Refleksi Milad Ke-56 IMM: Menyemai Kembali Rantai Ikatan

0
386

 

Oleh: Wahyu Hendra
Ketua umum IMM Komisariat Raushan Fikr UMM

KLIKMU.CO

Sudah setengah abad lebih, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) turut memberikan warna-warni akan dinamika perkembangan zaman. Usia ke-56 tentu bukanlah usia yang muda. Pun, tidak meniscayakan bahwa IMM berada di ujung senja. Artinya, IMM akan tetap hidup dan menjadi kesatuan organik mengiringi setiap dinamika kehidupan.

Secara ontologi atau hakikat, IMM bukanlah suatu organisasi yang tiba-tiba muncul begitu saja. Sebagai ortom Muhammadiyah yang bergerak di ranah mahasiswa, sesungguhnya berdirinya IMM didasari oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal berkaitan dengan Muhammadiyah, khususnya kondisi angkatan muda atau mahasiswa itu sendiri.

Dalam faktor internal, angkatan muda mengalami kebimbangan akan posisi perjuangannya karena tidak ada wadah yang menaunginya. Sehingga adanya IMM merupakan sebuah reposisi baru yang menjadi nomenklatur sebagai wadah perjuangan dan transformasi ideologi Muhammadiyah. Faktor eksternal berkaitan dengan kondisi umat Islam dan kondisi kebangsaan saat itu.

Sebagai ortom Muhammadiyah yang bergerak sebagai eksponen mahasiswa, sejatinya tujuan IMM adalah sebagai tangan kanan untuk membantu mewujudkan tujuan Muhammadiyah. Namun dalam praksisnya, ada sebuah nilai dan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh setiap kader sebagai landasan dalam perjuangan. Kompetensi tersebut meliputi intelektualitas, humanitas, dan religiusitas.

Dalam buku yang berjudul Tri Kompetensi Dasar (2007), di bagian prolog Ahmad Syafi’i Maarif menegaskan bahwa tri kompetensi dasar jangan hanya dipajang di dinding atau tercatat dalam buku harian, tetapi dihayati secara sungguh-sungguh dan dalam, kemudian digumulkan dengan pergaulan yang hampir tanpa batas itu. Dengan cara ini, siapa tahu tiga kekuatan itu akan bermuara ke tepian kearifan.

Sejarah dan nilai-nilai yang terkandung di dalam tubuh IMM tentu tidak akan berubah dari masa ke masa. Tetapi yang menjadi catatan penting di dalam sebuah perjuangan adalah setiap era memiliki tantangan dan dinamika yang berbeda. Sebab, kita tidak bisa menegasikan bahwa organisasi kaderisasi senantiasa memiliki wajah baru yang melanjutkan estafet perjuangan. Oleh sebab itu, dalam membaca poros perkaderan, harus kita benturkan dengan zaman yang ada.

Generasi Strawberry dan Tantangan Perkaderan
Memang sangat sulit menemukan istilah yang cocok dalam mendefinisikan zaman ini. Mungkin saya sedikit meminjam terminologi yang dipakai Rhenald Kasali dalam membaca kondisi anak muda saat ini. Menurut Kasali, dalam buku Strawberry Generation, anak muda sekarang itu diberi nama generasi strawberry.

Secara fisik, strawberry itu memiliki bentuk yang indah nan menawan. Namun di balik itu, strawberry ternyata begitu mudah rapuh karena teksturnya begitu lembut. Jika dianalogikan, generasi saat ini sangat mudah hancur dan sakit hati. Bahkan generasi yang lebih tua menyebut generasi muda saat ini sebagai generasi yang mudah kecewa.

Ini sangat relevan dalam mendefinisikan kondisi kader saat ini. Sejauh saya berproses di IMM, tidak sedikit kader yang memilih untuk mundur dalam melanjutkan perjuangannya di ikatan. Hal tersebut kebanyakan disebabkan oleh rasa kecewa dan sakit hati akibat tidak kuat menghadapi kritikan maupun gemblengan yang diberikan oleh kader di atasnya -sering disebut senior.

Padahal kalau dicermati, tujuan adanya sebuah kritikan dan gemblengan adalah dalam rangka sebuah perbaikan. Oleh karena itu, diperlukan respons yang profesional dan tidak terlalu reaktif dalam menyikapi setiap kritik yang ada. Jadikan sebuah kritikan sebagai bentuk refleksi dan argumentatif yang penuh kebermaknaan. Jangan sampai kader IMM melayang karena pujian dan jatuh karena kritikan.

Ini adalah tugas kita bersama untuk tetap menjaga keutuhan ikatan agar proses perkaderan dan transformasi nilai-nilai tetap berjalan. Harus kita akui bersama bahwa setiap era memiliki tantangan perkaderan yang berbeda. Sebagai organisasi yang mengilhami pembaruan, jangan sampai kita terjebak dalam romantisme sejarah. Artinya, pembaruan dalam pola dan strategi perkaderan harus dilakukan dan diintegrasikan dengan zaman yang ada.

Perkaderan Transformatif
Selayang pandang tentang usia IMM yang ke-56 harus menjadi titik balik dalam menyemai kembali rantai ikatan agar tetap utuh. Agar nilai-nilai ikatan tidak terdistraksi dan terkotak-kotak dalam perkembangan zaman yang begitu cepat, IMM dituntut untuk melakukan reformulasi dalam proses tranformasi.

Ada beberapa fokus yang penulis tawarkan dalam konteks ini. Fokus pertama sebagai gerakan dakwah keagamaan yang menuntut kader IMM mampu mereposisi berbagai aktivitas keagamaan. Kader IMM harus tetap memiliki eksistensi dan menemukan jalan alternatif di tengah gerakan dakwah yang semakin ekstrem dan penuh ketegangan, baik di kampus maupun masyarakat luas.

Fokus kedua adalah sebagai gerakan intelektual. Sebagai akademisi yang berakhlak mulia, kiranya menjadi penting, di mana poros intelektual kader IMM dibangun dengan bingkai profetis dan praksis sosial yang nyata. Format gerakan intelektual harus benar-benar merespons kebutuhan riil ikatan dan masyarakaat. Maka dari itu, pembentukan intellectual base association menjadi penting dengan dipadu budaya ilmiah: membaca, berdiskusi, menulis.

Fokus ketiga sebagai gerakan sosial. Sebagai mahasiswa yang memiliki basis intelektual yang kuat, kader IMM harus responsif dalam membaca dan mengambil sikap terkait kondisi sosial yang ada. Gerakan sosial harus didasari dengan kesadaran kritis dan keberpihakan akan nilai-nilai kemanusiaan.

Akhirnya, sampai pada kesimpulan bahwa dengan ketiga fokus itulah saya rasa memungkinkan dalam proses perkaderan yang lebih transformatif. Meskipun tantangan perkaderan selalu berbeda dalam setiap zamannya, bukan berarti nilai-nilai ikatan dinegasikan. Nilai-nilai harus tetap ditransformasikan dengan pola-strategi yang terbaru dan terpola.

Dengan segala kerendahan hati, izinkan saya mengucapkan Selamat Milad Ke-56 IMM. Panjang umur, Ikatan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here