Refleksi Akhir Tahun 2019 #3: Membangun Karakter Anak Bangsa yang Sedang Sakit

0
466
Forto diambil dari PKBM Daring

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Selama setahun (2019) ini, kita lalui dengan aneka episode kehidupan. Kadangkala menggembirakan, tetapi kadangkala juga menyedihkan, memprihatinkan. Semoga di tahun 2020 ini kita memasuki lembaran baru dan menorehkan goresan-goresan kegembiraan, kesantunan, dan teladan yang baik.

Salah satu sisi yang menyedihkan adalah terasa benar bahwa sebagian anak bangsa ini sedang mengalami sakit. Iya “Sakit”, yakni sakit jiwanya, sakit ruhaninya, rabun matahatinya. Banyak indikasinya, antara lain kecemburuan social mengakibatkan tindakan anarkhis, keputus asaan mengakibatkan patah semangat dan bunuh diri, hilangnya “teposliro” mengakibatkan rela menyakiti teman sendiri, hilangnya egalitarianism mengakibatkan munculnya semangat individualistis/ ananiyah, hilangnya kewajiban menutup aib sesama mengakibatkan rela menggunjing menfitnah bahkan menviralkan kesalahan orang lain.

Sungguh membangun karakter bangsa yang sedang sakit ini tidak mudah. Menyuguhkan sebuah keteladanan hidup di dunia yang serba praksis hedonis tidaklah semudah membalik telapak tangan. Menutupi aib saudara sendiri agar tidak kehilangan muka juga bukan pekerjaan mudah, padahal itu tuntunan agama Islam yang sering dicontohkan oleh Rasulullah saw sendiri.

Suatu hari Nabi Muhammad saw, sedang duduk-duduk dengan para sahabatnya menunggu saat shalat tiba. Ada salah satu Sahabatnya yang baru saja pulang dari pesta makan daging, maka terciumlah bau yang tak sedap dalam majelis itu.
Rasulullah saw menyadari bahwa bau-bauan itu disebabkan oleh uap napas seseorang akibat makan daging yg berlebihan. Rasulullah saw juga menyadari bahwa orang yang bersangkutan ada dalam kedudukan sulit sekali. Para sahabat tentulah sudah berwudhu semua. Karena sebentar lagi akan shalat berjamaah. Kalau orang yang berbau kurang sedap itu beranjak seorang diri pergi berwudhu’, ketahuanlah dia sumber bau tak sedap itu. Tentu dia bisa jadi malu dan gelisah. Rasulullah saw menginginkan agar pelaku yang sebenarnya merasakan pahit getir kesalahannya itu, tanpa diketahui oleh banyak orang. Rasulullah saw, mencari cara bagaimana bau kurang sedap ini bisa hilang tapi, tanpa menyinggung perasaan sahabat yang bersangkutan.

Maka Rasulullah saw pun, melepaskan pandangannya kepada semua yang hadir, seraya memerintahkan : “Siapa yang makan daging tadi hendaknya berwudhu!” para sahabat-pun menjawab kami semuanya telah memakan daging ya, Rasulullah!. Lalu beliau bersabda : “Kalau begitu, berwudhulah kalian semua, mereka pun bangkit semua pergi berwudhu. Termasuk orang yang merupakan sumber datangnya bau tidak sedap itu. Orang ini telah diselamatkan “muka”-nya dari rasa malu, berkat kecerdikan dan kelembutan Rasulullah saw.

Demikianlah keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad saw, memperhitungkan tindakan sampai sekecil-kecilnya pun agar tidak melukai perasaan orang dan kehormatan orang lain, kita diingatkan oleh Rasulullah saw :
إِذَا أَرَدْتَ أن تَذْكُرَ عُيُـوبَ غَـيْرِكَ فَاذْكُـرْ عُـيُـوبَ نَـفْـسِكَ
Artinya: Jika engkau ingin menyebut aib seseorang, maka ingatlah lebih dulu aib-mu sendiri.

Maksudnya, akan lebih afdhol kita sibuk mengurusi aib diri sendiri, sehingga kita bisa melakukan muhasabah untuk memperbaiki diri sendiri. Dengan begitu tidak akan ada waktu lagi untuk membicarakan apa lagi menggunjing tentang aib seseorang.

Selamat memasuki tahun baru 2020, semoga keteladanan menjadi pembelajaran yang baik dan menjadi bagian dari saham kita membangun karakter anak bangsa ini, amin.

* Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here