Ramadhan di Denmark; Penuh Tantangan, tapi Berkesan

0
352
Suasana kegiatan Ramadhan yang dilaksanakan sejumlah umat Islam di Kopenhagen Denmark jelang berbuka puasa. (Foto: Arfa DH)

KLIKMU.CO

Oleh: Arfa Darojati Hadiyanto*)

Tahun ini adalah Ramadan kedua saya di Denmark, Negara yang tahun ini menempati peringkat ke-2 negara paling bahagia di dunia. Berpuasa di perantauan rupanya cukup menantang. Meski demikian ada banyak sekali pengalaman tak terlupakan yang saya dapatkan dan rasanya akan saya rindukan di masa depan.

Salah satu hal yang paling menantang adalah soal durasi puasa. Saya masih ingat, pada 2018 lalu, saat pertama kali membaca jadwal puasa di Kopenhagen (kota tempat saya tinggal), sejujurnya saya langsung keder sendiri. Ya, durasi puasa di Denmark termasuk salah satu yang terlama. Disini kami berpuasa selama sekitar 19-20 jam, sekitar 5-6 jam lebih lama dari puasa di Surabaya kampung halaman saya. Saat itu dalam hati langsung terbersit, “kuat nggak ya?” Hehehe.

Tantangan lainnya adalah suasana Ramadan disini tentu tidak semeriah dengan suasana Ramadan di Indonesia. Tentang adzan saja misalnya, disini kita tidak bisa mendengar suara adzan berkumandang saat waktu sholat tiba. Satu-satunya momen saya pernah mendengar suara adzan berkumandang bebas di negara ini adalah tahun lalu saat saya mengikuti buka puasa bersama di Rådhuspladsen, balai kotanya Kopenhagen.

Iftar di Rådhuspladsen ini juga akan menjadi kenangan tak terlupa bagi saya. Di acara yang dikoordinir oleh Muslim Lokalhjælp ini ribuan umat muslim di Denmark berkumpul untuk mengikuti buka puasa bersama. Total ada 1600 makanan dan minuman gratis yang disediakan oleh panitia. Uniknya, saya pikir acara ini hanya untuk umat muslm saja tapi ternyata tidak. Bagi non-muslim juga diperkenankan ikut jika menginginkan, jadi mereka bisa mengetahui tentang puasa Ramadan dan kegiatan berbuka puasa yang sedang dijalani umat Islam. Selama mengikuti acara ini saya terharu sekali. tidak menyangka alunan nasyid, shalawat dan adzan bisa berkumandang di jantung kota Kopenhagen.

Tahun ini saya tidak bisa menghadiri acara buka puasa di Rådhuspladsen sebab di hari yang sama, 1 Juni 2019, KBRI Kopenhagen mengadakan Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila sekaligus buka puasa bersama. Buka puasa Rådhuspladsen memang berkesan, tetapi berbuka bersama dengan saudara-saudara “sekampung halaman” dengan menu khas Indonesia lebih menarik bagi saya. Pada 1 Juni lalu, selepas upacara dan pemutaran video tentang Pembangunan Indonesia, KBRI menyiapkan menu Nasi Kapau Pariaman komplit yang super lezat untuk berbuka puasa. Sama seperti buka bersama di Rådhuspladsen, buka puasa di KBRI tidak hanya dihadiri oleh umat muslim tetapi juga non-muslim. Kebersamaan ini terasa sangat indah bagi saya.

Oiya, KBRI Kopenhagen dibawah pimpinan Bapak Duta Besar M. Ibnu Said, selama ini selalu mewadahi berbagai kegiatan warga Indonesia, termasuk kegiatan selama bulan Ramadan 1440 H. Minggu lalu misalnya, KBRI Kopenhagen berkenan menjadi host dan men-support acara pesantren kilat (sanlat) anak dan remaja yang diadakan oleh IMSD (Indonesian Muslim Society in Denmark), kebetulan saya ketua panitia-nya.

Sanlat anak dan remaja diadakan pada 25 Mei 2019 lalu menambah barisan memory yang berkesan bagi saya selama menjalani Ramadan di Kopenhagen. Pada awalnya saya sempat ragu saat di-amanahi sebagai ketua panitia untuk kegiatan ini. Sebab, selain karena merasa tidak cukup cakap dalam ilmu agama, ada beberapa tantangan yang terlihat di depan mata. Pertama, jumlah warga Indonesia yang muslim di Denmark tidak banyak. Selain itu ada kendala jarak dan bahasa juga. Disini rata-rata anak lebih paham bahasa Danish dan Inggris. Hanya sebagian anak yang fasih bahasa Indonesia.

Pesantren Kilat (Sanlat) diadakan bagi anak-anak muslim untuk meningkatkan wawasan keislaman.

Alhamdulillah berkat dukungan berbagai pihak acara sanlat anak dan remaja ini berjalan lancar. Total ada 37 peserta yang mengikuti acara ini. Tidak hanya warga Negara Indonesia, ada juga warga Negara Singapura yang turut serta. Peserta juga tidak hanya datang dari Denmark tetapi ada beberapa yang datang jauh-jauh dari Negara tetangga, Swedia. Untuk memastikan semua anak paham dengan materi yang disampaikan, setiap acara kami kemas dalam 3 bahasa: bahasa Danish, Inggris dan Indonesia. Rundown kegiatan juga kami susun sedemikian rupa agar semua peserta tidak bosan hingga akhir acara.

