Profetisme IMM: Meneguhkan Ikatan, Memajukan Peradaban Bangsa

0
139
Ode Rizki Prabtama bersama pengurus lain dalam pelantikan Sabtu (22/8). (Panitia/KLIKMU.CO)

Oleh: Ode Rizki Prabtama

Ketua umum IMM Malang Raya

Disampaikan saat pelantikan pengurus PC IMM Malang Raya periode 2020/2021

KLIKMU.CO

Jika umat Islam adalah pengikut nabi Muhammad SAW, sesungguhnya kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai bagian dari itu mesti ambil peran dalam meneruskan ajaran-ajaran (dakwah) nabi. Untuk itu, dengan tidak bermaksud menyamakan diri dengan nabi, IMM harus berspirit dan bervisi kenabian: transendensi, liberasi dan humanisasi. Apa itu? Menurut Kuntowijoyo, tanggung jawab kenabian itu bersumber dari QS Ali Imran: 110.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.

Acara ini bersamaan dengan momentum Agustus di mana menjadi bulan kemerdekaan badi bangsa Indonesia. MERDEKA! Sebetulnya tidak perlu lagi kita teriak merdeka jika sudah merdeka. Dulu jargon merdeka dipakai untuk membakar semangat rakyat supaya tergerak ingin lepas dari kolonialisme. Namun, tak apa hari ini kita teriak merdeka sebab mungkin bangsa kita belum benar-benar merdeka dari penjajah baru, kolonialis baru, peghisapan baru, modernisme, dan oligarki.

Intelektual cum Aktivis

IMM haruslah selalu meneguhkan tradisi keilmuan dan gerakan, menjadi intelektual cum aktivis. Bagaimana membangunnya? Dalam rangka mencetak kader intelektual cum aktivis, ada beberapa hal yang dilakukan IMM, di antaranya, pertama, edukasi internal dan eksternal. Edukasi internal yang dimaksud adalah proses transformasi mind-set dan wawasan kepada kader-kader IMM agar prestatif di kampus. Hal ini dilakukan dengan cara menjadikan komisariat, warung kopi, tempat terbuka sebagai episentrum ekosistem keilmuan. Mendampingi para kader untuk mendalami keilmuan sesuai bidang studi masin-masing juga wacana keilmuan filsafat dan teori sosial kritis, di samping wawasan keagamaan tentu saja.

Sebagai komponen ideologi ikatan, Tri Kompetensi Dasar (trikoda) yang terdiri dari religiusitas, intelektualitas, dan humanitas menjadi nilai mutlak bagi kader IMM. Lebih jauh, selain trikoda sebagai fondasi, IMM berkembang dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia. Membaca secara hati-hati peluang dan tantangan zaman di abad 21. Olehnya itu, IMM Malang Raya misalnya, memberi kemampuan pendukung yang sifatnya dinamis berupa live skill yang dibutuhkan di era ini. Maka, teori 6Cs (Critical Thinking, Creativity, Colaboration, Comunication, Character, and Cityzenship) karya Michael Fullan, seorang profesor bidang pendidikan asal United State, diterapkan dalam berbagai metode dan kesempatan. 6Cs itu merupakan enam skill abad 21 yang dirumuskan Fullan dan tim lewat penelitian panjang.

Selain itu, edukasi eksternal adalah peran pencerahan IMM di tengah masyarakat. Baik secara langsung bertemu masyarakat di suatu desa atau tempat, juga secara tidak langsung melalui berbagai platform media online maupun cetak. Sebagai contoh, di desa IMM dengan program desa pendamping, mengedukasi masyarakat desa supaya peduli terhadap pendidikan, kesejahteraan dan kesehatan anak. Lewat platform media tulisan-tulisan kritis dan solutif kader-kader IMM terus diproduksi baik online maupun cetak, mengedukasi masyarkat atas isu atau wacana tertentu. Misalnya, di masa pagebluk Covid-19 IMM mendorong agar masyarakat mengikuti anjuran pemerintah, menerapkan protokol kesehatan, menatalaksanakan PHBS, dan lain sebagainya untuk menekan laju penularan virus. Singkatnya, masyarakat memiliki “penyakit”, IMM tawarkan “obatnya”.

Kedua, advoksi kebijakan. Agar tidak menjadi intelektual menara gading (meminjam bahasa Gramsci), IMM terus memantau kebijakan pemerintah. Apabila ada yang merugikan masyarakat maka IMM selalu turun untun melawan baik dalam jalur litigasi maupun non-litigasi. Di samping isu-isu lokal darah masing-masing, belakangan dalam skala nasional IMM getol menolak pengesahan RUU Omnibus Law, RUU HIP, dan lain sebagainya. Juga mengecam yang berwenang dalam kasus-kasus HAM, seperti Munir, Widji Tukul, Novel Baswedan, dan langkah-langkah represif dan pembungkaman aparat terhadap kebebasan berpendapat di muka umum lainya.

Ketiga, pemberdayaan. Peran pemberdayaan IMM, selain lewat program desa dampingan, di masyarakat urban, IMM Malang misalnya memelopori komunitas Rumah Pangan Milenial (RPM).

Di samping itu, diaspora kader dan alumni di wilayah entrepreneur, politik, dan lain sebagainya merupakan kekuatan IMM untuk membangun peradaban yang maju.

Mitra Kritis, Bergerak Independen

IMM harus dapat memajukan peradaban bangsa dengan sikap kritis dan solutif. Bagaimana caranya? Posisi IMM sebagaimana Muhammadiyah di samping terus bergerak secara independen untuk membebaskan, mencerahkan, dan memberdayakan masyarakat adalah sebagai partner kritis pemerintah untuk memajukan bangsa. Jika pemerintah atau penguasa itu berpihak pada rakyat maka dengan sepenuhnya IMM akan mendukung. Namun, jika tidak maka IMM akan ada di garis depan untuk mengkritik, meluruskan arah keberpihakan agar sepenuhnya mengarah pada rakyat. Ini keberpihakan IMM, seperti yang tertera dalam deklarasi dekobar poin 4 “……”.

Perlu diingat bahwa, sebagai aktivis, IMM tidak hanya menaruh kritik, namun juga memberi solusi. Tercatat, pada masa pandemi sejak Februari, IMM di tingkat komisariat hingga cabang Malang Raya telah bekerja sama dengan pihak lain untuk membagi lebih dari 1.000 paket makanan dan sembako pagi warga terdampak Covid-19.

Di samping gerakan ketahanan pangan yang kami bangun lewat RPM, kader IMM di bidang kesehatan pun berada di garis depan untuk menolong sesama. Saya merasa amat penting untuk mengapreasi kontribusi kader selama ini.

Eksistensi IMM hingga usai 56 tahun ini dan seterusnya akan tetap ada karena IMM selalu berpikir dan bergerak. Tentu IMM hari ini ada sebab perjuangan dari tahun-tahun sebelumnya, untuk ini terima kasih pada pimpinan cabang periode sebelumnya. Dan hari ini kami semua ada untuk menjamin keberlangsungan IMM di masa depan. Masa depan umat, bangsa, dan negara,

Terakhir, ibarat buku, jika di halaman depan ada saya, di halaman berikutnya ada kawan kawan, hingga di halaman akhir ada semua kader dan alumni. Kita semua ada dalam sampul/cover IMM Malang Raya.

IMM Jaya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here