Prioritasnya SDM, Bukan Profit

0
299
Foto Tempo.co

Oleh: Bobi Puji Purwanto

KLIKMU.CO

Baru-baru ini, saya bersyukur bisa mendapat kesempatan mempelajari kisah inspiratif dari salah satu tokoh bisnis hebat Indonesia. Ia adalah FX Sri Martono. Di perusahaan besar PT Astra International yang memiliki ratusan anak perusahaan dan karyawan 160-an ribu itu, ia bekerja. Dan berada pada posisi sangat penting.

Ia diamanahi PT Astra International sebagai kepala suku divisi pengembangan sumber daya nanusia (HRD). Tentu kita semua tahu, bagaimana peran pengelolaan sumber daya manusia dalam sebuah perusahaan/organisasi. Betapa luar biasa.

Selain posisi yang strategis di divisi pengembangan SDM, ia juga punya kegemaran yang tentu bisa dijadikan contoh bagi kita semua. Ia suka menulis buku. Banyak buku menarik yang sudah dilahirkan. Bagi kita yang suka baca buku manajemen, mungkin buku karya Pak Sri Martono bisa dijadikan referensi.

Kalau saya, lebih menyukai buku Herry Gendut Janarto yang berjudul “Unlocking The Hidden Talent”. Buku itu isinya tentang kisah perjalanan FX Sri Martono. Yang awalnya bermimpi menjadi seorang insinyur, tapi justru menjadi pemimpin menajemen yang luar biasa. Dan banyak kisah menarik lainnya.

Baiklah, Pak Sri Martono pernah bilang dalam buku CEO Wisdom Lilik Agung, begini: arahkan sumber daya untuk mencapai tujuan organisasi. Yakni, jika SDM kompak dalam mencapai tujuan bersama, perusahaan/organisasi bisa lebih baik.

Pesan ini sangat penting. Sumber daya manusia merupakan aset utama perusahaan. Tidak akan berdiri perusahaan jika tidak ada karyawan. Dan sumber daya manusia juga merupakan sebuah tolok ukur inti dalam kemajuan perusahaan. Perusahaan itu maju atau tidak bukan diukur dari banyaknya omzet atau pendapatan saja, tapi bagaimana kualitas SDM-nya. Betul tidak?

Sekarang, apa yang harus diperbuat dalam membangun SDM perusahaan/organisasi yang luar biasa?

Sederhana, insya Allah. Sesuai dengan yang pernah saya pelajari. Kira-kira ada tiga hal yang paling mendasar.

Pertama, visi yang kuat. Perusahaan/organisasi harus memprioritaskan kualitas pekerja (SDM), bukan hanya lari kencang ngejar untung dan untung. Kemudian harus punya keyakinan. Ketika visi kuat membangun kualitas pekerja (SDM) menjadi yang utama, otomatis keuntungan akan mengikuti. Insya Allah. Tentu saja perusahaan mengerti ya, untuk mendapatkan pekerja (SDM) yang berkualitas, pekerja harus diperhatikan otaknya, dompetnya, dan keluarganya. Biasanya itu.

Ada contoh menarik dalam memperhatikan otak SDM. Di PT Astra International, upaya dalam mencerdaskan pekerjanya (SDM) dan mengader calon pemimpin hebat itu adalah dengan membuat program penting pembelajaran. Jika kita mempelajari perusahaan besar ini, kita akan menemukan Astra Management Development Institute (AMDI), Astra Basic Management Program (ABMP), Astra First-line Management Program (AMMP), dan masih banyak lagi. Nah, di tempat-tempat itu, SDM Astra digembleng. Luar biasa.

Kedua, adanya penghargaan dan hukuman. Reward dan punishment ini penting. Tujuan perusahaan/organisasi menerapkan Reward dan punishment adalah untuk menambah semangat SDM dan meningkatkan produktivitasnya. Jika ada karyawan yang melakukan pekerjaan dengan baik, atau misal perilakunya bisa jadi contoh bagi karyawan lainnya, perusahaan harus memberikan hadiah sebagai reward. Sedangkan jika ada yang tidak taat aturan, bisa diberikan sanksi. Supaya karyawan bisa terus memperbaiki diri.

Tentu, semuanya memang harus diukur. Termasuk Reward dan punishment. Dan apabila perusahaan/organisasi mampu mengonsep dengan baik, menghitung dengan sempurna, dan konsisten dalam praktiknya, konsep Reward dan punishment akan sangat besar dampaknya bagi kemajuan perusahaan/organisasi. Insya Allah.

Ketiga, mempererat hubungan seperti keluarga. Saya teringat perusahaan kosmetik besar Indonesia, Wardah. Dulu, ketika di awal-awal pendirian, Wardah pernah mengalami musibah yang besar. Iya, pabriknya terbakar. Seluruh peralatan dan perlengkapan produksi hangus terbakar. Karena kejadian itu, Wardah rugi besar. Sehingga, mau tidak mau, hampir seluruh karyawannya harus mencari pekerjaan lain.

Namun, ada konsep luar biasa yang diterapkan sang pendiri, Ibu Nurhayati Subakat, agar Wardah tetap berjalan meskipun setelah mendapatkan musibah besar. Apa itu? Perasaan kasih sayang sebagaimana keluarga. ketika Bu Nurhayati melihat karyawan yang masih muda, ia melihat karyawan itu seperti anaknya sendiri. Dan jika ada yang lebih tua dan itu perempuan, ia anggap sebagai ibunya sendiri. Dan seterusnya.

Nah, dari situ Bu Nurhayati berpikir ke depan, apa yang dilakukan karyawannya setelah keluar dari Wardah. Belum tentu mereka semua langsung mendapat pekerjaan. Dan seterusnya. Sehingga, Wardah harus berdiri kembali. Wardah harus bangkit dari keterpurukan. Iya, diniatkan untuk ibadah. Dan untuk membantu banyak orang. Lantas, apa yang terjadi selanjutnya? Masya Allah, Wardah semakin maju. Karyawannya semakin kompak. Dan hari ini, Wardah mampu bertengger di posisi atas sebagai brand kosmetik terbaik. Luar biasa.

Saya kira itu yang mendasar dalam membangun SDM kompak. Jika SDM sudah kompak, mengajak mereka bekerja dengan optimal akan mudah terlaksana. Serta bergerak bersama-sama dalam mencapai tujuan besar perusahaan/organisasi juga bisa berjalan dengan baik. Insya Allah. (*)

Bobi Puji Purwanto
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi PC Pemuda Muhammadiyah Wonokromo, Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here