Refleksi Milad 56 Tahun: IMM sebagai Basis Pergerakan Intelektual

0
171

 

Oleh: Nurbani Yusuf

Eks aktivis IMM Komisariat Raushan Fikr Universitas Muhammadiyah Malang

KLIKMU.CO

Sejak awal berdiri, Muhammadiyah ditabalkan bukan saja sebagai gerakan amal, tapi yang lebih substantif adalah gerakan pemikiran atau state of mind — tulis Alfian Ketua LIPI dalam sebuah makalah tentang Islam dan Perubahan Sosial. IMM punya peran strategis membangun karakter dan arah intelektual ke depan.

Prof Nakamura menyatakan bahwa yang menarik dari Muhammadiyah bukan dari banyaknya amal usaha, tapi mindstream tentang kebaruan pemikiran yang mendahului kenapa sebuah amal usaha harus berdiri—kenapa membangun sekolah modern, rumah sakit, atau universitas? Kenapa di sekolah sekolah Muhammadiyah mengajarkan ilmu ilmu sekuler?
Inilah pikiran maju, yang Gus Dur dengan keteguhan menyebut kemenangan dialektik Muhammadiyah atas NU. Sebab itu kehebatan Muhammadiyah tidak dicirikan dengan banyaknya massa.

Tesis Kiai Dahlan bahwa takhayul, bidah, dan khurafat akan menghilang seiring dengan tingkat pendidikan seseorang—pendidikan akan dapat mengangkat harkat, mengubah tradisi pola pikir dan pola tindak.

Pilihan ini diambil Kiai Dahlan untuk
mewujudkan gagasan tajdidnya
—terkoneksi dengan pikiran Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Rasyid Ridha muridnya— tentang kemulian ajaran Islam yang tertutup karena kebodohan umatnya—al Islamu mahjuubun bil muslimiin. Maka Kiai Dahlan merancang strategi pencerdasan sebagai langkah awal mengurai benang kusut kemunduran umat Islam.

Dalam konteks ini, tidak berlebihan bila Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) menempati posisi urgen dan strategis, yaitu merawat intelektualitas dan kebaharuan pemikiran. Pilihan ini diambil sebagai ikhtiar balancing antara glamour berdirinya berbagai amal usaha di satu sisi dan kekuatan pikiran dalam bentuk pikiran maju sebagai roh pergerakan pada sisi yang lain. Ibarat sebuah mata uang.

Kekuatan Muhammadiyah sebagai gerakan amal dan gerakan pemikiran adalah realitas. Roh dan sumber etik—darinya arah pergerakan bersumber sebagai sumbu kekuatan. Sudah sepatutnya tidak saling menafikan, tapi bergerak sinergis saling menggenapi.

Bersyukur posisi intelektualitas kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dengan tidak menyebut nama sangat menjanjikan. Ada harapan baik yang membanggakan. Sekaligus menyenangkan karena di saat kader-kader yang lain terjebak praktik politik praktis, IMM terbukti ‘belum tergoda’ dan istiqamah di jalan ilmu.

Ke depan, saya pikir IMM akan semakin kokoh di tengah perubahan: mengisi ruang kosong tradisi intelektual yang ditinggalkan sebagai padanan pergerakan. Urgen dan strategis. “Percayalah, intelektual tak pernah kalah betapapun dimarginalkan atau diasingkan di tempat paling sepi sekalipun,” tulis Thaha Husein. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here