu membuahkan kontribusi yang terbatas juga di bidang politik. Justru tidak fair kalau membuat pembatasan, lalu meminta kekuasaan lebih dari apa yang seharusnya diperoleh. “Laha ma kasabat wa ‘alaiha maktasabat.” Membatasi diri dan mendapat hasil terbatas, itu sudah fair. Kalau mau minta lebih, maka juga harus berusaha lebih.

Pilgub 2018 dipastikan hanya akan diikuti dua paslon. Melihat, karakter pimpinan dan warganya, kira-kira Muhammadiyah akan melabuhkan suaranya ke mana?

Hanya ada dua pasangan calon dalam pilgub jatim 2018. Warga Persyarikatan Muhammadiyah yang punya budaya politik rasional, jelas akan melabuhkan kepada calon yang memiliki kemampuan memimpin untuk menggunakan pengaruhnya, mengelola, dan menggerakkan roda birokrasi dengan kemampuan manajerialnya yang baik. Akan menjatuhkan pilihan kepada calon yang bisa memacu social capital yang ada di masyarakat. Memilih yang memiliki ide dan komitmen tinggi dalam mengembangkan dunia pendidikan, kesehatan, dan mendorong lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi untuk mencerdaskan, mencerahkan, dan menyejahterakan masyarakat Jawa Timur. (ICOOL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here