Politik Pasca-Reshuffle: Dari Oligarki Menuju Demokrasi Gotong Royong?

0
627
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Bukan tak setuju negara khilafah berdiri, bukan tak suka syariat Islam tegak. Jika jadi berkuasa, mazhab mana kira-kira yang berkuasa menjadi rezim? Jika FPI dan HTI berkuasa maukah NU bersama, atau jika NU berkuasa maukah FPI dan HTI bersama?

Berapa persenkah jika suara politik umat Islam disatukan? Pertanyaan klise, tapi penting untuk mengukur kekuatan. Semua partai mendapat bagiannya. NU kukuh dengan loyalitasnya, Muhammadiyah istiqamah dengan sikap kritisnya, semua telah mendapat pembagian kekuasaan sesuai dengan porsinya. Pun dengan FPI dan HTI, mendapat dari yang diusahakannya tanpa terkurangi.

Bukan oligarki, tapi negeri gotong royong buat semua. Tak gampang berbuat adil, apalagi dalam hal pembagian kue politik. Tetap ada kompromi, ada yang dikalahkan sedikit dan ada yang dimenangkan sedikit untuk kepentingan lebih banyak. Begitulah hukum kekuasaan berjalan.

Gotong royong pernah menjadi pikiran fundamental, meski kemudian banyak revisi karena politik. Tapi, esensinya telah menjadi bagian urgen. Politik gotong royong kerap memenangkan banyak pertaruhan politik dan itu menarik. Sekaligus menegaskan bahwa politik sektarian hanya akan menjadi beban, alih-alih memberi solusi. Untuk menghindarkan negara dari disintergrasi politik dan perpecahan.

***

Ini negara besar. Butuh pemimpin besar dengan pikiran besar. Bukan orang kerdil sempit pikiran yang hanya bicara kelompok. Politik sektarian yang menafikan perbedaan hanya akan menjadi beban demokrasi.

Makin terbukti politik sektarian tak laku di pasar politik domestik. Indonesia bukan Afghan, Yaman, Mesir, Iraq, apalagi Syiria, atau negara-negara jazirah yang mengusung keluarga dan dinasti turun-temurun untuk memerintah dan menguasai negeri. Mandela protitipe Lukman Al hakim mungkin bisa jadi model negarawan tulus meski banyak musuh.

Soekarno memberi garis bawah tentang ‘reasoning’ mendirikan negara. Keragaman dan kebinekaan menjadi alasan kenapa Indonesia berdiri. Negara buat semua. Bukan negara untuk suku atau agama tertentu, tapi semua. Maka dibuatlah kesepakatan membangun negeri berdasar kebinekaan karena perbedaan yang sangat banyak, tulis Mc Iver.

***

Bergabungnya Prabowo-Sandi adalah prestasi demokrasi. Tak ada rival politik, apalagi lawan politik yang harus dihabisi menghapus sektarian dan kepentingan politik kelompok, tapi gotong royong membangun negeri meminimalkan perpecahan dan ancaman disintegrasi.

Substansi demokrasi gotong royong adalah: menang tanpo ngasorake, sugih tanpo bondho, nglurug tanpo bolo.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here