Ramadhan Bersama Mbah Dahlan: Pelajaran Ketiga

0
196
Foto diambil dari TribunNews.com

KLIKMU.C0-

Oleh: M Husnaini*

“Manusia itu, kalau mengerjakan sesuatu apa pun, sekali, dua kali, berulang kali, maka kemudian akan menjadi biasa. Kalau sudah menjadi kesenangan yang dicintai, maka kebiasaan yang dicintai itu sukar untuk diubah. Sudah menjadi tabiat bahwa kebanyakan manusia membela adat kebiasaan yang telah diterima, baik itu dari sudut keyakinan atau iktikad, perasaan, kehendak, maupun amal perbuatan. Kalau ada yang akan mengubah, mereka akan sanggup membela dengan mengorbankan jiwa raga. Demikian itu karena anggapannya bahwa apa yang dimiliki adalah benar.”

Potret masyarakat Islam Indonesia ketika KH Ahmad Dahlan lahir dan tumbuh memang penuh sinkretisme. Tradisi Hindu dan Buddha erat melekat dalam keberagamaan umat Islam, dan sukar sekali diluruskan. KH Ahmad Dahlan berusaha mengembalikan praktik-praktik Islam sesuai Al-Qur’an dan hadis.

Sungguh tidak ringan halang-rintang yang dihadapi KH Ahmad Dahlan. Bermacam tuduhan seperti kiai palsu, kiai kafir, Kristen alus, hingga perusak Islam dia terima. Kalimat di atas yang kemudian dicatat KRH Hadjid (2013), muridnya yang termuda, sebagai pelajaran ketiga dari 7 Falsafah Ajaran KH Ahmad Dahlan jelas merupakan refleksi batinnya.

Di mana-mana, pencetus perubahan selalu ditentang dan dilawan. Kalau bukan oleh masyarakat sekitar, tidak jarang oleh orang terdekat, bahkan sanak famili sendiri. Jika orang baik itu disukai, penganjur kebaikan kerap kali dibenci. Sebab itu, dalam bahasa kelakar, menjadi saleh itu lebih mudah ketimbang menjadi muslih. Saleh berarti orang baik, sementara muslih adalah penganjur kebaikan.

Lebih dari sekadar saleh, KH Ahmad Dahlan jelas seorang muslih, bahkan seorang mujadid atau pembaru. Sudah pasti tidak sedikit yang membenci dan memusuhi. Pembaru selalu menyerukan perubahan. Islamnya tetap, namun pemahaman dan praktik keberislaman yang hendak diperbarui oleh KH Ahmad Dahlan.

“Mula-mula agama Islam itu cemerlang,” tutur KH Ahmad Dahlan, “kemudian kelihatan makin suram. Tetapi, sesungguhnya yang suram itu adalah manusianya, bukan agamanya.” Dalam bahasa Muhammad Abduh, seorang pembaru Mesir yang karya-karyanya banyak menginspirasi KH Ahmad Dahlan, “Al-Islamu mahjubun bilmuslimin”, keindahan Islam itu sering tertutup oleh keburukan perilaku umat Islam.

Soekarno menulis buku “Islam Sontoloyo” yang sangat menggemparkan dan memantik polemik dengan tokoh-tokoh Islam, hingga Mohammad Natsir menulis buku tanggapan berjudul “Islam dan Akal Merdeka”. Bagi Bung Karno, Islam adalah kemajuan. Dia menolak suatu hukum agama yang tidak nyata diperintahkan Allah dan Rasulullah. “Janganlah kita kira diri kita sudah mukmin, tetapi hendaklah kita insaf bahwa banyak di kalangan kita yang Islamnya masih Islam sontoloyo,” kritiknya.

Sebab itu, KH Ahmad Dahlan menolak taklid dan membuka pintu ijtihad. Umat Islam didorong untuk mencari kebenaran yang hakiki. Pernyataan Muhammad Abduh yang sering dikutip ialah, “Kebanyakan manusia mula-mula sudah mempunyai pendirian. Setelah itu baru mencari dalil, dan tidak mau mencari dalil selain yang sudah cocok dengan keyakinan mereka. Jarang sekali mereka mencari dalil untuk dipakai dan diyakinkan” (Hadjid, 2013).

