Refleksi Akhir Tahun 2019 #2: Menelisik Jejak-Jejak Mutiara Berkarat.

0
396
Foto diambil dari Tribun Jambi-TribunNews,com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Segera kita tinggalkan tahun 2019 dengan aneka pengalaman kehidupan, serta warna-warni perasaan baik suka maupun duka. Segera datang tahun baru 2020 dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi dan menimpa diri, keluarga, dan masyarakat kita.
Hidup di dunia yang serba pragmatis seperti sekarang ini, maunya yang serba instan, mudah, tidak repot dan cepat bisa dinikmati. Untuk menggapai pola kehidupan seperti itu diperlukan kesungguhan, keberanian, dan kalau perlu mencari jalan pintas agar cepat tercapai. Manusia hidup zaman sekarang diliputi kesibukan yang luar biasa. Manusia hidup layaknya robot yang serba mekanik, sehingga praktis tersandra oleh sebuah aplikasi kehidupan terstruktur yang sistematis.

Dari hari ke hari selalu dipasang target kinerja, dan jika tak terpenuhi targetnya akan terkena pinalti yang amat merugikan. Dari target ke target berikutnya inilah yang sering mengharuskan seseorang mencari jalan pintas dan tidak peduli lagi benar atau salah, jalan lurus atau bengkok, halal atau haram, terpuji atau tercela, amanah atau khianah.

Kebenaran, kejujuran, amanah, jalan lurus, telah menjadi barang langka, ibarat “mutiara tak bermutu”, tertutup karat dan lumpur keserakahan. Berbicara tentang kejujuran dianggap jadul, bicara kebenaran dianggap primitive. Hari gini kok masih bicara halal dan haram? Yaa Nggak laku-lah. Orang mencari rezeki yang haram aja susah, apalagi yang halal. Seorang pribadi idealis mestinya harus masuk museum, menjadi barang aneh.

Saudaraku yang masih punya hati Nurani, Rasulullah saw ternyata membenarkan fenomena tersebut, yakni benda “kebenaran” benar-benar barang langka, berikut sabdanya :

بدأ الإسلام غريبًا وسيعود غريبًا كما بدأ فطوبى للغرباء، قيل يا رسول الله من الغرباء؟ قال: الذين يصلحون إذا فسد الناس
Artinya: Islam ini diawali dengan keterasingan, dan nantinya akan menjadi asing kembali seperti di awalnya. Maka beruntunglah bagi orang-orang asing itu. Nabi ditanya “siapakah orang asing itu?” Nabi menjawab: yaitu orang-orang yang tetap dalam kebenaran di saat manusia lain dalam kesesatan. (HR. al-Bazzar).

Banyak orang terperangkap dalam sebuah system kehidupan, mau tidak mau harus mengikuti system itu, kalau dia tidak mau akan tersungkur dan tersingkir dengan sendirinya. Sebagai anggota sebuah kaomunitas atau Lembaga swasta maupun negara, jika mayoritas menghendaki “jalan pintas” lalu ada satu atau dua orang tidak mengikuti “jalan pintas” tersebut maka akan dianggap melawan mayoritas, sehingga penentang mayoritas adalah kelompok terasing.

Kelompok asing atau terasing akan semakin redup dan hilang cahayanya, tidak dihitung suaranya, dan “tidak direken” ocehannya. Para minoritas ini bagaikan Mutiara yang kehilangan aura, kehadirannya tidak menggenapkan dan absennya-pun tidak mengganjilkan. Betul-betul asing dan terasing.

Tetapi, dalam perspektif profetik, justru beruntunglah (selamatlah) bagi para pribadi asing dan terasing ini. Sesuai janji Rasulullah saw bahwa keberuntungan orang asing dan terasing ini lantaran sikapnya yang tetap memegangi kebenaran di saat yang lain bergelimang di lembah kenistaan.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here