Relawan Mahasiswa Muhammadiyah Terjun ke Lokasi Gempa Malang Selatan

0
138
Tim Maharesigana UMM saat berbincang dengan korban gempa di Desa Pamotan, Dampit, Malang. (Wildan/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Gempa yang terjadi beberapa hari lalu menyisakan berbagai dampak memilukan. Sejumlah bangunan dan rumah roboh di beberapa daerah. Mengetahui hal itu, aksi tanggap diperlihatkan oleh Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM. Mereka berangkat menuju lokasi terdampak gempa yang berada di Malang, tepatnya di Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Malang, pada Selasa (13/4).

Alya Dinia Asyfiqi Masykur, ketua Maharesigana UMM, menjelaskan bahwa keberangkatan mereka merupakan hasil koordinasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Malang. Selain Maharesigana, ada pula tim medis dari Fakultas Kedokteran UMM serta tim Rumah Sakit Aisyiyah.

“Kami semua berada di bawah koordinasi MDMC Kabupaten Malang. Demi membantu sesama, kami saling bahu-membahu sebagai bentuk bantuan kemanusiaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Alya menjelaskan bahwa Maharesigana telah mendirikan pos koordinasi yang berpusat di kampus UMM. Tepatnya di Pusat Studi Kewilayahan, Kependudukan, dan Penanggulangan Bencana (Puska-PB) UMM. Kemudian mereka segera melakukan asesmen untuk menemukan daerah yang paling terdampak gempa bumi yang telah terjadi. Akhirnya, Maharesigana mendirikan posko layanan yang berada di Desa Pamotan, Kecamatan Dampit.

“Ada dua posko layanan yang kami sediakan. Keduanya adalah posko kesehatan dan posko psikososial yang diharapkan bisa membantu warga sekitar,” jelas mahasiswa Pendidikan Agama Islam UMM tersebut.

Alya kembali menambahkan, Maharesigana rencananya berada di sana selama satu minggu penuh. Meski begitu, jika masih dibutuhkan mereka siap untuk berlanjut dan memberikan manfaat. “Dalam dunia penanggulangan bencana, satu tim harusnya berada di lokasi selama dua minggu. Namun, karena pandemi masih belum membaik, kami akan berganti tim satu minggu sekali. Rencananya akan ada posko lanjutan di daerah-daerah lain,” terangnya.

Menurut Alya, ada dua RT yang sangat terdampak di Desa Pamotan, yakni di RT 3 yang dihuni oleh 22 keluarga. Sembilan rumah di antaranya roboh dan lainnya mengalami retak. Ada pula RT 4 yang terdiri dari 19 keluarga. Dua belas di antaranya rusak parah serta sisanya mengalami kerusakan ringan.

“Melihat realitas itu, kami jadi tergerak untuk terus menebar manfaat dan kebaikan. Sesuai dengan moto kami yakni Bergerak untuk Kemanusiaan, maka membantu masyarakat sekitar adalah sebuah kebahagiaan,” terang mahasiswa asli Batu itu.

Terakhir, ia berharap agar bantuan dan posko yang sudah didirikan bisa membantu para warga yang terdampak. Tidak hanya dari segi fisik saja, namun juga dari aspek psikologis. “Semoga dengan hadirnya kami, mereka bisa menerima kenyataan dan segera bangkit agar bisa hidup seperti sedia kala,” pungkas Alya. (Wildan/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here