Praktik Fatwa Sudah Ada sejak Zaman Nabi

0
125
Foto dari Warta Ekonomi

KLIKMU.CO – Ada dua fungsi penting fatwa bagi masyarakat. Pertama, sebagai alat perubahan sosial. Kedua, sebagai fungsi penegak ideologi.

Demikian hal lain yang dibahas Pradana Boy ZTF dalam diskusi PSIF bertajuk Fatwa dan Masyarakat: Pengalaman Muhammadiyah, Selasa (19/1/2021).

“Bicara geliat ekonomi Islam, misalnya, faktor pendorongnya adalah fatwa MUI. Dari mana perubahan sosial di kalangan masyarakat Indonesia yang begitu masif mengikuti tren, salah satunya adalah fatwa MUI itu,” papar dosen Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Nah, fatwa ternyata juga berfungsi sebagai penegak ideologi. Ketika menulis ujian disertasi akhir 2014, Pradana Boy mempresentasikan tiga lembaga fatwa. Salah satunya MUI. Pengujinya, Farid Al Attas memberikan komentar. ”Bagi saya jelas, fatwa-fatwa MUI yang kamu teliti jelas bahwa MUI didominasi oleh ideologi salafisme,” kata pengujinya.

Mendapat tanggapan itu, Boy menyadarinya. Tapi, ia tidak menyebut secara eksplisit karena di Indonesia menyebut salafisme atau istilah salafi itu maknanya bisa sangat banyak.

“Dalam konteks tertentu seperti inilah, fatwa berfungsi untuk menegakkan ideologi,” terangnya.

Boy melanjutkan, di Indonesia, sangat jarang ada fatwa yang bersifat individual. Mereka berada di bawah lembaga. Misalnya, MUI punya Komisi Fatwa. Kemudian, Muhammadiyah ada Majelis Tarjih. NU punya Lajnah Bahtsul Masail. Ada pula Dewan Hisbah milik Persis. Bahkan, di luar negeri ada Darul Isbah (Mesir) dan Majelis Ugama Islam (Singapura).

Sejatinya praktik fatwa, menurut Ibnu Qayyim, sudah ada sejak zaman nabi. Kalau umat meminta penjelasan tentang sebuah persoalan, larinya ke ulama. “Karena ulama itu pewaris para nabi. Nabi tidak mewariskan dinar, melainkan ilmu,” jelasnya.

Dalam konsep fatwa ada istilah mufti (pemroduksi fatwa), kemudian mustafti (orang yang meminta fatwa), terakhir proses mengeluarkan fatwa (istifta). Fatwa itu pada dasarnya adalah merespons (responsif) sesuatu.

Proses istifta bagian dari ijtihad karena merespons sesuatu yang mungkin tidak ada teksnya secara eksplisit atau yang terkatakan. Ijtihad bermakna memberikan pemecahan dalam persoalan yang tidak ada teksnya.

“Yang disebut itjihad adalah sebuah proses untuk mengetahui hukum syariah yang prosesnya menggunakan akal,” terang Boy.

Lantas, bagaimana melihat persepsi masyarakat tentang fatwa? Sebuah penelitian negeri jiran, Malaysia, menyatakan bahwa 95,4 persen masyarakat mengenal fatwa dari sekitar 5176 responden. Akan tetapi, ketika ditanya apakah memiliki pemahaman tentang fatwa, ternyata mereka tidak cukup mengetahui apa hakikat fatwa.

Nah, di antara 5176 responden 13,9 persen memersepsi bahwa fatwa adalah pertanyaan dan jawaban soal agama. Kemudian, 16,8 persen menyatakan bahwa fatwa berhubungan hukuman saja.

“Lalu, 17,3 persen menyamakan fatwa dengan prinsip hukum Islam. Berikutnya, 41,1 persen memahami fatwa sebagai tindakan mufti atau posisi mufti tentang persoalan hukum,” tandasnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here