Pilihlah Pemimpin Sesuai dengan Kriteria Islam

0
331
Muktamar Ke-47 Muhammadiyah di Makassar, Sulawesi Selatan. (Liputan6.com/Eka Hakim)

Oleh: H.M. Sun’an Miskan Lc

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta

KLIKMU.CO

Perubahan itu sesuatu yang pasti. Ia sunah Allah yang berlaku di masyarakat dan dibutuhkan pemimpin. Pimpinan formal kenegaraan dan pimpinan nonformal untuk organisasi kemasyarakatan.

Landasannya adalah Al Qur’an dan Al Hadist : a) Al Quran Surat Al Anfal :53 … ayat tentang perubahan; b) Al Quran Surat Ar Ra’du 11 ….. ayat tentang perubahan; dan c) Al Quran Surat An Nisa 59 … ayat untuk taat pada Allah, Rasul dan ulil Amri Memilih; d. Al Quran Surat Ali Imran 159 .. ayat tentang musywarah di antaranya untuk mendapatkan ulil amri, pemimpin formal maupun nonformal; e. Al Hadist dari Abu Hurairoh, riwayat Shohih Abu Dawud yang artinya Sesungguhnya Allah membangkitkan untuk ummat ini di tiap awal seratus tahun tokoh (pergerakan) yang memperbaharui urusan agamanya (terutama meluruskan paham agamanya yang diselewengkan dari asas Tauhid dan dalam manajemen memodernisir); f. Al Hadist dari Abdullah bin Amru, riwayat Abu Dawud …. tentang memilih pemimpin itu wajib yang artinya tidak halal untuk 3 orang yang berada di suatu tempat di bumi dan mereka tidak mengangkat salah satunya jadi pemimpin.

Perubahan Adalah Sifat Utama Kebudayaan

Kebudayaan selalu berubah dan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pendukungnya yang tidak pernah puas dan selalu ingin tahu serta inovasi baru: gagasan, teknologi baru yang lebih canggih tanpa terasa mengubah sistem budaya. Dibanding 25 tahun lalu Indonesia sudah berubah.

Arah perubahan bangsa Indonesia tidak terbayangkan sebelumnya. Teknologi informasi canggih, masyarakat terbuka dengan dunia luar. Luar negeri minded, terutama AS, dianggap yang paling baik. Ditiru dimiliki bukan fungsinya, tetapi ingin citranya. Menjadi materialistis, egoistis, konsumtif, dan hedonis.

Aktivitas ekonomi mengarah dari pertanian dan industri ke pasar terbuka. Sementara pasar luar negeri dan modal membanjir ke dalam negeri. Seharusnya segera membuat zona pertahanan. Zona Ekonomi Asia Tenggara untuk hadang kapitalis luar. Ekonomi Muhammadiyah untuk menghadang pasar Asia Tenggara, sehingga Muhammadiyah dapat mandiri dibidang ekonomi yang syari.

Mentalitas asli bangsa adalah budaya nerabas (Kuncoroningrat, 1969). Mental ini tidak cocok untuk menopang pembangunan. Tidak mau kerja keras, tidak punya disiplin tinggi, tidak punya rasa tanggung jawab. Perlahan menghilangkan rasa malu dan inilah yang menggiring ke arah korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Tatkala Orde Baru runtuh, lalu reformasi mati suri, terjadilah krisis makin lama, lalu banyak yang tak sabar. Semua ingin diselesaikan dengan cepat. Lahirlah fenomena dukun Ponari yang katanya (tak ada saksi) disambar geledek, lalu mendapat batu sakti untuk pengobatan. Diperalat panitia/orang di belakang layar dukun Ponari, mereka inilah yang diuntungkan dengan uang melimpah. Termasuk caleg pun ramai-ramai ke dukun dan karena tidak lolos jadi legislator akhirnya mereka stres. Akibat yang paling fatal ialah tauhid rusak dan kemusyrikan berkibar.

Mengarahkan Perubahan yang Dicontohkan Rasulullah

Perubahan yang diutamakan oleh Rasulullah SAW adalah lewat pembangunan masyarakat, pembangunan SDM yang bermutu. Beliau tegakkan, contohkan akhlak mulia yang dilandasi tauhid dan keihlasan. Maka lahirlah masyarakat madani, civil society, masyarakat kewarganegaraan. Setiap warga bangsa dilindungi hak asasinya, tidak boleh ada paksa-memaksa dalam beragama. Mereka bebas menyampaikan pendapat untuk mewujudkan masyarakat yang aman mutakaafil, saling topang menopang dalam kehidupan ekonomi. Yang siap diterapi sistem pemerintahan, sistem hukum dll. Terutama dalam keadaan krisis kepemimpinan.

Lewat syuro di Gedung Parlemen Tsaqif Bani Saidah Madinah, seluruh perwakilan Muhajir, Anshor, dan berbagai qobilah sepakat untuk memilih Abu bakar ra sebagai khalifah, sebagai Amir Mukminin, sebagai kepala negara, sesaat sebelum jenazah Rasulullah SAW dimakamkan. Perubahan ini disebut perubahan kebudayaan, perubahan kultur lewat pembangunan SDM bermutu yang siap melahirkan berbagai produk ijtihad. Sistem dakwah dan perubahan di atas adalah yang dianut oleh gerakan Islam Muhammadiyah yang dikenal sebagai strategi high politics.