Dalam dunia bisnis dan manajemen, ada istilah “reasons why people resist change”. Ditemukan banyak alasan, namun lima di antaranya ialah karena takut sesuatu yang tidak diketahui (fear of the unknown), takut sesuatu yang baru (fear of the new), terhubung dengan cara/kebiasaan lama (connected to the old way), takut meninggalkan zona nyaman (fear of leaving a comfort zone), dan meragukan perubahan/pencetusnya (low trust).

Kelima alasan itu muncul pada masyarakat KH Ahmad Dahlan. Fear of the unknown, misalnya, tampak pada reaksi keras ulama tradisional, termasuk Kepala Penghulu Mohammad Khalil Kamaludiningrat, perihal pembetulan arah kiblat di Masjid Agung Yogyakarta. Padahal, KH Ahmad Dahlan adalah ahli falak dan hisab. Pepatah Arab bilang, manusia cenderung membenci segala yang tidak dia tahu.

Kemudian, banyaknya masyarakat yang mengolok-olok KH Ahmad Dahlan karena menginisiasi sekolah yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum, termasuk mengajarkan musik, memakai jas, dasi, serta celana pantalon adalah wujud nyata adanya fear of the new. Cara pandang KH Ahmad Dahlan yang modern dan berkemajuan ditolak mentah-mentah.

Tentang connected to the old way dapat diamati dari sukarnya mereka meninggalkan beberapa tradisi warisan leluhur, meskipun tidak memiliki rujukan, bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Sementara kebodohan yang sudah turun-temurun dan menjadi pola hidup yang nyaman sehingga ogah bangkit untuk meniti jalan ilmu guna meraih kemajuan boleh dikatakan sebagai bentuk fear of leaving a comfort zone.

Bagaimana dengan low trust? Simaklah kisah ketika KH Ahmad Dahlan pertama kali berdakwah ke Banyuwangi. Seperti ditulis Mulkhan (2010), dalam sesi tanya jawab, KH Ahmad Dahlan enggan menjawab setiap pertanyaan yang tidak terkait Muhammadiyah. Hadirin lantas menilai KH Ahmad Dahlan kalah debat, dan mereka meneriakinya sebagai kiai palsu.

Namun, KH Ahmad Dahlan terus menggiring umat untuk berpikir kritis dan rasional. Bagi KH Ahmad Dahlan, mencari kebenaran ibarat pertemuan dua orang berbeda agama yang masing-masing membawa kitab suci dan digelar di atas meja. Keduanya lalu mengosongkan pikiran dan keyakinan seperti semula manusia yang tanpa keyakinan keagamaan, terus berdiskusi mencari bukti kebenaran agama masing-masing. Diskusi terus dilakukan, tanpa ada kalah atau menang, sampai keduanya menemukan kebenaran sejati (Mulkhan, 2010).

Kendati begitu, sekali lagi penting dicamkan, sekadar pengetahuan saja belum cukup. Manusia yang tahu cara mencuri, kata KH Ahmad Dahlan, tidak dapat disebut sebagai pencuri, kecuali dia benar-benar mencuri. Orang Islam yang paham seluk-beluk ajaran Kristen tidak lantas dikatakan sebagai pemeluk Kristen, kecuali telah mengamalkan ajaran Kristen.

Ringkasnya, sebatas paham ajaran Islam belaka tidak menjadikan seseorang menjadi Muslim sejati, sebelum dia benar-benar mengamalkan ajaran Islam dalam praktik keseharian. “Berbuat dan bekerja itu lebih baik dan lebih penting dari sekadar berbicara,” tegas KH Ahmad Dahlan.

*Kandidat Doktor di International Islamic University Malaysia (IIUM), Anggota Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here