Polemik Toa: Suara Gemuruh dari Masjid Adalah Sunah

0
1690
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Imam Ad Darimi meriwayatkan cukup eksotis tentang suara gemuruh dari arah masjid adalah salah satu ciri umat Rasulullah saw di akhir zaman. Semoga riwayat ini tidak didaifkan karena merugikan kelompok tertentu.

“…Mereka memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dalam keadaan senang atau susah. Mereka selalu mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap kemenangan. Mereka membasuh anggota wudu mereka, mengenakan kain sarung pada bagian tengah mereka, berbaris dalam shalat seperti berbarisnya mereka dalam peperangan. Suara mereka di masjid-masjid mereka seperti gemuruh suara lebah, terdengar suara muazin mereka di angkasa.”

Apa yang tersisa dari hari raya? Mesin Toa diheningkan. Mercon dan kembang api dialpakan. Beduk dibungkam. Takbir keliling dibidahkan. Ketupat lontong dikafirkan. Halalbihalal dipertengkarkan. Baju baru dimubazirkan karena dianggap pemborosan. Galak gampil disesatkan karena tidak ada contoh dari Nabi Saw. Bahkan mudik pun tinggal nama.

Saya bukan pengagung suara Toa, mesin pengeras suara buatan Jerman yang dipertengkarkan itu. Terpenting, mesin Toa tidak dipolitisisasi, apalagi sampai diberi cap identitas manhaj tertentu sebagaimana warna merah, kuning, biru, dan kotak-kotak.

***

Dunia terasa kian sempit karena banyak aturan dan larangan yang dilembagakan. Mesin Toa hilang. Menara pun melemah. Juga beduk, bahkan mungkin suara azan suatu saat bisa hilang karena dianggap mengganggu ketertiban umum.

Sebagian merasa sangat terganggu dengan ‘suara berisik’ dari arah masjid. Tak dimungkiri di antara kita banyak macam di dalam menikmati ritual. Ada yang beranggapan bahwa khusyuk hanya bisa dicapai dalam hening, meski saat hening juga tak ada jaminan tidak mikir yang lain.

Sebagian yang lain menganggap sebagai syiar agar masjid tidak sepi seperti kuburan, meski kemudian tak mengenal waktu dan melahirkan suara amat berisik.

Apapun mengandung risiko. Mematikan mesin Toa dan membatasinya juga bukan tak mengandung masalah. Mengeraskan suara dengan tidak mengenal waktu juga banyak masalah.

***

Dalam kitab Shifat Shalat Nabi karya Syaikh Al Albani dikisahkan: Saat sidak kepada dua sahabatnya yang sedang shalat malam, Rasulullah saw berkata: “Wahai Umar pelankan sedikit suaramu, kemudian kepada Abu Bakar Rasulullah saw bersabda wahai Abu Bakar keraskan sedikit suaramu.”

Sayang sekali tidak ada rekaman yang bisa dijadikan rujukan sekeras apa suara Umar dan sepelan apa suara Abu Bakar. Pada akhirnya, memang kita harus kompromi, bukan saling menyalahkan, apalagi bertengkar untuk urusan teknis.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here