Beberapa kegiatan yang kami usung diantaranya, tadarus, story telling dan nonton film bareng tentang kisah dalam surat Al-Fill, Al-Qadr & Al Buruj. Tidak lupa kami sisipkan outdoor activity dan sesi kreativitas. Di sekolah Denmark, outdoor activity dan kegiatan berbasis kreativitas semacam menjadi agenda wajib bagi para siswa. Siswa tidak melulu duduk manis untuk menerima pelajaran tetapi juga diberi kesempatan yang sangat luas untuk bergerak dan mengekspresikan dirinya. Kami pun berusaha menyesuaiakan kegiatan sanlat dengan kebiasaan ini. Menurut saya pribadi, hal ini memang terbukti ampuh membuat anak selalu segar dan menjadi enjoy mengikuti rangkaian kegiatan.

Outdoor activity pada acara sanlat lalu diisi dengan berbagai games yang melatih kekompakan kelompok, sementara sesi kreativitas diisi dengan membuat jajanan takjil yang nantinya akan mereka akan makan sendiri. Peserta perempuan bertugas membuat bola-bola coklat, peserta laki-laki kebagian membuat sate buah. Acara diakhiri dengan penampilan dari para peserta serta pembagian hadiah dan sertifikat dari panitia. Meski semula sempat ragu menghandle acara ini, pada akhirnya saya bersyukur sekali bisa berkesempatan mengisi Ramadan kali ini dengan kegiatan yang positif. Bersyukur bisa melihat anak-anak antusias belajar agama bersama.

Suasana berbuka puasa yang hangat dan kekeluargaan.

Salah satu pengalaman lain yang berkesan bagi saya selama Ramadan di perantauan adalah melihat masjid yang selalu penuh. Kebetulan apartemen saya berada tidak jauh dari Grand Mosque Khair Al Bariya atau juga dikenal dengan Hamad Bin Khalifa Civilisation Center (HBKCC). Masjid yang didirikan pada 2014 ini adalah masjid pertama yang dibangun di Denmark dan merupakan salah satu masjid terbesar di Eropa.
Saya selalu merinding melihat masjid ini selalu penuh saat waktu sholat tiba. Tidak hanya deretan jamaah laki-laki, barisan jamaah perempuan juga hampir selalu full khususnya saat sholat jumat maupun tarawih diadakan. Merinding karena tentunya tidak seperti di Indonesia yang memiliki banyak masjid, disini butuh effort khusus untuk datang ke masjid.

Saya yakin sebagian dari para jamaah tinggal cukup jauh. Beberapa teman saya misalnya, harus menempuh 30 menit bahkan lebih untuk bisa beribadah disini. Belum lagi cuaca yang kerap berubah. Pada Ramadan kali ini misalnya, meski harusnya sudah masuk musim semi namun hujan, angin, maupun dingin yang menusuk masih sering mewarnai. Lebih-lebih di malam hari saat masuk waktu sholat maghrib maupun tarawih. Tarawih disini baru dimulai sekitar pukul 23.15 CET dan luar biasanya walau dengan berbagai tantangan yang saya sebutkan sebelumnya, tidak menurunkan semangat para muslim disini untuk berbondong-bondong ke masjid. Sungguh hal ini membuat saya jadi malu jika tidak menyempatkan diri ikut meramaikan masjid terlebih apartemen saya termasuk dekat dengan masjid. Sekitar 9 menit berjalan kaki atau 3 menit bersepeda.

Di 10 hari terakhir Ramadan, masjid Khair Al Bariya semakin penuh. Bahkan anak-anak pun banyak terlihat ikut datang bersama orang tuanya. Di masjid ini, orang tua bisa khusyuk beribadah tanpa khawatir mengenai anak-anaknya. Ada playground yang disediakan khusus untuk anak di lantai 2. Jadi anak-anak, termasuk Alya-Noura anak saya, pun sangat semangat dan senang tiap kali diajak ke masjid.

Selain fasilitas playground, masjid ini juga memiliki restoran dimana restoran ini menyediakan sahur gratis bagi jamaah yang iktikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Meski gratis, menunya lengkap sekali, mulai roti, salad, nasi, berbagai lauk-pauk, jus, susu, buah dan sebagainya. Sang owner yang merupakan orang asli Maroko tampak selalu hadir disana. Ia selalu tersenyum dan melayani dengan tulus para jamaah yang datang ke restorannya.

Kembali ke soal durasi waktu puasa yang lama, saat iktikaf saya baru menyadari bahwa ada keuntungan yang bisa saya rasakan dari durasi puasa yang super panjang ini. Aktivitas iktikaf disini jadi terasa lebih ringan karena jauh lebih pendek waktunya ketimbang di Indonesia. Biasanya shalat tarawih berakhir pukul 01.00 CET, pukul 01.30 CET restoran masjid sudah mulai buka sehingga sudah bisa mulai sahur, kemudian pukul 02.45 CET sudah adzan subuh. Hal ini membuat saya semakin paham, bahwa Allah telah menakar segala sesuatu tepat sesuai kebutuhan umat-Nya. Bahwa dibalik segala kesulitan ada kemudahan juga.

Hari ini adalah hari terakhir kami berpuasa di Denmark. Berdasarkan informasi dari Islamic Center Kopenhagen, 1 Syawal 1440 H akan jatuh pada 4 Juni 2019. Saya pun hanya bisa berdoa semoga Ramadan ini bukan Ramadan terakhir bagi saya. Semoga Allah memampukan untuk beribadah lebih banyak dan lebih khusyuk di Ramadan-Ramadan berikutnya. Namun, naudzubillah, jika tahun ini adalah kesempatan terakhir saya, doa saya semoga Allah mengampuni segala dosa saya, menerima segala amal saya dan menyempurnakan apa-apa yang kurang dari ibadah saya.[*]

*) Warga Muhammadiyah dan Kontributor KLIKMU.CO tinggal di Kopenhagen, Denmark.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here