Sementara Madinah yang semula bernama Yastrib, yang suka membadui, hidup mengembara di padang pasir, sehingga jadi kasar jiwanya, suka membunuh bayi perempuan diubah menjadi Al Madiinah Al Munawwarah. Kota berbudaya yang disinari nilai-nilai Islam. Dan masyarakat Madinah yang plural, berbagai agama dan berbagai suku, baik yang asli atau pendatang, diikat dengan aturan bersama untuk hidup damai dalam bentuk sebuah kesepakatan bersama, yang ditandatangani bersama yamg disebut dengat “Miistaq Al Maidah“ atau “Perjanjian Madinah”.

Di antara isinya ialah tidak boleh ada paksa-memaksa dalam beragama. Siapa yang dianiaya di bidang sosial kemasyarakatannya harus dibela meski berbeda agama. Mereka penduduk Madinah harus sepakat bekerja sama menghadapi musuh dari luar yang akan merusak Madinah. Sistem pemerintahan ini disebut dengan “daulatul Mu’ahadah“ negara perjanjian.

Perubahan ini disebut perubahan struktural lewat pemerintahan. Para pendiri republik pada proklamasi 17 Agustus 1945 mengadakan konsesus politik sepakat mendirikan negara kesatuan RI (NKRI ), yang ber-Bineka Tunggal Ika dan berfalsafah Pancasila yang oleh Muktamar Muhammadiyah Makassar 3-7 Agustus 2005 disebut dengan “daulatul ‘ahd wa al syaahadah“ seperti Traktat Madinah di zaman Rasulullah SAW.

Perubahan Jangka Panjang lewat Dakwah-Pendidikan, Jangka Pendek lewat Kekuasaan

Muhammadiyah adalah menganut sistem perubahan yang digariskan Rasul saw di atas adalah sebagai berikut.

  1. Perubahan jangka panjang/perubahan kultural/ kebudayaan. Visinya ke depan adalah gerakan Islam, amar makruf nahi mungkar, konsisten bertajdid, berasas (organisasi) Islam bersumber Qur’an & Sunnah Al maqbulah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Masyarakat yang sebenar-benarnya itu sasaran antaranya adalah masyarakat madani. Misinya, pertama adalah berijtihab untuk melahirkan pedoman hidup fatwa baru yang menzamani untuk memberi pencerahan dan pencerdasan bangsa. Ditangani Majelis Tarjih dengan ijtihad jama’inya dan tambahan seperangkat qaidah ushul fiqh baru.

Kedua, menyebarluaskan, memberi penerangan, menyosialisasikan hasil keputusan tarjih dan pemikiran formal Muhammadiyah serta Islam yang kaffah itu ke seluruh bangsa. Ketiga, mendirikan amal usaha masjid , sekolah dll untuk membuat mini masyarakat Islam yang sebenar- beanarnya.

  1. Perubahan Struktural
  2. Menghormati UU (undang-undang ) yang berlaku dan falsafah negara (dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat (Lihat kepribadian Muhammadiyah pada bab sifat Muhammadiyah).
  3. Independen dalam politik ( Lihat khittah perjuangan). Bagi kadernya yang ada peluang karena politik praktis dipersilakan dan sudah tidak usah membawa bendera, yang penting bawa misi Islam dan juga kepentingan Muhammadiyah
  4. Muhammadiyah juga peduli politik, tetapi yang dimainkan adalah high politics.

Kepedulian Muhammadiyah: Kultur, Muktamar dan Perubahan Struktur, Pemilu.

  1. Rekrut pemimpin Muhammadiayah lewat Muktamar

Tuntunan PP Muhammadiyah dan Kebijakan PWM DKI tentang kriteria pemimpin Muhammadiyah ke depan (Dimuat di Suara Muhammadiyah Edisi Khusus Muktamar 1 abad di Yogya oleh M. Sun’an Miskan dengan judul Memaknahi Muktamar 1 abad Muhammadiyah). Pemimpin Muhammadiyah ke depan di samping memiliki persyaratan seperti yang tercantum dalam SK PP no: 94/KEP/1.0/B/2009 adalah setiap anggota Muhammadiyah yang memenuhi persyaratan.

Syarat yang dapat dicalonkan di antaranya taat beribadah, setia pada prinsip perjuangan Muhammadiyah, dapat diteladani, dan taat pada garis kebijakan Muhammadiyah dll.

Kedua hal itu dapat ditajamkan dengan 4 kriteria yang lebih jelas, yaitu memiliki paham agama seperti paham agama yang diajarkan oleh Muhammadiyah/Islam berkemajuan/antisipasi perubahan/yang menyejajarkan hubungan antara hablum minallah dan hablum minannas/fiqh al ma’un. Yaitu memadukan antara pemikiran Bayani, pemikiran Burhany dan ‘Irfaaniy.

Kedua, kader persyarikatan yang berideologi Muhammadiyah kuat dan terbukti mampu membesarkan persyarikatan. Mau menyisihkan waktu untuk Muhammadiyah dengan mobilitas yang tinggi dan tidak ashobiyah.

  1. Perubahan struktur kekuasaan dengan memilih pemimpin lewat pemilu

Dalam menghadapi tahun politik 2019, PP Muhammadiyah mengeluarkan instruksi netral: menjaga kekompakan, kebersamaan, keutuhan, dan persatuan. Ketua Umum PP MuhammadiyahProf Dr Haedar Nashir MSi meminta anggota Muhammadiyah harus menjadi pemilih yang aktif, cerdas, dewasa, bertanggung jawab, dan berbekal keilmuan. Tujuannya untuk menyukseskan kontestasi politik lima tahunan tersebut sebagai sarana demokrasi untuk kemajuan bangsa dan negara. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here