Pilpres 2019: Tahun Hoax?

0
147
Foto ilustrasi social media diambil dari warta-kota

KLIKMU.CO

Oleh : Arifudin*

Dahulu hingga sekarang banyak orang yang menyebutkan bahwa 2019 itu adalah tahun politik. Pada tahun tersebut akan berlangsung pesta demokrasi, pemilihan presiden (pilpres).

Tahun di mana partai politik (parpol) terlihat memerah hingga membiru, lalu menguning, dan dipanen usai pemilu. Tahun politik berarti tahun yang penuh siasat.

Boleh jadi merencanakan untuk membangun, merubuhkan, menendang, atau-pun melenyapkan. Namun di sisi lain kita lupa bahwa 2019 yang disebut-sebut sebagai tahun politik itu juga berpotensi besar menjadi tahun hoax.

Bukan_kah dari sekarang, kita sudah melihat bagaimana berbagai isu-isu digoreng dengan hangat, lalu publik digodok dengan informasi “palsu” diiringi adegan penuh dengan drama?

Sedangkam media berlomba-lomba mendukung dan menjatuhkan masing-masing pasangan calon (paslon). Framing (pembingkaian) dan agenda setting-pun dimainkan.

Jika sejalan, maka paslon yang didukung digambarkan seolah-olah sosok yang bermalaikat yang telah berkontribusi banyak bagi negeri. Sebaliknya, lawannya seolah sosok jahat. Tak elok dipilih sebagai pemimpin rakyat.

Penulis melihat keberpihakan
Sebenarnya mudah saja melihat keberpihakan. Unsur kepentingan dan kapitalisme sudah cukup menjadi tawaran yang menggiurkan bagi sebuah media.

Nilai-nilai ideologi yang disusun ketika perusahaan media tersebut dibangun juga hanya menyisakan jentikNya saja, kecuali prinsip kapitalisme yang tetap ditumbuh-suburkan.

Menurut hemat penulis jika keberpihakan -keberpihakan itu mudah dilihat, tapi tidak dengan kebenaranNya. Di tengah gempuran informasi dari berbagai media, memilah mana yang “benar” dan “salah” tidaklah semudah menatap layar kaca loh.

Bahkan satu berita  juga telah melewati berbagai “framing”, agenda setting, dan berbagai kepentingan sebelum dilepas ke publik. Lantas berita yang belum pasti kebenarannya, maka rakyat bertikai dengan sesamaNya.

Lantas apakah media yang salah? Bukan media, tapi siapa orang-orang di balik media itu. Media itu hanyalah alat untuk menyampaikan sumber informasi. Sama seperti pisau. Media hanyalah alat. Pisau memang tajam, tapi ia tidak bisa berefek apa-apa jika hanya disimpan dan tidak dikendalikan.

PertanyaanNya Kenapa pisau itu bisa melukai tangan loh? Karena ada orang yang mengendalikan pisau. Di tengah gempuran berita hoax di sekeliling kita, lantas mengapa media bisa mengacaukan kebenaran dan pikiran orang banyak? Menurut hemat saya dikarenakan ada orang di balik media itu dengan segudang kepentinganNya.

Pisau itu tidak akan melukai jika dikendalikan dengan cara-cara kita yang benar dan tentu juga oleh orang yang tepat. Karena benda yang sama jika dikendalikan oleh orang berbeda, maka akan beda hasilNya.

Bahkan pisau boleh jadi akan sangat melukai jika dipegang oleh anak-anak. Begitu juga dengan media. Jika dipengaruhi dan dikuasai oleh orang yang salah, maka kebenaran terlihat samar-samar dan perpecahan tinggal menunggu menit dan tanggal.

Kebohongan yang disampaikan terus berulang-ulang terlihat seperti sebuah kebenaran. Sebaliknya pun, kebenaran tanpa dukungan terlihat seperti sebuah kesalahan.

Selain di media online, konvensional dan televisi, menjelang Pilpres 2019, “perang cyber” sangat gencar terjadi. Di media sosial, berita hoax muncul seperti rentetan peluru. Tajam dan menusuk.

Ada sanjung-puja, juga caci-hina. Propaganda diluncurkan. Rakyat seperti menonton pertunjukan. Adegan penuh drama disuguhkan. Ada yang bikin mual, ada juga yang memabuk_kan. Maka rakyat terpaksa menonton pertunjukan tersebut hingga selesai. Hingga kemudian mendapati kenyataan bahwa ada orang-orang di balik layar yang meraup keuntungan miliaran rupiah dari sebuah kebohongan.

Dulu ada seorang remaja yang berusia 16 tahun yang bernama Victor dari sebuah kota kecil di Makedonia Amerika Serikat (AS) berhasil meraup 200 ribu dolar atau setara dengan Rp 2,6 miliar dari postingannya mengenai berita hoax tentang Donald Trump saat musim pilpres di AS pada 2016 silam.

Sekarang di Negara kita Indonesia, juga perang cyber sangat gencar terjadi. Ada ribuan akun yang bertebaran di berbagai media sosial, yang menurut ahli IT dari Kominfo, semua akun tersebut kemungkinan dikendalikan oleh robot.

Bahkan sekarang potensi hoax begitu besar di era pilpres 2019. Bahkan saja satu artikel yang mengandung hoax dan pengelola akun tersebut bisa menghasilkan Rp 10 juta per 5 jam. Sebuah angka yang cukup fantastis untuk sebuah “pekerjaan” yang hanya mengelola kebohongan itu sendiri.

Walahu’alam bishsho’wab!

JAKARTA, 13/4/2019

*Mahasiswa Pascasarjana UHAMKA & Direktur Lembaga Pengkajian dan Pendidikan Pancasila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here