Politik Overdosis

0
69
Foto CNN Indonesia

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Kenapa Kiai Dahlan tidak mendirikan parpol untuk melawan kompeni yang korup? Kenapa tidak pula menyeru jihad untuk nahi munkar melawan kezaliman, kebodohan, dan ketidakadilan? Kenapa memilih pendidikan dan layanan kesengsaraan oemoem sebagai jalan dakwah? Apakah Kiai Dahlan tak cukup mampu dan tak punya nyali untuk melakukan itu semua karena dirundung takut?

Seorang ulama berkata heroik: Jika antum tak peduli politik, jangan salahkan jika politik diisi orang munafik dan tikus-tikus korup. Ulama yang lain berkata tak kalah heroik: Jika antum masih peduli pada nasib bangsa ini, berpolitiklah.

Bertolt Brecht, penyair dan sejarawan Jerman, tak kalah seru berucap: Buta terburuk adalah buta politik. Ia melanjutkan semua berawal dari keputusan politik, kekuasaan adalah segalanya berasal. Pendek kata, kekuasaan adalah pil mujarab yang dapat menyembuhkan segala penyakit, mulai sakit gigi hingga korona yang heboh itu.

Belum juga selesai desak pikirku tersentak oleh pernyatan ulama idolaku ‘saya sudah selesai dengan urusan dunia’. Ia tak takut mati atau disepikan dibui. Ia tantang rezim dengan sepenuh yakin. Meski sejenak terpikir bahwa itu adalah semacam psywar agar polisi urung menangkap.

Ingin rasanya saya segera menghambur ke kantor partai politik untuk mendaftar. Aku tinggalkan jabatan sebagai ketua pimpinan ranting yang sudah lima periode aku genggam beralih profesi menjadi politisi atau mengurus partai. Sekelebat terpikir menjadi politisi adalah jihad beneran, yang lain abal-abal. Politisi adalah pilihan jihad terbaik. Kalau tak mampu atau tak ada potongan minimal menjadi pengamat politik pikirku. Sebab, yang tidak melawan rezim dianggap kurang keren dan lemah.

Sempat pula terpikir membuang harta, rumah, kendaraan berikut tabungan ke tempat pembuangan karena saya sudah tak butuh ‘dunia sudah selesai’ atau seperti nasihat nabi saw kepada Abu Dzar al Ghifari ra sahabatnya yang miskin bahwa dunia ibarat bangkai kambing cacat.

Untuk apa menjadi guru, dokter, pedagang, pengacara, petani, atau akademisi. Jika hanya menambah silang sengkarut keadaan negeri, tak bisa pula mengubah kezaliman, kemiskinan, ketidakadilan, dan kebodohan. Pendek kata, politisi adalah profesi mulia yang dimungkinkan bisa mengubah keadaan yang tak baik menjadi baik. Yang miskin bisa kaya. Keadilan tegak. Kesejahteraan merata di seluruh negeri.

Ketika Sayidina: Abu Bakar Ra, Umar Ibnul Khattab ra, Ustman bin Affan ra, dan Ali karamallahu wajh berkuasa menjadi khalifah apakah kondisi masyarakat Islam saat itu baik-baik saja? Apakah kaum ateis dan imperium Romawi tidak mengancam? Apakah kemiskinan dan kelaparan tidak ada sama sekali! Apakah tidak ada khianat dan pemberontakan? Lantas kenapa para khalifah itu syahid ditangan musuh ?

Kenapa pula Yu Supinah, Yu Sumiati, Kang Man, dan Kang Kidun tetap menjadi buruh dengan upah minimal meski sudah berganti tujuh presiden? Jadi apa sebenarnya kekuasaan itu? Benarkah kekuasaan bisa bikin sehat, sejahtera, adil, dan merata ? Atau sebaliknya. Wallahu taala a’lam

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here