Politikus dan Upaya Mendegradasi Karya Sastra

0
476

Oleh: Muhammad Ifan
Kader IMM Raushan Fikr,
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang

KLIKMU.CO – Pemilu yang dihelat pada tanggal 17 April 2019 banyak menimbulkan dan meninggalkan permasalahan-permasalahan baru dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Permasalahan tersebut terus tembuh dan menjalar sehingga menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat. Meskipun begitu, para politikus tidak pernah menghiraukan hal itu. Mereka terus berjalan dan bersaing membawa kepentingan kelompok mereka masing-masing.

Masih sangat segar di ingatan kita tentang persaingan dalam pemilu yang telah terhelat, tentang bagaimana para pelaku politik itu menhalalkan segala cara dalam berkampanye dan menjatuhkan lawan politiknya. Provokasi, menghina, mengujar kebencian, menebar isu berupa hoaks, itu semua menjadi ciri khas yang dilakukan para politikus dalam pemilu kali ini, agar bisa meraut suara demi suara dari masyarakat untuk memenangkan perwakilan anggota mereka.

Dalam pemilu kali ini, masyarakat dibuat bingung dengan berbagai macam argumen berupa hoaks yang dilontarkan oleh politikus-politikus yang sangat tidak bertanggung jawab. Kini kebohongan diutamakan dan kebenaran ditiadakan, sindir-menyindir, sehingga konflik tak bisa dihindari, demi kepentingan beberapa orang mereka berani menipu seluruh massa dengan dalih mendapatkan kemenangan dalam pemilu.

Kini persaingan dalam pemilu tidak saja lewat lisan dengan cara membangun argumen. Tulisan pun digiring dan dinistakan menjadi alat untuk bersaing dalam pemilu. Adalah puisi menjadi senjata yang sangat ampuh dalam membangun dan berusaha melakukan pembohongan publik. Dalam hal ini politikus-politikus tidak hanya sebatas menulis puisi, melainkan mereka punya kepentingan yang terselubung di dalam isi puisi yang ditulis olehnya.

Saat pemilu tiba, politikus-politikus ini mulai berlagak menjadi seorang sastrawan yang tak kehabisan kata-kata untuk dituangkan ke dalam selembar kertas berupa sajak maupun puisi yang mempunyai makna yang sangat mendalam. Tak jarang beberapa puisi yang ditulis mereka kadang membuat massa tertawa dan menangis. Mereka yang tertawa itu adalah segelitir orang yang senang dan bahagia karena isi di dalam puisi adalah hinaan dan mereka sangat mendukung akan hal itu. Lalu, mereka yang menangis adalah segelintir orang yang sadar bahwa puisi tersebut adalah hinaan dan caci maki untuk seseorang.

Sempat terkenal puisi yang ditulis oleh seorang politikus yang sekarang sedang “duduk nyaman” di kursi putar DPR. Sangat diakui tulisannya lebih bermakna dari tulisan seorang yang hilang karena kata lawan, tapi sayang di dalam tulisannya tersimpan segala macam kepentingan pribadi dan kepentingan segelintir orang saja. Puisi yang dimaksud adalah puisi yang ditulis oleh Fadli Zon yang berjudul “Rakyat Bergerak”. Berikut kutipannya:

Ketika keadilan diinjak-injak
kebenaran makin terkoyak
di mana kau berpijak?

Ketika kecurangan meruyak
suara rakyat dibajak
di mana kau berpihak?

Negeri makin rusak
dipimpin penguasa conkak
pribumi tergusur jadi budak
komprador asing pesta merompak

Bangunlah jiwa-jiwa merdeka
mendobrak tembok tirani
saatnya rakyat bergerak bersama
menjemput perrubahan esok hari

(Fadli Zon, Perjalanan Cirebon-Jakarta, 13 Mei 2019)

Kondisi negara Indonesia saat sekarang ini, kebanyakan masyarakat sangat cepat terpengaruh dengan hal-hal baru yang berbau provokasi dari politikus-politikus yang mementingkan dan membawa kepentingan mereka sendiri, dan bahkan masyarakat juga sangat cepat sekali menyimpulkan akan hal-hal semacam itu.

Oleh karena itu, kehadiran tulisan tersebut bisa saja memecah belah persatuan masyarakat. Penulis menilai isi dalam puisi tersebut merupakan sebuah ajakan dan dorongan terhadap masyarakat agar bisa bergerak melawan dan menumbangkan rezim pada saat sekarang ini. Tidak tertutup kemungkinan adanya sebuah gerakan people power yang terjadi pada 22 Mei 2019 merupakan inti dari tulisan puisi yang ditulis oleh politikus Partai Gerindra tersebut.

Sangat jelas terlihat bagaimana tulisan berupa puisi ini berperan dan berfungsi sebagai alat untuk memengaruhi dan membodohi pikiran masyarakat. Jika tulisan-tulisan semacam ini terus bermunculan dan dalam tulisan tersebut berbau provokasi, akan ada dampak yang begitu besar bagi ketenteraman bangsa Indonesia.

Mungkin saja peperangan terjadi mengingat masyarakat Indonesia terus-menerus diprovokasi oleh pihak-pihak yang tak punya akal dan pikiran dan tidak memikirkan ketenteraman dan kemakmuaran negara Undonesia. Di sini mereka terus beraksi memainkan isu-isu yang membuat darah masyarakat mendidih dan ingin saling membunuh satu sama lain.

Sekarang fungsi puisi sangatlah melenceng jika kita melihat dari cara politikus-politikus mempergunakan puisi sebagai alat propaganda untuk mewujudkan kepentingann mereka sendiri.
Mari kita sedikit mengingat sejarah, tentang bagaimana seorang elite politik Wodrow Wilson melancarkan sebuah operasi propaganda yang terjadi pertama kali di Negeri Paman Sam pada masa pemerintahan modern Amerika.

Propaganda yang ia lancarkan tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh para politikus-politikus Indonesia saat sekarang ini, di mana Wodrow Wilson melancarkan aksi propaganda dengan menyodorkan tulisan-tulisan di berbagai media. Tulisan-tulisan tersebut tidak hanya dimuat dalam media tradisional berupa koran dan radio saja, tetapi juga media perfilman yang ia manfaatkan sebagai penunjang untuk melancarkan sebuah operasi propaganda tersebut. Hal itu jelas membuat masyarakat yang dulunya tidak menginginkan sebuah peperangan terjadi, berubah menjadi vampir yang haus akan darah.

Tidak tertutup kemungkinan sejarah yang di cetak oleh elite politis Wodrow Wilson dari Negeri Paman Sam tersebut akan terjadi di negara Indonesia, jika politikus-politikus tersebut terus berpolitik dengan cara yang tidak wajar di pergunakan. Juga penting sekali, masyarakat harus pandai memaknai serta memahami apa tujuan dan apa isi pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan oleh tokoh-tokoh politik, terutama tokoh politik yang tidak sama sekali punya pengalaman atau bisa dikatakan baru berkecimpung di dunia sastra dan tidak mempunyai latar belakang seorang sastrawan.

Sebagai seorang yang sangat suka akan sastra, penulis berharap dan meminta kepada para elite politik, seumpama menulis sebuah karya sastra tempatkanlah karya sastra tersebut pada letak dan porsi yang sebenarnya, dan berhentilah menipu masyarakat dengan karya sastra. Menulislah atas dasar kepentingan rakyat agar rakyat bisa mendapatkan keadilan dan jangan menulis karya sastra atas dasar kepentingan pribadi ataupun kepentingan segelintir orang saja. Begitu…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here