Refleksi Akhir Tahun 2019 #1: Masih Adakah Keinsyafan Politik dan Kesantunan Public?

0
330
Foto diambil dari MerahPutih

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Tahun 2019 sedang berlalu meninggalkan kita, dan selamat datang tahun baru 2020.
Masyarakat kita sekarang ini sedang melakoni proses perubahan di berbagai bidang, kultur, mind-set, termasuk cara pandang mereka terhadap agama. Keseharian dunia kita sekarang ini memasuki era Millenial yang salah satu indicatornya adalah segala perangkat pemenuhan kebutuhan hidup menjadi serba digital-elektris, serba praktis dan adanya kecenderungan menyelesaikan persoalan secara cepat, tidak pakai prosedur berbelit, tidak pakai jalan berliku, tidak pakai mahal, dan tentu saja tidak pakai lama.

Pada saat yang sama, anak-anak muda kita yang lebih popular disebut “anak-anak Millenial” masih asyik menyimak drama politik yang diperankan oleh para actor senior mereka (orang tua/ tokoh mereka). Lakon drama tersebut memamerkan “ketololan” yang diakibatkan dari berbagai “penyakit” anak bangsa di negeri khatulistiwa yang gemah ripah loh jinawi ini.

Penyakit ketololan yang kini menjangkiti bangsa Indonesia adalah persoalan mental rendah sebagian politikus, arogansi dalam persidangan oleh anggota dewan, pernyataan para birokrat yang miskin gagasan dan cita-cita, pejabat pengambil kebijakan yang miskin inovasi, berkobarnya ego-sentris aktor politik, tindakan politik berdasarkan mental uang, dan pembelaan politik berdasarkan mental suap. Inilah sebagian penyakit kronis anak bangsa kita saat ini.

Syarat diakuinya eksistensi suatu negara, salah satunya adalah adanya pemerintah. Pemerintah merupakan pihak yang memegang mandat rakyat untuk membawa perjalanan bangsa. Kalau pemerintahnya sudah terpenuhi, maka perkara selanjutnya yang harus dilihat adalah kualitas dan kapabilitas pemerintah. Pemerintah itulah pelaku/aktor politik aktif.

Kalau saja para pelaku pemerintahan saat ini mengambil jalan keinsyafan politik, getaran masa depan bangsa dapat terasa perlahan, masa depan bangsa yang bukan saja persoalan pembangunan infrastruktur, tetapi juga kualitas SDM-nya, maka insyaallah kita masih punya harapan masa depan bangsa ini lebih baik.

Ironis!!! Drama ketololan ini masih berlangsung, dan ditonton secara serius oleh anak-anak millenial kita. Tontonan konyol itu disimak secara saksama oleh generasi Millenial. Jika hal ini berlangsung terus maka tidak tertutup kemungkinan generasi millennial akan secara otomatis mewarisi ketololan para seniornya. Maka jangan heran jika ke depan generasi millennial ini nanti menjadi pemimpin bangsa dengan menunjukkan “GEN” warisan ketololan para orang tuanya, Na’udzu billahi min dzalik.

Akhirnya, kita sebagai bangsa harus bersyukur sekaligus bermuhasabah, kita semua sebagai anak bangsa, terutama pelaku-pelaku kebijakan dan actor politik bangsa saat ini. Kegaduhan politik yang terjadi belakangan ini, para pejabat publik yang terjerat kasus karupsi dan suap, suasana parlemen yang lepas dari pondasi kejujuran intelektualitas, dan sikap hukum yang lepas dari landasan keadilan, mudah-mudahan berangsur insyaf dan segera memperbaiki diri. Semuanya itu menjadi bahan muhasabah kita. Tidakkah disaksikan betapa malunya kita apabila menjadi pelaku politik tetapi tidak sedang berada di jalan panjang atas usaha cita-cita kemerdekaan bangsa yang bernama Indonesia. Pertanyaannya adalah, masih adakah keinsyafan politik dan kesantunan public?

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here