Refleksi Hari Disabilitas: Agar Penyandang Difabel Bisa Eksis di Masyarakat

0
226
Foto dari Okezone News

Oleh: Fikri Fachrudin *)

KLIKMU.CO

Setiap tanggal 3 Desember diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasional (HDI). Pada tahun ini Kementerian Sosial mengusung tema “Not All Disabilities Are Visible”. Tema itu diangkat supaya tidak ada lagi diskriminasi terhadap penyandang difabel karena ketidaktahuan masyarakat tentang kondisi mereka.

Salah satu hal yang dibahas dalam Munas Ke-31 Majelis Tarjih Muhammadiyah adalah fikih difabel. Hal itu menunjukkan bahwa problematika penyandang difabel perlu dibahas dan diberi solusi. Tidak hanya oleh Muhammadiyah, tetapi semua elemen masyarakat yang peduli terhadap kesejahteraan penyandang difabel perlu bahkan harus melakukannya.

Pada tulisan ini saya akan lebih menggunakan istilah “difabel” daripada “disabilitas”. Hal itu dikarenakan istilah difabel memiliki bentuk yang lebih halus untuk menggambarkan kondisi penyandang disabilitas. Tema HDI 2020 di Indonesia bermakna tidak semua difabel terlihat. Di sisi lain, tidak dimungkiri bahwa ada penyandang difabel yang sudah sangat jelas terlihat kondisinya, tetapi “tidak terlihat” oleh masyarakat. Potensi dan bakat yang dimilikinya tidak tampak, tertutup oleh kondisinya. Padahal, orang-orang tersebut pasti memiliki bakat dan potensi yang bisa dikembangkan. Semua orang pasti memiliki bakat dan potensi masing-masing.

Setidaknya ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut. Pertama, pemberian motivasi kepada mereka. Peran orang-orang terdekat seperti keluarga dan sahabat sangatlah penting dalam hal ini. Hal itu dilakukan supaya mereka tidak minder. Mereka bisa percaya diri dalam menunjukkan potensi dan bakatnya.

Dalam buku “Tips Berpikir Positif; 101 Cara Berpikir tentang Kehidupan” karya Ahmad Mufid, pada halaman 50 disebutkan bahwa bila pikiran seseorang dipenuhi hal-hal positif, pikiran-pikiran positif tersebut akan mendorongnya melakukan tindakan-tindakan positif. Pemberian motivasi tentu berdampak langsung terhadap berubahnya pikiran seseorang menjadi positif.

Hal kedua yang bisa dilakukan adalah memperbanyak relasi atau jaringan. Memiliki banyak relasi tentu sangatlah bermanfaat. Aldilla Dharma dalam bukunya yang berjudul “Jangan Takut Gagal” halaman 168 memaparkan pentingnya jaringan. Semakin banyak teman, semakin besar jaringan yang dimiliki. Semakin banyak peluang untuk menerima kebaikan, akan semakin besar pula peluang untuk mendapatkan kemudahan. Jaringan adalah modal utama dalam mengarungi hidup ini. Berkaca dari hal tersebut, penyandang difabel harus mencari jaringan yang luas, baik secara mandiri atau dibantu orang-orang terdekat.

Hal ketiga yang dapat dilakukan ialah melakukan pelatihan dan pendampingan bagi penyandang difabel. Dua hal tersebut bisa membuat penyandang difabel semakin terlatih sehingga siap mengarungi kehidupan. Mereka pun juga perlu diberi peran untuk aktualisasi diri sehingga bakat dan potensinya teraktualisasikan. Selain itu, hak-hak mereka yang terdiskriminasi juga bisa teratasi. Dalam hal ini, selain pemerintah, perlu peran organisasi di masyarakat, termasuk Muhammadiyah.

Dalam buku “Membaca Muhammadiyah; Refleksi Kritis Anak Muda Lintas Isu” halaman 31 dan 32, Satria Unggul Wicaksana menyatakan bahwa keberpihakan Muhammadiyah terhadap mereka yang fakir jasmani perlu diperluas dengan cara memberikan pembelaan HAM. Selain itu, memasuki abad kedua Muhammadiyah, tersedia lahan strategis dakwah untuk mengaplikasikan tauhid sosial, yaitu melalui keberpihakan kepada kaum minoritas, penyandang difabel.

Hal terakhir atau keempat yang bisa dilakukan adalah memublikasikan di media massa dan media sosial bagi penyandang difabel yang berprestasi atau inspiratif. Dengan begitu, masyarakat akan semakin bisa mengerti dan termotivasi bahwa setiap orang bisa sukses, termasuk penyandang difabel. Di sisi lain, secara tidak langsung pemublikasian tersebut berpotensi memperluas relasi karena semakin dikenal.

Baru-baru ini ada seorang penyandang difabel tunadaksa yang berhasil meraih gelar sarjana hukum di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Dialah Abdul Halim. Di tengah keterbatasannya, penerima beasiswa difabel pertama UM Surabaya ini bisa menunjukkan bahwa penyandang difabel pun bisa sukses. Berita tentangnya dimuat di sejumlah portal daring. Melalui kanal YouTube UM Surabaya, ia berpesan jangan menyerah meskipun keadaan tidak memungkinkan. Kalau ada niat dan tekad yang besar, insyaallah, bismillah, pasti bisa.

Akhirnya, masih banyak lahan dakwah sosial yang bisa diolah untuk kemaslahatan umat. Semoga para penyandang difabel bisa sejahtera berkat usaha elemen-elemen masyarakat yang peduli. Semoga para penyandang difabel juga bisa berkontribusi untuk agama dan bangsa. Selamat memperingati Hari Disabilitas Internasional. (*)

*) Penyandang tunadaksa brakidaktili, alumnus Pascasarjana UM Surabaya, guru SMP Muhammadiyah 11 Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here