Prof Haedar Nashir: Warga Muhammadiyah Harus Jadi Pemberi Solusi

0
79
Haedar Nashir dan sang istri, Siti Noordjannah Djohantini.

Atas segala persoalan yang menimpa negeri ini, khususnya terkait pandemi Covid-19, Prof Haedar Nashir MSi menawarkan empat solusi. Hal itu disampaikan ketua umum PP Muhammadiyah tersebut pada resepsi milad virtual Rabu kemarin (18/11/2020).

Tanggung Jawab Jadi Negarawan

Pertama, menurut Haedar, pemerintah di seluruh tingkatan bersama legislatif, yudikatif, TNI/Polri, partai politik, dan lembaga lainnya dituntut punya tanggung jawab politik dan berjiwa kenegarawanan tinggi. Terutama dalam menghadapi pandemi Covid-19 dan menyelesaikan masalah-masalah negeri dengan mengedepankan sebesar-besarnya hajat hidup rakyat di atas yang lainnya.

“Jadikan Indonesia negara hukum yang demokratis serta berdiri tegak di atas dasar Pancasila dan UUD 1945. Bawalah Indonesia menuju peri kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” ujarnya.

Haedar juga meminta semua pihak hormat dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur agama dan kebudayaan Indonesia. Di antara tanggung jawab dan agenda terberat bangsa saat ini ialah merekat persatuan nasional dan memutus rantai kesenjangan sosial menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bersatu Hadapi Pandemi

Lalu, kedua, segenap warga bangsa memiliki kewajiban dan tanggung jawab kolektif dalam menghadapi pandemi dan memecahkan masalah negeri dengan semangat gotong royong. Perlu dipupuk kebersamaan sebagai keluarga besar bangsa dalam jiwa persatuan Indonesia dengan mengembangkan kerja sama, toleransi, kepedulian, kesetiakawanan, dan saling berbagi sebagai modal sosial yang penting,” katanya.

Prof Haedar juga meminta jiwa Bhineka Tunggal Ika dihidupkan dalam relasi antarkomponen bangsa secara autentik. Jauhi egoisme dan kepentingan sempit golongan yang merugikan kemajemukan.

“Jika terdapat masalah di tubuh bangsa, carikan solusi dan titik temu demi keutuhan hidup bersama. Dalam membangun hubungan termasuk melalui media sosial hilangkan hoaks, fitnah, serta benih saling curiga, kebencian, pertikaian, dan konflik yang dapat menambah berat beban masalah bangsa dan terjadinya disintegrasi nasional,” paparnya.

Uswah Hasanah

Ketiga, umat Islam dituntut menjadi uswah ḥasanah disertai sikap cerdas dan bijaksana dalam menghadapi situasi keumatan dan kebangsaan yang kompleks dan sarat perbedaan. Menurutnya, semua komponen dan tokoh umat dapat menjaga situasi kebangsaan tetap kondusif, seraya menjauhkan diri dari perselisihan dan segala tindakan kontroversi yang dapat mengganggu keutuhan ukhuwah Islamiah maupun persatuan bangsa.

“Maka, perkuat nasionalisme sebagai ekspresi dan jalinan integrasi keislaman dan keindonesiaan yang utuh serta hindari tindakan-tindakan intoleran yang dapat merugikan hubungan keumatan dan kebangsaan yang selama ini telah terjalin dengan baik,” jelasnya yang didampingi istrinya, Siti Noordjannah Djohantini yang juga ketua PP Aisyiyah

Pemberi Solusi

Keempat, lanjut penulis buku Indonesia dan Keindonesiaan itu, seluruh warga Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi dan situasi negeri mesti menjadi pemberi solusi sejalan kepribadian dan khitah gerakan dalam perspektif Islam berkemajuan. Oleh karena itu, perlu disebarluaskan risalah Islam wasaṭiyah-berkemajuan dengan menghadirkan karakter keislaman yang damai, ukhuwah, moderat, luas wawasan, ta‘awun, tasamuh, dan kebaikan kehidupan.

“Wujudkan beragama yang mencerahkan dengan menampilkan kesalehan dan kemajuan perilaku Islami yang autentik untuk kemaslahatan hidup bersama seiring spirit Milad ke-108: Meneguhkan Gerakan Keagamaan, Solusi Hadapi Pandemi dan Masalah Negeri!,” tandasnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here